Waspadai Cacar Api Bisa Muncul pada Usia 50-an
23 July 2025 |
06:00 WIB
Banyak orang mengira setelah sembuh dari cacar air, risiko penyakit akibat virus tersebut selesai. Padahal, virus penyebab cacar air yaitu varicella-zoster bisa kembali aktif di kemudian hari dalam bentuk yang lebih menyakitkan dan berisiko yaitu cacar api atau herpes zoster. Penyakit ini sering muncul di usia 50 tahun ke atas dan berdampak signifikan pada kualitas hidup penderitanya.
Cacar api ini menimbulkan komplikasi seperti nyeri pascaherpes (NPH) yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Bahkan, pada beberapa kasus berat, cacar api dapat menyebabkan hilangnya kemandirian secara permanen, membuat pasien sulit menjalani aktivitas seperti biasa. Penurunan imun menjadi salah satu pemicu utama reaktivasi virus ini.
Baca juga: Benarkah Penularan Herpes Bisa di Toilet Umum? Kenali Gejala & Cara Pencegahan
Cacar api ini menimbulkan komplikasi seperti nyeri pascaherpes (NPH) yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Bahkan, pada beberapa kasus berat, cacar api dapat menyebabkan hilangnya kemandirian secara permanen, membuat pasien sulit menjalani aktivitas seperti biasa. Penurunan imun menjadi salah satu pemicu utama reaktivasi virus ini.
Baca juga: Benarkah Penularan Herpes Bisa di Toilet Umum? Kenali Gejala & Cara Pencegahan
"Lebih dari sekadar ruam, cacar api dapat menyebabkan komplikasi serius seperti NPH, herpes zoster oftalmikus (HZO), gangguan saraf, dan bahkan infeksi mata," jelas dr. Calvin Kwan, Country Medical Director GSK Indonesia.
Di Indonesia, tercatat 28 kasus herpes zoster per 10.000 peserta JKN pada periode 2015–2022. Sekitar sembilan dari sepuluh orang dewasa usia 50 tahun ke atas diperkirakan sudah memiliki virus penyebab cacar api dalam tubuhnya, dan satu dari tiga orang berisiko mengalami cacar api seumur hidupnya.
Beberapa faktor risiko lain yang memperbesar kemungkinan terkena cacar api meliputi penyakit autoimun, HIV/AIDS, diabetes, kanker, serta berbagai penyakit kronis yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. Selain itu, risiko pada perempuan juga tercatat lebih tinggi, yakni sekitar 19 persen dibanding laki-laki. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan ketidakseimbangan hormonal yang terjadi menjelang atau setelah menopause.
Meski cacar api tidak menular langsung dari satu orang ke orang lain, cairan dari lepuhan pada pasien aktif bisa menularkan virus varicella-zoster ke individu yang belum pernah terkena cacar air dan menyebabkan cacar air, bukan cacar api.
Jadi, penting bagi pasien untuk menutup ruam dan menghindari kontak langsung dengan anak kecil, ibu hamil, atau individu dengan imunitas rendah selama masa aktif cacar api.
Salah satu komplikasi paling umum adalah nyeri pascaherpes, yaitu rasa nyeri di lokasi ruam yang bisa menetap lama. Sekitar 10 hingga 18 persen pasien cacar api mengalami NPH, dengan risiko yang lebih tinggi pada kelompok lansia. Bila ruam muncul di wajah, komplikasi juga bisa berdampak pada penglihatan.
"Bekas ruam di kulit mungkin bisa memudar, tetapi yang lebih mengkhawatirkan justru nyeri saraf berkepanjangan yang dapat sangat mengganggu kehidupan sehari-hari," tegas dr. Calvin.
Untungnya, kini sudah tersedia vaksin cacar api yang direkomendasikan untuk orang usia 50 tahun ke atas, atau usia 18 tahun dengan kondisi medis tertentu. Vaksin ini diberikan sebanyak dua dosis dengan jeda dua hingga enam bulan antar dosis.
"Dengan vaksinasi, kita bisa menjaga diri tetap aktif, sehat, dan terhindar dari risiko komplikasi. Ini investasi untuk kualitas hidup di masa depan," ucap dr. Calvin.
Sebagai bagian dari upaya edukasi, GSK Indonesia menggandeng Maia Estianty sebagai duta kampanye Kenali Cacar Api. Sosok publik yang dikenal sebagai ibu dan perempuan aktif ini ingin mendorong masyarakat, terutama perempuan, untuk lebih peduli pada kesehatan di usia 50-an.
"Kalau sudah di usia ini, kita kan pengen tetap bisa main sama cucu, jalan-jalan sama pasangan. Jangan sampai harus kehilangan itu semua karena penyakit yang bisa dicegah," ungkap Maia.
Baca juga: Herpes Zoster, Cacar Api dengan Sensasi Terbakar
Baca juga: Herpes Zoster, Cacar Api dengan Sensasi Terbakar
Dia juga aktif menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi penting seputar cacar api dan vaksinasi.
Cacar api menjadi contoh nyata bahwa penyakit di masa lalu bisa kembali mengganggu masa depan. Karena itu, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Jaga pola hidup sehat, kelola stres, konsumsi makanan bergizi, dan konsultasikan dengan dokter mengenai vaksin cacar api.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.