Ilustrasi Vitamin B6 (Sumber Foto: Freepik)

Vitamin B6 Bisa Bikin Saraf Rusak? Ini Fakta dan Batas Konsumsi Amannya

25 July 2025   |   19:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Vitamin B6 atau piridoksin, merupakan nutrisi penting yang berperan dalam metabolisme protein, fungsi saraf, serta pembentukan sel darah merah. Banyak orang mengonsumsi suplemen vitamin ini untuk menjaga daya tahan tubuh, meningkatkan energi, atau mendukung fungsi otak.

Namun, meskipun vitamin ini dibutuhkan tubuh setiap hari, konsumsinya tidak boleh berlebihan. Dalam beberapa kasus, penggunaan suplemen B6 tanpa pengawasan dapat menimbulkan efek samping, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dalam jangka panjang.

Baca juga: Kasus Keracunan Suplemen Blackmores di Australia, BPOM Pastikan Produk di Indonesia Aman

Baru-baru ini produsen suplemen, Blackmores, menjadi sorotan setelah muncul dugaan bahwa beberapa produknya seperti Super Magnesium+ dan Ashwagandha+ mengandung vitamin B6 dalam kadar sangat tinggi.

Dugaan ini dikaitkan dengan sejumlah keluhan serius seperti migrain, gangguan penglihatan, hingga gejala neurologis dari konsumen mereka di Australia. Fenomena ini membuat konsumen Blackmores di Indonesia jadi khawatir, mengingat merek suplemen tersebut cukup populer dan banyak dijual bebas di pasaran.

Berdasarkan informasi dari National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, kebutuhan harian vitamin B6 untuk orang dewasa berkisar antara 1,3 hingga 1,7 miligram per hari, tergantung usia dan jenis kelamin. Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh European Food Safety Authority (EFSA), dengan nilai kebutuhan harian sekitar 1,6 hingga 1,7 miligram.

Namun, yang menjadi perhatian adalah batas atas konsumsi (Tolerable Upper Intake Level/UL) vitamin B6 dari suplemen. NIH masih menetapkan batas aman hingga 100 miligram per hari untuk orang dewasa.

Di sisi lain, EFSA pada 2023 justru menurunkan batas tersebut secara signifikan menjadi hanya 12 miligram per hari. Sementara di Inggris, batas yang disarankan bahkan lebih rendah, yaitu 10 miligram per hari. Beberapa negara seperti Australia dan Jepang juga telah menerapkan ambang batas yang lebih konservatif, antara 25 hingga 50 miligram per hari.

Penurunan batas konsumsi ini bukan tanpa alasan. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa konsumsi vitamin B6 dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf, dikenal sebagai neuropati sensorik.

Gejalanya meliputi kesemutan, mati rasa, gangguan keseimbangan, hingga kelemahan otot. Beberapa pasien mengalami gejala ini meski hanya mengonsumsi suplemen dengan dosis 50 miligram per hari selama lebih dari enam bulan.

Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat agar berhati-hati dalam mengonsumsi suplemen vitamin B6, terutama jika tidak disertai anjuran dari tenaga medis. Langkah paling bijak sebelum mulai mengonsumsi suplemen vitamin B6 adalah berkonsultasi dengan dokter atau apoteker. Hal ini penting terutama bagi mereka yang sedang hamil, menyusui, atau mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Vitamin B6 diketahui dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat, seperti levodopa, isoniazid, atau obat antikejang. Konsultasi medis juga membantu memastikan apakah seseorang benar-benar membutuhkan tambahan vitamin B6 atau sudah cukup dari pola makan sehari-hari. Menghindari konsumsinya secara sembarangan dapat meminimalkan risiko efek sampingnya di kemudian hari.

Salah satu risiko utama dari konsumsi vitamin B6 dosis tinggi adalah neuropati sensorik, yakni kerusakan saraf yang dapat menyebabkan mati rasa, kesemutan, atau kelemahan otot. Beberapa kasus menunjukkan bahwa gejala ini dapat muncul setelah konsumsi 50 miligram per hari selama enam bulan berturut-turut. Risiko meningkat jika dosisnya lebih tinggi atau digunakan dalam jangka waktu lebih panjang.

Belum lagi, tidak semua suplemen vitamin B6 memiliki kualitas yang sama. Sebaiknya, pilih produk yang sudah tersertifikasi untuk menjamin bahwa produk mengandung bahan aktif sesuai label dan telah melalui pengujian kontaminasi.

Hindari membeli suplemen dari sumber yang tidak jelas atau produk yang menawarkan “dosis mega” tanpa alasan medis yang kuat. Memilih produk yang aman dan terpercaya adalah langkah penting untuk menghindari risiko keracunan atau konsumsi zat tambahan berbahaya yang tidak tercantum dalam kemasan.

Jika memungkinkan, sebaiknya kebutuhan vitamin B6 dipenuhi dari pola makan yang sehat dan seimbang. Makanan seperti ayam, ikan tuna, hati sapi, kacang-kacangan, pisang, dan bayam merupakan sumber alami B6 yang sangat baik. Selain lebih aman, vitamin dari makanan lebih mudah diserap tubuh dan tidak menimbulkan risiko efek samping seperti suplemen dosis tinggi.

Suplemen sebaiknya menjadi pilihan terakhir, yakni ketika pola makan tidak mencukupi atau ada kondisi medis khusus yang membutuhkan tambahan vitamin. Dengan mengandalkan makanan alami, tubuh tidak hanya mendapatkan B6, tetapi juga serat, mineral, dan antioksidan penting lainnya.

Baca juga: Suplemen & Vitamin yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bersamaan, Cek Bahayanya Bagi Tubuh

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Hulk Hogan Meninggal Dunia Di Usia 71 Tahun, Warisan Hulkmania Akan Terus Hidup

BERIKUTNYA

Monster Rookie F1: Siapa Saja yang Layak Diwaspadai Musim Ini?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga