Sejarawan Peter Carey (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Memaknai Perang Jawa yang Dipimpin Pangeran Diponegoro Menurut Sejarawan Peter Carey

23 July 2025   |   14:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Dua abad telah berlalu sejak Perang Jawa (1825–1830) berkecamuk. Akan tetapi, gema perjuangan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro tetap terasa hingga kini. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak paling penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, tidak hanya di Jawa, tetapi di kawasan Asia Tenggara.

Bagi sejarawan Peter Carey, Perang Jawa adalah suatu tsunami dalam sejarah Indonesia modern yang menghancurkan tatanan lama Jawa ke sesuatu yang baru. Dia menyangsingkan peristiwa ini dikerdilkan hanya sebatas konfrontasi antara pemimpin lokal melawan kekuatan kolonial.

Carey memaknainya sebagai perjuangan spiritual dan moral. Sebab, Diponegoro berperan bukan hanya sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai figur religius dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. 

Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas 

Diponegoro menentang pembangunan jalan oleh pemerintah kolonial yang melintasi makam leluhur keluarganya, yang dinilai merupakan bentuk penodaan atas nilai-nilai adat dan agama yang menjadi pijakan hidup masyarakat Jawa kala itu. Dari sinilah, benih perlawanan tumbuh menjadi perang gerilya yang masif. 

"Dia tahu bahwa sama sekali tidak akan menguntungkan beliau sendiri, keluarga, atau ambisi apa pun. Pada 25 tahun akhir hidupnya, dia ada di dalam kamar panas yang menyedihkan," ungkap Carey.

Carey mengatakan setelah Perang Jawa, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Kemudian, dia sempat dipindahkan ke Makassar, lalu menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan hingga wafat di Benteng Rotterdam.

Dalam masa pengasingan itu, Carey dalam penelitiannya menemukan fakta menarik. Kala itu, putra sulung dari Raja Belanda sempat datang ke Rotterdam dan bertemu Diponegoro. Usai pertemuan tersebut, dia melayangkan surat kepada ayahnya sendiri.

"Di dalam surat itu, dia bilang 'kita punya problem besar. Sebab, setelah Diponegoro, tidak ada lagi petinggi yang percaya kepada kita. Dan saya lihat ke depan kita akan menghadapi suatu perang besar. Bukan hanya di Jawa, tetapi di semua wilayah yang kita kuasai di luar. Pada ujungnya, kita orang Belanda akan menang telak atau orang Pribumi yang menang telak'," ucap Carey.

Jadi, katanya, Diponegoro adalah satu sosok yang sebenarnya bergaung seperti seorang samurai terakhir. Dia memang dikalahkan, tetapi akibat hal itu dia menularkan bara pengaruh yang lebih besar.

Dua tahun setelah Diponegoro wafat, seorang residen yang mahir bahasa Jawa bahkan sempat mengatakan bahwa pihaknya perlu segera melakukan penerjemahan semua tulisan Pangeran Diponegoro ke bahasa Belanda. Dengan cara itulah, mereka bisa bersiap dan tahu apa isi otak dari seorang imam saleh yang namanya begitu harum bahkan setelah kematiannya. 

Setelah Perang Jawa usai, sejarah mencatat bahwa pada era 1930-an, Hindia Belanda pernah mengalami kerusuhan besar yang diibaratkan oleh sejarawan Peter Carey sebagai semacam Kristallnacht—sebuah ledakan kekerasan sosial yang mengguncang stabilitas kolonial. 

Menurut Carey, Perang Jawa juga tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang mendalam dan berkepanjangan. Salah satu akibat langsungnya adalah terjadinya bedol desa atau perpindahan besar-besaran para Laskar Diponegoro ke wilayah Jawa Timur. 

Mereka tidak sepenuhnya menghentikan perlawanan, melainkan melanjutkannya dengan cara-cara baru. Carey menyoroti bahwa satu abad setelah Perang Jawa berakhir, berdirilah Nahdlatul Ulama di Surabaya pada 1926, sebuah organisasi Islam yang menjadi kelanjutan spiritual dan kultural yang dianggapnya bagian dari kristalisasi dari semangat perjuangan Diponegoro dalam konteks yang lebih religius dan sosial. 

"Jadi, spirit dari Islam mistik, pangeran, masih hidup dan berkembang di Jawa Timur," imbuhnya.

Bagi Carey, Pangeran Diponegoro adalah sosok yang lengkap. Dia adalah panglima perang yang besar yang tangguh. Jenderal de Kock,  Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memimpin pasukan Belanda dalam menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, pernah menyebut Diponegoro adalah sosok yang tak mengenal takut dengan apa pun.

"Dia adalah sosok yang sangat yakin, sangat blak-blakan, tidak Jawa. Punya otak yang tidak direbus oleh pengaruh zaman kolonial. Dia sangat straight forward. Di zaman sekarang, sosok Diponegoro mengingatkan kita semua soal integritas, tidak berkompromi (dengan kejahatan)," jelasnya. 

Baca juga: Cerita Ragam Pusaka Pangeran Diponegoro di Museum Nasional Indonesia 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Kenali Penyebab Kaki Pengkor pada Anak & Cara Mengatasinya

BERIKUTNYA

Avatar: Fire and Ash Tayang 19 Desember 2025, Trailer Perdana Segera Rilis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: