Ilustrasi ibu dan anak (Sumber gambar: Pexels)

Inovasi Teknologi sampai Layanan Berkelanjutan Jadi Kunci Utama Kesehatan Ibu dan Anak

01 June 2025   |   15:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah dinamika sistem kesehatan Indonesia yang masih bergulat dengan beban ganda penyakit, tingginya angka kematian ibu dan anak merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian khusus. Baik itu kematian ibu, komplikasi kehamilan, keterlambatan tumbuh kembang anak, hingga stunting masih menjadi persoalan kesehatan publik di Indonesia.
 
Laporan Kementerian Kesehatan (2023) mencatat bahwa angka kematian ibu (AKI) masih berada di atas 150 per 100.000 kelahiran hidup. Adapun satu dari lima anak mengalami gangguan tumbuh kembang. 

Untuk itu, ada kebutuhan mendesak terhadap pendekatan baru yang lebih spesifik, terintegrasi, dan berbasis teknologi terhadap kelompok populasi paling rentan seperti perempuan dan anak-anak. Dalam hal ini, Industri kesehatan memiliki peran besar menjadi penggerak layanan kesehatan bagi ibu dan anak yang lebih cepat. 

Baca juga: Perlindungan Ibu Menyusui di Indonesia Masih Dihadapkan Banyak Tantangan

Komisaris Independen BMHS Retno Marsudi menggarisbawahi bahwa kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh investasi hari ini dalam kesehatan perempuan dan anak. Maka, inovasi teknologi yang digunakan rumah sakit dinilainya harus efisien, berdaya bagi pasien, dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. 

“Kesehatan perempuan dan anak tidak bisa dilihat dari hanya kacamata sektoral, melainkan fondasi strategis bagi pembangunan nasional. Kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga kesehatan ibu dan anak hari ini,” kata Retno dalam agenda HealthConEx 2025. 
 

Agenda HealthConEx 2025 (Sumber gambar: Dok. BMHS)

Agenda HealthConEx 2025 (Sumber gambar: Dok. BMHS)

Baginya, tantangan kesehatan seperti tingginya angka kematian ibu dan anak, komplikasi kehamilan, stunting, dan isu kesehatan reproduksi masih memerlukan penanganan yang sistemik dan kolaboratif. Karena itu, Retno menilai akses layanan yang setara, berkualitas, dan berkelanjutan menjadi kunci utama. 
 
Di luar angka dan statistik, posisi ibu dan anak dalam siklus kehidupan keluarga dan masyarakat menjadikan kesehatan mereka sebagai indikator penting pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi tantangan struktural, dari akses hingga kualitas layanan, masih membayangi upaya peningkatan di sektor ini.
 
Oleh karena itu, pendekatan layanan yang berkelanjutan makin relevan. Di beberapa institusi kesehatan, mulai terlihat upaya membangun sistem yang tidak berhenti pada layanan kuratif semata, tetapi menjangkau aspek promotif, preventif, hingga perawatan jangka panjang.

Dokter Obgyn & Komisaris Utama BMHS Ivan Rizal Sini menjelaskan, BMHS menjalankan model layanan terpadu dan berkelanjut . “Pendekatan seperti Center of Excellence yang holistik, mulai dari fertilitas, kehamilan, persalinan, tumbuh kembang anak hingga layanan kesehatan dewasa dan lanjut usia,” jelas Ivan.
 
Model ini berfokus untuk fertilitas, kehamilan, persalinan, dan tumbuh kembang anak. Semuanya dijalankan secara terintegrasi, melihat pada kebutuhan kebutuhan pasien yang lebih adaptif di berbagai tahap kehidupan, utamanya dimulai dari masa kehamilan ibu dan perkembangan anak menuju dewasa.
 
Ivan menyampaikan bahwa ekosistem kesehatan yang kuat perlu dibangun dari aspek infrastruktur fisik atau seperti teknologi, juga didukung dengan kesinambungan layanan yang berpihak pada pasien.

“Layanan kesehatan dengan akreditasi dan standarisasi Internasional serta memastikan setiap inovasi seperti robotic surgery," imbuhnya.

Ini termasuk penggunaan standar layanan berbasis internasional dan pemanfaatan teknologi klinis. Misalnya pemberlakukan bedah robotik sebagai alat untuk memastikan akurasi dan efisiensi terutama dalam kasus-kasus kompleks, yang kini menurutnya menjadi pemenuhan layanan yang dibutuhkan karena lebih presisi dan efisien.
 
Pergeseran ke arah sistem yang lebih menyeluruh dan presisi menunjukkan bahwa upaya memperbaiki kesehatan ibu dan anak tidak bisa dilepaskan dari transformasi yang bersifat sistemik.

Dibutuhkan lebih banyak institusi dan tenaga kesehatan yang berpikir lintas batas sektoral dalam menggabungkan keilmuan, pendekatan berbasis data, dan komitmen untuk membuat kesehatan perempuan dan anak menjadi perhatian yang krusial.
Editor:

SEBELUMNYA

Begini Perbedaan Gejala dan Ciri-ciri Kasus Hipertiroid & Hipotiroid

BERIKUTNYA

Resensi Makhluk Bumi, Novel Fantasi tentang Pencarian Jati Diri di Dunia Asing

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga