Kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan (Sumber Foto: Freepik)

Melihat Potensi Adopsi AI Dalam Layananan Kesehatan di Indonesia

23 July 2025   |   15:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai diimplementasikan dalam bidang layanan kesehatan. AI diharapkan bisa membawa perubahan nyata terutama dalam mempercepat proses layanan, membantu ketepatan diagnosis, serta menghadirkan pengalaman medis yang lebih terpersonalisasi bagi pasien.

AI dalam layanan kesehatan direalisasikan dalam sistem rekam medis digital yang mampu menganalisis data secara real-time hingga algoritma prediktif yang membantu dokter membuat keputusan klinis yang lebih cepat dan tepat.

Di tengah tantangan keterbatasan tenaga medis dan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang berkualitas, integrasi AI membuka peluang besar untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih responsif, personal, dan berkelanjutan.

Baca juga: Royal Philips Luncurkan Future Health Index Edisi ke-10, Ungkap Potensi AI dalam Layanan Kesehatan

Setiaji, Staf Ahli Teknologi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI memaparkan bahwa keberadaan teknologi AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan memang bisa sangat membantu. Namun bagaimana dunia kesehatan bisa memanfaatkannya lebih luas dan tepat, khususnya di sektor medis.

"Kita perlu melihat apakah Indonesia sudah benar-benar siap masuk ke AI, sejauh mana kesiapan kita dalam mengadopsi AI di sektor kesehatan, baik dari sisi regulasi, sumber daya manusia, teknologi, dan lainnya," katanya dalam konferensi pers peluncuran Laporan Future Health Index (FHI) pada Rabu (23/7/2025).

Tantangan penerapan AI di Indonesia tak terlepas dari jumlah penduduk yang besar dan wilayahnya yang luas, ditambah lagi dengan keterbatasan tenaga medis, terutama dokter spesialis. 

Setiaji menambahkan, kita tahu produksi dokter spesialis butuh waktu lama. Saat ini hanya memungkinkan sekitar 2.700 dokter spesialis per tahun. Sementara kekurangannya sekitar 22.000. Artinya, untuk menutupi itu saja butuh waktu hampir 10 tahun. Belum lagi distribusi rumah sakit yang tidak merata, dan puskesmas di daerah terpencil yang minim fasilitas.

"Keluhan masyarakat sering kali berkaitan dengan lamanya antrean layanan, baik itu untuk konsultasi dokter maupun mengambil obat. Bahkan ketika menggunakan asuransi pun, proses klaim bisa sangat lambat," papar Setiaji.

Meski begitu, dia optimistis teknologi AI bisa menjawab berbagai kendala ini. "Kita pernah melihat manfaatnya selama pandemi, katanya, konsultasi bisa dilakukan tanpa harus datang ke rumah sakit sehingga memperkecil risiko penularan dan mempercepat pelayanan."

Teknologi seperti telemedicine dan telesurgery bisa menjembatani gap geografis. Dokter spesialis di kota bisa melayani pasien di daerah. Dengan telesurgery, operasi bisa dilakukan dari jarak jauh, bahkan antar pulau tentunya dengan dukungan infrastruktur seperti internet dan perangkat teknologi yang memadai.

Salah satu inisiatif besar Kemenkes adalah Satu Sehat yang diluncurkan sejak 2022. Fungsinya untuk mengintegrasikan seluruh data kesehatan masyarakat yang selama ini tersebar di banyak tempat. Dengan Satu Sehat, dokter bisa langsung membaca riwayat medis pasien, melihat pengobatan sebelumnya, menghindari kontraindikasi, dan merancang perawatan yang lebih tepat.

"Ketika kita berobat ke dokter, pertanyaannya masih seputar, 'pernah minum obat apa?' 'Ada riwayat penyakit jantung gak?' Padahal semua itu seharusnya bisa langsung terlihat dari rekam medis digital," katanya.

Sistem ini juga membuka akses bagi pasien untuk melihat datanya sendiri, tentunya dengan kontrol dan perlindungan privasi. Akses ini disediakan melalui aplikasi, yang sebelumnya dikenal sebagai PeduliLindungi.

Agar sistem ini bisa bekerja diperlukan standardisasi, dalam artian komputer perlu 'berbicara dalam bahasa yang sama'. Kemenkes sendiri telah menetapkan standar kode obat, diagnosis, hingga data rekam medis, supaya semuanya bisa saling terhubung dan digunakan lintas fasilitas.

"AI bukan untuk menggantikan dokter, tapi mendukung mereka. Tantangannya adalah membangun kepercayaan baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun edukasi ke masyarakat," pungkasnya.
 

AI dalam Perspektif Tenaga Kesehatan dan Pasien

Royal Philips, perusahaan teknologi kesehatan global, baru saja merilis laporan tahunan Future Health Index (FHI) edisi ke-10. Laporan ini membahas bagaimana peran AI dalam memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan hasil pengobatan, serta memperkuat sistem kesehatan secara keseluruhan.

Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, memaparkan bahwa agar potensi AI bisa benar-benar bermanfaat, teknologi ini harus dirancang dengan rasa empati, bisa dipercaya, dan digunakan secara bertanggung jawab agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasien dan tenaga medis.

“Kami yakin AI bisa memperbaiki kualitas dan memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia. Kalau digunakan dengan bijak, teknologi ini akan memberikan dampak nyata bagi pasien dan tenaga medis,” ujarnya, dalam sesi konferensi pers pada Rabu (23/7/2025).

Laporan FHI juga mengungkap inovasi AI dalam perspektif tenaga kesehatan dan pasien. Tenaga kesehatan melihat adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dan kenyataan di lapangan. Meski 79 persen dari mereka ikut terlibat dalam pengembangan solusi digital, hanya 41 persen yang merasa bahwa teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka sehari-hari.

Ada beberapa hal yang dianggap penting untuk membangun kepercayaan terhadap AI di dunia kesehatan. Di antaranya adalah kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab secara hukum (46 persen), ketersediaan dukungan teknologi informasi (TI) yang bisa diandalkan (43 persen), serta panduan penggunaan yang mudah dipahami (37 persen).

Tenaga kesehatan juga ingin lebih paham tentang bagaimana AI bekerja. Mereka ingin ada pemantauan rutin terhadap sistem AI (35 persen), jaminan bahwa data pasien aman (32 persen), dan adanya upaya serius untuk mengatasi bias dan masalah kualitas data (31 persen).

Sementara itu, dari sisi pasien, kekhawatiran lebih banyak terkait cara komunikasi dan hasil dari layanan kesehatan. Meski 82 persen pasien mendukung penggunaan teknologi jika bisa meningkatkan perawatan, 54 persen khawatir bahwa kehadiran teknologi akan mengurangi waktu tatap muka dengan dokter.

Privasi data juga menjadi isu penting. Sebanyak 38 persen pasien mengatakan bahwa merasa aman terhadap perlindungan data mereka adalah syarat utama agar mereka nyaman dengan penggunaan AI. Hal ini juga berlaku bagi pasien yang lebih familiar dengan AI (42 persen), ini menunjukkan bahwa pemahaman yang lebih mendalam terhadap AI tidak selalu dapat mengurangi rasa cemas.

Baca juga: Cisco Ungkap Tantangan Besar Adopsi AI di Perusahaan

Pasien di Indonesia juga mulai mencari informasi kesehatan dari sumber-sumber baru. Meskipun mereka masih percaya pada informasi yang diberikan oleh tenaga medis profesional, sebanyak 82 persen responden mengatakan akan merasa lebih nyaman jika informasi tentang AI juga disampaikan lewat media sosial.

Ini menunjukkan bahwa platform seperti Instagram dan TikTok kini punya pengaruh besar dalam menyebarkan informasi kesehatan. Karena itu, tenaga medis profesional juga punya peran penting dalam menciptakan ruang digital yang bisa dipercaya.

Kondisi ini menandakan makin pentingnya menjaga keakuratan dan integritas informasi, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil. Selain itu, hal ini juga memperkuat peran dokter sebagai penghubung tepercaya dalam membantu masyarakat memahami dan menerima penggunaan AI dalam layanan kesehatan.

SEBELUMNYA

Serial All of Us Are Dead Mulai Produksi Musim Kedua

BERIKUTNYA

Melukis Ingatan Masa Kecil, Ugo Untoro Siap Gelar Pameran di Nadi Gallery

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: