Visinema Umumkan Film Epik Perang Jawa, Mulai Produksi 2027
21 July 2025 |
20:04 WIB
Rumah produksi Visinema Pictures resmi mengumumkan proyek film terbarunya yang berjudul Perang Jawa. Film ini akan menjadi sebuah karya epik sejarah yang mengangkat salah satu konflik paling besar dan berdarah dalam sejarah Nusantara, yakni Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
Film ini akan diarahkan langsung oleh Angga. Dalam pengembangan riset sejarah, dia turut menggandeng sejarawan Peter Carey, penulis The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855.
Skenario film ini akan ditulis oleh Ifan Ismail, penulis yang telah meraih penghargaan Piala Citra. Sementara itu, di tim produksi, Taufan Adryan akan bertindak sebagai produser dan Gita Wirjawan akan turut bergabung menjadi produser eksekutif di bawah entitas Endgame.
Baca juga: Film Terbaru Visinema Panggil Aku Ayah Tayang 7 Agustus 2025
Pengumuman proyek teranyar Visinema ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 200 tahun dimulainya Perang Diponegoro. Peristiwa tersebut bermula pada 20 Juli 1825, ketika pemerintah kolonial memaksakan pembangunan jalan di atas tanah warisan leluhur Pangeran Diponegoro.
Insiden inilah yang kemudian memicu salah satu konflik paling berdarah dan berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara. Dengan latar sejarah yang kuat, film ini disebut-sebut akan menjadi salah satu proyek besar selanjutnya dari Visinema.
Bukan hanya dari sisi skala produksi, melainkan juga karena kedalaman cerita dan kompleksitas historis yang dibawanya. Sebelumnya, Visinema juga telah mengumumkan proyek film sejarah lain, yakni Ratu Malaka.
Angga mengatakan secara urutan jadwal, film Ratu Malaka kemungkinan akan diproduksi terlebih dulu. Setelah proyek itu rampung, barulah dia akan mengalihkan fokus penuh pada pengerjaan film Perang Jawa.
"Film Perang Jawa saat ini masih dalam tahap pra-produksi sampai 2027. Mungkin, kita bisa berekspektasi akan rilis pada 2028," ungkap Angga.
Meski akan mengangkat kisah penting dari Pengeran Diponegoro, Angga menyebut film ini tidak dikonsepkan menjadi karya biopik. Menurutnya, film ini akan berfokus pada peristiwa penting lima tahun Perang Jawa. Perang, yang disebut Angga, punya arti penting dan menggetarkan sejarah dunia.
Angga mengatakan pendekatan ini diambil karena dirinya melihat ada banyak peristiwa penting yang terjadi bukan hanya pada diri Diponegoro selama Perang Jawa, tetapi juga yang memengaruhi perjalanan bangsa Indonesia secara lebih luas. Menurutnya, Perang Jawa merupakan kisah monumental yang memiliki arti penting, tak hanya bagi Indonesia, melainkan juga bagi kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
"Film ini akan menjadi karya epik yang memberi gambaran pada kita lebih jauh tentang bangsa kita. Mudah-mudahan menjadi film yang bisa memberi suguhan fresh dan pengalaman sinema yang baru untuk penonton Indonesia," imbuhnya.
Sejarawan sekaligus konsultan naskah film Perang Jawa, Peter Carey, menyatakan bahwa Perang Jawa memiliki dampak yang jauh melampaui batas wilayah Indonesia. Menurutnya, konflik yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro itu merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Asia Tenggara.
Carey menilai Perang Diponegoro adalah titik balik dalam gerakan anti-kolonial di kawasan Asia Tenggara. Namun, hingga kini perspektif tersebut masih belum bergaung di telinga banyak orang. Dia pun senang kini kisah Pangeran Diponegoro akan segara diangkat ke layar lebar, satu medium seni yang populer.
Dia berharap film ini bisa menjadi momen penting untuk mengangkat sejarah tersebut ke panggung global. Carey menyebut meski kisah ini berlatar belakang tahun 1825, dia percaya cerita ini masih sangat relevan untuk generasi sekarang, tidak hanya di Indonesia tapi juga lensa global.
“Melalui film, kita bisa menghidupkan kembali esensi dari Pangeran Diponegoro: seorang pemimpin berani dan memiliki idealisme dan spiritual tinggi. Dia juga seorang panglima perang, dan simbol awal kesadaran anti-kolonial," imbuhnya.
Sementara itu, produser eksektif Gita Wirjawan mengatakan gagasan membuat film ini pertama kali datang saat dirinya tengah melakukan obrolan bersama Peter Carey di sebuah siniar. Menurutnya, seharusnya lebih banyak orang tahu siapa Diponegoro dan hal-hal yangb terjadi padanya.
“Diponegoro tidak berjuang untuk takhta namun untuk harga diri, keyakinan. warisan budaya dan kedaulatan. Bagi saya, ini adalah kisah yang sangat manusiawi sekaligus monumental," tegasnya.
Melalui Perang Jawa, pihaknya ingin mengangkat kembali nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Diponegoro dalam medium sinema. Harapannya, dengan kemasan yang seru dan epik, cerita ini bisa disampaikan ke kalangan yang lebih luas lagi, bukan hanya di Indonesia, melainkan dunia.
Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Film ini akan diarahkan langsung oleh Angga. Dalam pengembangan riset sejarah, dia turut menggandeng sejarawan Peter Carey, penulis The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855.
Skenario film ini akan ditulis oleh Ifan Ismail, penulis yang telah meraih penghargaan Piala Citra. Sementara itu, di tim produksi, Taufan Adryan akan bertindak sebagai produser dan Gita Wirjawan akan turut bergabung menjadi produser eksekutif di bawah entitas Endgame.
Baca juga: Film Terbaru Visinema Panggil Aku Ayah Tayang 7 Agustus 2025

Sutradara Angga Dwimas Sasongko, sejarawan Peter Carey, produser eksekutif Gita Wirjawan, Produser Taufan Adryan (Sumber gambar: Visinema)
Pengumuman proyek teranyar Visinema ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 200 tahun dimulainya Perang Diponegoro. Peristiwa tersebut bermula pada 20 Juli 1825, ketika pemerintah kolonial memaksakan pembangunan jalan di atas tanah warisan leluhur Pangeran Diponegoro.
Insiden inilah yang kemudian memicu salah satu konflik paling berdarah dan berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara. Dengan latar sejarah yang kuat, film ini disebut-sebut akan menjadi salah satu proyek besar selanjutnya dari Visinema.
Bukan hanya dari sisi skala produksi, melainkan juga karena kedalaman cerita dan kompleksitas historis yang dibawanya. Sebelumnya, Visinema juga telah mengumumkan proyek film sejarah lain, yakni Ratu Malaka.
Angga mengatakan secara urutan jadwal, film Ratu Malaka kemungkinan akan diproduksi terlebih dulu. Setelah proyek itu rampung, barulah dia akan mengalihkan fokus penuh pada pengerjaan film Perang Jawa.
"Film Perang Jawa saat ini masih dalam tahap pra-produksi sampai 2027. Mungkin, kita bisa berekspektasi akan rilis pada 2028," ungkap Angga.
Meski akan mengangkat kisah penting dari Pengeran Diponegoro, Angga menyebut film ini tidak dikonsepkan menjadi karya biopik. Menurutnya, film ini akan berfokus pada peristiwa penting lima tahun Perang Jawa. Perang, yang disebut Angga, punya arti penting dan menggetarkan sejarah dunia.
Angga mengatakan pendekatan ini diambil karena dirinya melihat ada banyak peristiwa penting yang terjadi bukan hanya pada diri Diponegoro selama Perang Jawa, tetapi juga yang memengaruhi perjalanan bangsa Indonesia secara lebih luas. Menurutnya, Perang Jawa merupakan kisah monumental yang memiliki arti penting, tak hanya bagi Indonesia, melainkan juga bagi kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
"Film ini akan menjadi karya epik yang memberi gambaran pada kita lebih jauh tentang bangsa kita. Mudah-mudahan menjadi film yang bisa memberi suguhan fresh dan pengalaman sinema yang baru untuk penonton Indonesia," imbuhnya.
Sejarawan sekaligus konsultan naskah film Perang Jawa, Peter Carey, menyatakan bahwa Perang Jawa memiliki dampak yang jauh melampaui batas wilayah Indonesia. Menurutnya, konflik yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro itu merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Asia Tenggara.
Carey menilai Perang Diponegoro adalah titik balik dalam gerakan anti-kolonial di kawasan Asia Tenggara. Namun, hingga kini perspektif tersebut masih belum bergaung di telinga banyak orang. Dia pun senang kini kisah Pangeran Diponegoro akan segara diangkat ke layar lebar, satu medium seni yang populer.
Dia berharap film ini bisa menjadi momen penting untuk mengangkat sejarah tersebut ke panggung global. Carey menyebut meski kisah ini berlatar belakang tahun 1825, dia percaya cerita ini masih sangat relevan untuk generasi sekarang, tidak hanya di Indonesia tapi juga lensa global.
“Melalui film, kita bisa menghidupkan kembali esensi dari Pangeran Diponegoro: seorang pemimpin berani dan memiliki idealisme dan spiritual tinggi. Dia juga seorang panglima perang, dan simbol awal kesadaran anti-kolonial," imbuhnya.
Sementara itu, produser eksektif Gita Wirjawan mengatakan gagasan membuat film ini pertama kali datang saat dirinya tengah melakukan obrolan bersama Peter Carey di sebuah siniar. Menurutnya, seharusnya lebih banyak orang tahu siapa Diponegoro dan hal-hal yangb terjadi padanya.
“Diponegoro tidak berjuang untuk takhta namun untuk harga diri, keyakinan. warisan budaya dan kedaulatan. Bagi saya, ini adalah kisah yang sangat manusiawi sekaligus monumental," tegasnya.
Melalui Perang Jawa, pihaknya ingin mengangkat kembali nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Diponegoro dalam medium sinema. Harapannya, dengan kemasan yang seru dan epik, cerita ini bisa disampaikan ke kalangan yang lebih luas lagi, bukan hanya di Indonesia, melainkan dunia.
Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.