Ilustrasi peta penyebaran virus. (Sumber gambar : Unsplash/Martin Sanchez)

Waspada Monkeypox! Simak Masa Inkubasi Virus, Gejala, dan Cara Mencegahnya

20 May 2022   |   19:45 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Belum selesai dengan pandemi Covid-19, kini dunia dihadapi dengan penyakit cacar monyet atau Monkeypox kembali mewabah. Penyakit yang pertama kali tercatat menginfeksi manusia pada 1970 di Republik Demokratik Kongo, kini ditemukan kasusnya di Eropa, menyebar ke Amerika, dan Australia. 

Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Arini Astasari Widodo, menerangkan monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan oleh Poxviridae, spesifiknya spesies Monkeypox virus. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh, lesi kulit, atau pernapasan dari hewan yang terinfeksi secara langsung atau tidak langsung melalui benda yang terkontaminasi. 

Meskipun penularan dari hewan ke manusia terjadi, sejatinya penyebaran penyakit ini antar manusia sangat terbatas. Kendati demikian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan perlunya isolasi di ruang tekanan negatif pada orang yang terinfeksi.

Lebih lanjut Arini menyampaikan ketika manusia terinfeksi, virus Monkeypox bereplikasi di tempat inokulasi kemudian menyebar ke kelenjar getah bening lokal, selanjutnya penyebaran virus ke organ lain. “Proses ini mewakili masa inkubasi dan biasanya berlangsung 7 hingga 14 hari dengan batas atas 21 hari,” ujar Arini kepada Hypeabis.id, Jumat (20/5/2022).

Adapun onset gejala katanya berkorelasi dengan viremia sekunder yang menyebabkan gejala prodromal selama satu hingga dua hari seperti demam dan limfadenopati sebelum lesi muncul. “Pada fase ini, orang yang terinfeksi Monkeypox virus dapat menularkan penyakit tersebut ke orang lain. Lesi dimulai di orofaring kemudian muncul di kulit,” katanya.

Dia menuturkan memang ada beberapa jenis cacar di dunia ini. Namun pembeda cacar monyet dengan cacar lainnya adalah gejala awal berupa demam, sakit kepala, mialgia, kelelahan, dan limfadenopati. Setelah satu hingga dua hari, lesi berkembang di mukosa mulut diikuti dengan lesi kulit pada wajah dan ekstremitas (termasuk telapak tangan dan telapak kaki), serta terkonsentrasi secara sentrifugal. 

“Ruam mungkin atau mungkin tidak menyebar ke seluruh tubuh, dan jumlah total lesi dapat bervariasi dari sejumlah kecil hingga ribuan,” tutur Arini. 

Selama 2-4 pekan berikutnya, lesi berkembang dalam peningkatan satu hingga dua hari melalui fase makula, papula, vesikular, dan pustular. Lesi berubah secara serempak dan dicirikan sebagai tegas, dalam, dan berukurang 2 milimeter sampai 10 milimeter. Kemudian, lesi tetap dalam fase pustular selama lima hingga tujuh hari sebelum krusta mulai terbentuk. 

Sementara itu kata Arini kerak terbentuk dan deskuamasi selama 7-14 hari berikutnya, dan kondisi ini sembuh sekitar 3-4 pekan setelah timbulnya gejala dalam banyak kasus. “Pasien tidak lagi dianggap menular setelah semua kerak mengelupas,” imbuhnya. 

Sebagai upaya pencegahan, Arini menyarankan untuk menghindari kunjungan ke negara dengan tingkat prevalensi Monkeypox yang tinggi. Hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi tempat virus bereplikasi, termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi.

Hindari pula kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit. Berikutnya, pisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi.

Lakukan kebersihan tangan yang baik setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol. “Jangan lupa gunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien,” ujarnya.

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Selain KKN di Desa Penari, Ini 5 Film Indonesia Terlaris dengan Jutaan Penonton

BERIKUTNYA

Cube Entertainment Resmi Bubarkan CLC mulai Juni 2022

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: