Ilustrasi ayah dan anak (Sumber gambar: Unsplash)

9 Langkah Awal Menjadi Calon Ayah

25 July 2025   |   14:30 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Ketika dua garis merah muncul di test pack, hidup bisa berubah dalam sekejap. Bagi perempuan, tanda kehamilan biasanya disambut dengan campuran rasa bahagia, gugup, hingga haru. Namun bagi laki-laki, apalagi yang akan menjadi ayah untuk pertama kalinya, momen itu kadang datang bersamaan dengan rasa bingung, harus bagaimana?

Menjadi ayah bukan hanya soal mencari nafkah atau menenteng stroller di akhir pekan. Di balik kata “ayah” ada tanggung jawab emosional, keterlibatan aktif dalam pengasuhan, dan kesiapan mental yang tak bisa diremehkan. Sayangnya, banyak calon ayah merasa tak punya cukup ruang untuk belajar atau bertanya.

Baca juga: Mengubah Pandangan tentang Ibu Rumah Tangga & Peran Seorang Ayah

Padahal, tak ada yang benar-benar otomatis dalam perjalanan menjadi orang tua. Kesiapan menjadi ayah adalah proses yang bisa dibangun, dipelajari, dan bahkan dilatih sejak masa kehamilan. Mulai dari belajar memahami emosi sendiri, memperkuat komunikasi dengan pasangan, hingga membuka diri untuk ikut terlibat dalam setiap tahap kehamilan dan pengasuhan anak.

Jadi, bagaimana sebenarnya cara mempersiapkan diri menjadi ayah yang hadir secara utuh, bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan mental? Dikutip dari Healthline, berikut tips yang bisa calon ayah ikuti.

1. Mulai melakukan riset
Lika-liku menjadi orang tua bukan hanya dirasakan oleh seorang ibu yang membawa bayi dalam kandungan. Jika sang ibu mengalami gejala-gejala kehamilan seperti mual di pagi hari dan mulas, coba cari tahu apa penyebabnya. Memahami apa yang ibu rasakan dapat membantunya untuk ditangani secara cermat selagi hamil.

Menjelang hari lahir, baca-baca buku dan sumber lain mengenai jenis-jenis persalinan, pemberian ASI, cara mengganti popok, dan sebagainya. Hal ini dapat membantu calon ayah mengetahui apa yang harus dilakukan.

2. Jaga kesehatan
Cobalah untuk fokus pada kesehatan diri sendiri, salah satunya dengan berhenti merokok. Riset menunjukkan, paparan asap rokok saat hamil dapat meningkatkan risiko penyakit jantung bawaan pada janin. Makan dengan baik juga membantu mengisi daya, karena menjadi orang tua baru bisa jadi melelahkan. Tambahkan bahan makanan penuh serat dan penambah kekebalan tubuh.

3. Bicarakan tentang parenting dengan pasangan dan mulai bekerja sama
Masa kehamilan adalah waktu yang tepat untuk mulai membicarakan parenting yang akan dijalani bersama. Hal-hal seperti keputusan bayi tidur di kamar terpisah sejak awal, pembagian tanggung jawab kerja antara pasangan, berapa lama pemberian ASI, hingga rencana pengasuhan harian sebaiknya mulai dibahas sekarang. Tapi bersiaplah, ketika bayi lahir, bisa saja kondisi di lapangan membuat keputusan perlu disesuaikan.

Ada pula sejumlah topik yang belum mendesak untuk dibahas seperti pendekatan terhadap disiplin anak, termasuk soal hukuman fisik. Membahas hal ini sejak dini akan membantu membangun pemahaman bersama sebagai orang tua.

Selain itu, menjadi orang tua berarti membentuk sebuah tim yang saling terhubung seumur hidup antara kamu, pasanganmu, dan anak yang akan lahir. Penting untuk melihat segalanya dari perspektif kebersamaan, bukan ajang hitung-hitungan siapa yang berkorban lebih banyak.

Menyediakan makanan untuk calon ibu, mengambil alih pekerjaan rumah, atau sekadar menyempatkan bertanya kabar adalah contoh langkah kecil untuk membangun keluarga yang saling merawat dan menguatkan.

4. Putuskan mau menjadi ayah yang seperti apa dan temukan teman sesama ayah
Kamu beruntung jika kamu memiliki ayah yang hebat dan bisa kamu tiru. Jika pengalaman bersama ayah di masa lalu meninggalkan banyak luka, wajar rasa cemas muncul saat menghadapi peran sebagai ayah. Namun, kamu berkesempatan untuk membentuk pengalaman itu dengan caramu sendiri.

Menemukan sosok panutan dalam mengasuh bisa menjadi langkah awal. Peran sebagai ayah dibangun dari awal dan sepenuhnya berada di tanganmu untuk menentukan akan seperti apa nanti.

Penting juga untuk membangun lingkaran pertemanan dengan sesama ayah. Memiliki teman senasib dapat menjadi tempat berbagi, bertanya, mencurahkan isi hati, atau sekadar merasa ingin didengar sebagai seorang ayah.

5. Ikut janji temu dengan dokter sebisa mungkin
Selain momen istimewa melihat calon bayi melalui USG, ini juga memberikan kesempatan untuk memahami perkembangan kehamilan dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan sebagai orang tua.

Setiap kunjungan ke dokter adalah peluang untuk menggali informasi, memahami apa yang sedang dialami pasangan, serta belajar lebih banyak tentang tumbuh kembang bayi. Keterlibatan ini juga membantu membangun koneksi emosional sejak awal.

6. Rayakan setiap pencapaian
Sering kali, perhatian selama masa kehamilan lebih terfokus pada ibu yang mengandung. Namun, sebagai calon ayah, kamu juga menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Ada banyak cara untuk ikut merayakan fase ini secara aktif.

Mengadakan baby shower bersama pasangan dengan konsep yang melibatkan kedua pihak, belanja perlengkapan bayi bersama, memilih barang-barang kebutuhan si kecil, hingga mencatat perasaan dan refleksi pribadi dalam jurnal juga bisa menjadi cara untuk lebih terhubung dengan proses kehamilan.

7. Berbagi tanggung jawab
Di hari-hari awal setelah kelahiran, tidak sedikit ayah yang merasa tersisih terutama ketika bayi disusui langsung oleh ibu. Perasaan seolah peranmu tidak sepenting itu bisa muncul, namun sebenarnya kehadiran dan keterlibatanmu sangat berarti, baik bagi bayi maupun pasangan.

Ada banyak cara untuk terlibat aktif dalam merawat bayi baru lahir.
  • Mengganti popok termasuk saat terbangun tengah malam
  • Memandikan bayi
  • Melakukan kontak kulit ke kulit untuk membangun ikatan yang aman
  • Membacakan bayi cerita
  • Menyanyikan lagu pengantar tidur
  • Membantu menyendawakan bayi setelah menyusu atau sebelum dan sesudah makan
  • Memberikan pasangan camilan atau minuman
  • Mengambil alih pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring dan pakaian sambil menggendong bayi
8. Tetap santai dan tidur cukup
Kunci untuk melewati masa-masa awal sebagai orang tua adalah kemampuan untuk tetap tertawa. Di tengah kelelahan karena kurang tidur, tumpukan popok kotor, atau kejadian konyol seperti menuang ASI ke dalam kopi, sedikit humor bisa menjadi penyelamat penjaga kewarasan.

Soal tidur, tidak ada satu pendekatan yang berlaku untuk semua keluarga. Mencari pola tidur yang tepat sering kali membutuhkan percobaan dan penyesuaian. Yang terpenting adalah memastikan semua anggota keluarga mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Bagi waktu tidur secara bergantian, manfaatkan kesempatan untuk tidur siang saat memungkinkan, dan atur pembagian tugas rumah tangga agar masing-masing bisa mendapat waktu istirahat.

9. Sadari peran ayah juga penting
Dalam perjalanan tumbuh kembang anak, akan ada banyak fase yang kamu lalui. Tak jarang, sebagai ayah, kamu mungkin merasa kurang terhubung atau merasa peranmu tak sebesar yang kamu bayangkan.

Kembali bekerja setelah cuti atau merasa seperti pengasuh “kedua” bisa menjadi tantangan emosional tersendiri. Namun, bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga tidak menjadikanmu ayah yang buruk. Justru itu adalah bagian dari kontribusimu dalam membangun fondasi bagi masa depan anak.

Akan ada banyak momen istimewa yang membuat segalanya terasa sepadan, seperti saat si kecil pertama kali mengucapkan “papa”, menggenggam jarimu, atau hanya ingin ditemani olehmu saat menjelang tidur dan mendengarkan lagu favoritnya.

Menjadi ayah adalah komitmen jangka panjang. Kehadiranmu dari hal-hal kecil hingga momen-momen besar, adalah hadiah berharga yang kamu berikan bukan hanya untuk anakmu, tapi juga untuk dirimu sendiri.

Baca juga: Pentingnya Ayah Bermain Bersama Anak, Jangan Cuma Kasih Gadget

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Prediksi Pemain & Skor Timnas Indonesia vs Thailand di Semifinal Asean U-23 Mandiri Cup 2025

BERIKUTNYA

Fakta-fakta Kuil Preah Vihear yang Jadi Rebutan Kamboja & Thailand

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: