Royal Philips Luncurkan Future Health Index Edisi ke-10, Ungkap Potensi AI dalam Layanan Kesehatan
23 July 2025 |
13:50 WIB
Perkembangan Kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan, termasuk dalam bidang Kesehatan. Akan tetapi, potensi dari AI ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kepercayaan, transparansi, dan desain yang bijak menjadi hal yang perlu didalami untuk membuka potensi AI secara penuh.
Royal Philips, perusahaan teknologi kesehatan global, baru saja merilis laporan tahunan Future Health Index (FHI) edisi ke-10. Laporan ini dibuat dengan menggali wawasan dari tenaga kesehatan dan pasien di 16 negara, termasuk Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik (APAC).
FHI membahas bagaimana kecerdasan buatan bisa membantu dokter dan pasien, serta apa yang dibutuhkan agar masyarakat percaya dan nyaman menggunakan teknologi ini dalam layanan kesehatan. Laporan ini juga membahas peran AI dan inovasi digital dalam memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan hasil pengobatan, dan memperkuat sistem kesehatan secara keseluruhan.
“AI punya potensi besar untuk memperluas akses layanan, mengurangi waktu tunggu, dan membantu meringankan beban kerja tenaga medis,” kata Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, dalam konferensi pers pada Rabu (23/7/2025).
Baca juga: Apple Watch Siapkan Fitur Baru, AI Canggih untuk Jadi Asisten Kesehatan Pengguna
Astri menjelaskan, agar potensi AI bisa benar-benar bermanfaat, teknologi ini harus dirancang dengan rasa empati, bisa dipercaya, dan digunakan secara bertanggung jawab agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasien dan tenaga medis.
“Kami yakin AI bisa memperbaiki kualitas dan memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia. Kalau digunakan dengan bijak, teknologi ini akan memberikan dampak nyata bagi pasien dan tenaga medis,” ujarnya.
Saat ini, sistem layanan kesehatan di Indonesia menghadapi tantangan besar, yaitu semakin banyaknya permintaan layanan, tetapi jumlah dokter spesialis masih kurang. Indonesia hanya bisa menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahun, padahal kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 29.000 dokter.
Akibat kekurangan tersebut, banyak pasien mengalami waktu tunggu yang lama. Sebanyak 77 persen pasien harus menunggu lama untuk bisa bertemu dokter spesialis, dan 1 dari 3 pasien (33 persen) bahkan mengalami keterlambatan dalam mendapatkan perawatan dasar.
Akibatnya, 51 persen pasien melaporkan kondisi kesehatannya memburuk karena tidak bisa segera mendapatkan layanan medis, dan 45 persen akhirnya harus dirawat di rumah sakit.
Melihat fenomena ini, baik tenaga medis maupun pasien di Indonesia percaya bahwa AI bisa membantu meningkatkan layanan kesehatan. Tingkat keyakinan mereka bahkan lebih tinggi dibandingkan survei rata-rata di kawasan APAC dan dunia.
Berdasarkan survei, 84 persen tenaga medis dan 74 persen pasien percaya bahwa AI bisa membantu memperbaiki sistem layanan kesehatan. Di antara mereka, 85 persen tenaga medis mengatakan bahwa AI yang bisa menganalisis data dan memprediksi kondisi kesehatan akan membantu menyelamatkan nyawa melalui tindakan dini. Selain itu, 73 persen percaya bahwa teknologi digital akan mengurangi jumlah pasien yang harus dirawat inap di masa depan.
Namun, laporan ini juga mengungkap masih adanya masalah dalam alur kerja layanan kesehatan. Lebih dari separuh tenaga medis (56 persen) mengatakan bahwa mereka sekarang menghabiskan lebih sedikit waktu bersama pasien dan lebih banyak waktu untuk mengurus tugas-tugas administratif dibandingkan lima tahun lalu.
Sebanyak 62 persen tenaga medis juga merasa kehilangan waktu berharga karena data pasien tersebar di berbagai tempat dan sulit diakses. Bahkan, 18 persen tenaga medis kehilangan lebih dari 45 menit dalam setiap shift kerja, yang jika diakumulasikan, setara dengan hampir satu bulan kerja (23 hari) dalam setahun.
Tanpa pemanfaatan AI yang efektif, 57 persen tenaga medis memprediksi antrean pasien akan semakin panjang, 49 persen khawatir kesempatan untuk mendeteksi penyakit sejak awal akan hilang, dan 46 persen memperkirakan akan ada lebih banyak tenaga medis yang mengalami kelelahan kerja (burnout).
Indonesia berada dalam posisi yang strategis untuk menjadi pemimpin dalam penerapan teknologi AI di bidang kesehatan. Dengan program JKN yang hampir mencakup seluruh masyarakat dan dukungan kuat dari pemerintah lewat roadmap transformasi digital dari Kementerian Kesehatan, landasan menuju kemajuan sudah semakin kuat.
Namun, hal terpenting saat ini adalah memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan manusia, serta bisa menjadi solusi yang menyeluruh, efektif, dan aman untuk digunakan secara luas.
“Membangun kepercayaan terhadap AI bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal sisi manusianya,” ujar Astri.
Dia menambahkan, dengan menggabungkan inovasi yang terbuka, desain yang berfokus pada kebutuhan manusia, kerja sama antar berbagai sektor, dan aturan yang jelas, Indonesia bisa membangun sistem layanan kesehatan yang lebih pintar dan tangguh sehingga mampu memberikan layanan lebih baik bagi lebih banyak orang.
Baca juga: Inovasi Teknologi sampai Layanan Berkelanjutan Jadi Kunci Utama Kesehatan Ibu dan Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Royal Philips, perusahaan teknologi kesehatan global, baru saja merilis laporan tahunan Future Health Index (FHI) edisi ke-10. Laporan ini dibuat dengan menggali wawasan dari tenaga kesehatan dan pasien di 16 negara, termasuk Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik (APAC).
FHI membahas bagaimana kecerdasan buatan bisa membantu dokter dan pasien, serta apa yang dibutuhkan agar masyarakat percaya dan nyaman menggunakan teknologi ini dalam layanan kesehatan. Laporan ini juga membahas peran AI dan inovasi digital dalam memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan hasil pengobatan, dan memperkuat sistem kesehatan secara keseluruhan.
“AI punya potensi besar untuk memperluas akses layanan, mengurangi waktu tunggu, dan membantu meringankan beban kerja tenaga medis,” kata Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, dalam konferensi pers pada Rabu (23/7/2025).
Baca juga: Apple Watch Siapkan Fitur Baru, AI Canggih untuk Jadi Asisten Kesehatan Pengguna
Astri menjelaskan, agar potensi AI bisa benar-benar bermanfaat, teknologi ini harus dirancang dengan rasa empati, bisa dipercaya, dan digunakan secara bertanggung jawab agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasien dan tenaga medis.
“Kami yakin AI bisa memperbaiki kualitas dan memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia. Kalau digunakan dengan bijak, teknologi ini akan memberikan dampak nyata bagi pasien dan tenaga medis,” ujarnya.
Saat ini, sistem layanan kesehatan di Indonesia menghadapi tantangan besar, yaitu semakin banyaknya permintaan layanan, tetapi jumlah dokter spesialis masih kurang. Indonesia hanya bisa menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahun, padahal kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 29.000 dokter.
Akibat kekurangan tersebut, banyak pasien mengalami waktu tunggu yang lama. Sebanyak 77 persen pasien harus menunggu lama untuk bisa bertemu dokter spesialis, dan 1 dari 3 pasien (33 persen) bahkan mengalami keterlambatan dalam mendapatkan perawatan dasar.
Akibatnya, 51 persen pasien melaporkan kondisi kesehatannya memburuk karena tidak bisa segera mendapatkan layanan medis, dan 45 persen akhirnya harus dirawat di rumah sakit.
Melihat fenomena ini, baik tenaga medis maupun pasien di Indonesia percaya bahwa AI bisa membantu meningkatkan layanan kesehatan. Tingkat keyakinan mereka bahkan lebih tinggi dibandingkan survei rata-rata di kawasan APAC dan dunia.
Berdasarkan survei, 84 persen tenaga medis dan 74 persen pasien percaya bahwa AI bisa membantu memperbaiki sistem layanan kesehatan. Di antara mereka, 85 persen tenaga medis mengatakan bahwa AI yang bisa menganalisis data dan memprediksi kondisi kesehatan akan membantu menyelamatkan nyawa melalui tindakan dini. Selain itu, 73 persen percaya bahwa teknologi digital akan mengurangi jumlah pasien yang harus dirawat inap di masa depan.
Namun, laporan ini juga mengungkap masih adanya masalah dalam alur kerja layanan kesehatan. Lebih dari separuh tenaga medis (56 persen) mengatakan bahwa mereka sekarang menghabiskan lebih sedikit waktu bersama pasien dan lebih banyak waktu untuk mengurus tugas-tugas administratif dibandingkan lima tahun lalu.
Sebanyak 62 persen tenaga medis juga merasa kehilangan waktu berharga karena data pasien tersebar di berbagai tempat dan sulit diakses. Bahkan, 18 persen tenaga medis kehilangan lebih dari 45 menit dalam setiap shift kerja, yang jika diakumulasikan, setara dengan hampir satu bulan kerja (23 hari) dalam setahun.
Tanpa pemanfaatan AI yang efektif, 57 persen tenaga medis memprediksi antrean pasien akan semakin panjang, 49 persen khawatir kesempatan untuk mendeteksi penyakit sejak awal akan hilang, dan 46 persen memperkirakan akan ada lebih banyak tenaga medis yang mengalami kelelahan kerja (burnout).
Indonesia berada dalam posisi yang strategis untuk menjadi pemimpin dalam penerapan teknologi AI di bidang kesehatan. Dengan program JKN yang hampir mencakup seluruh masyarakat dan dukungan kuat dari pemerintah lewat roadmap transformasi digital dari Kementerian Kesehatan, landasan menuju kemajuan sudah semakin kuat.
Namun, hal terpenting saat ini adalah memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan manusia, serta bisa menjadi solusi yang menyeluruh, efektif, dan aman untuk digunakan secara luas.
“Membangun kepercayaan terhadap AI bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal sisi manusianya,” ujar Astri.
Dia menambahkan, dengan menggabungkan inovasi yang terbuka, desain yang berfokus pada kebutuhan manusia, kerja sama antar berbagai sektor, dan aturan yang jelas, Indonesia bisa membangun sistem layanan kesehatan yang lebih pintar dan tangguh sehingga mampu memberikan layanan lebih baik bagi lebih banyak orang.
Baca juga: Inovasi Teknologi sampai Layanan Berkelanjutan Jadi Kunci Utama Kesehatan Ibu dan Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.