Cerita Arsitek Rafael Pasaribu Mendesain Stadion Indonesia Arena yang Ikonik
21 July 2025 |
11:44 WIB
Indonesia Arena menjadi landmark baru dalam dunia olahraga dan arsitektur Indonesia. Bangunan bulat di kawasan kompleks olahraga Gelora Bung Karno, Senayan, itu disebut sebagai stadion tertutup berkelas dunia dengan berbagai keunggulan. Kemegahannya dirancang oleh arsitek Rafael Pasaribu, dari firma arsitektur Aboday Design.
Menempati lahan seluas 31.826 meter persegi dan tapak bangunan 21.304 meter persegi, Indonesia Arena adalah stadion tertutup (indoor stadium) lima lantai yang dapat menampung hingga 16.000 orang. Selain sebagai tempat olahraga, Indonesia Arena juga kerap digunakan untuk berbagai acara lain seperti konser musik.
Desain bangunan yang diresmikan pada Agustus 2023 ini dirancang oleh firma arsitektur Aboday Design, Alien Design Consultant dan Svein Studio. Sementara kontraktor pembangunannya diserahkan kepada konsorsium BUMN Karya yang terdiri dari PT Adhi Karya, PT Nindya Karya, dan PT Penta. Mereka bekerja di bawah pengawasan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Baca juga: Upaya Arsitek Yori Antar Mengembalikan Situs Muaro Jambi Jadi Tempat Belajar Dunia
President Director & Partners Aboday Design, Rafael Pasaribu, mengatakan proses desain arsitektur bangunan Indonesia Arena berlangsung selama 6 bulan, dan proses pembangunannya dilakukan selama dua tahun sejak 2021. Bangunannya diresmikan langsung oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pada 7 Agustus 2023.
Indonesia Arena berdiri di Blok 10 Kompleks GBK yang posisinya diapit oleh Lapangan Panahan dan Hall Basket serta Lapangan Squash. Massa bangunannya dirancang dengan konsep geometri yang mudah dicerna, bentuk sederhana yang familiar dengan kehidupan sehari-hari, yang terinspirasi dari bentuk keranjang.
Rafael mengatakan desain tersebut dipilih lantaran keberadaan Indonesia Arena yang lekat dengan peradaban sekitar, sehingga arsitektur bangunan stadionnya harus hadir bukan sebagai benda asing, tapi sebagai gestur yang membaur dan mudah diterima oleh masyarakat.
Bentuk keranjang dipilih lantaran merupakan salah satu produk budaya anyaman yang banyak ditemukan di penjuru Nusantara, seperti Boboko di Jawa Barat, Keranjang Penarak di Bali, Anjat dari Kalimantan, hingga Kayafyof dari Papua. Hal itu dinilai selaras dengan semangat dan pesan identitas budaya dalam arsitektur yang pada bangunan ini dinamai sebagai filosofi ‘Spirit of Craftsmanship'.
"Jadi sebenarnya itu [desain] maunya tadinya ada dari anyaman gitu kan. Tapi akhirnya kita bekerja dengan bujet, kita bekerja dengan banyak hal sehingga kita come up dengan yang tadi konsepnya kayak besek tapi ditumpuk-tumpuk untuk menjadi cover form dari venue Indonesia Arena. Jadi kita menggabungkan esensi lokal dengan konstruksi modern," katanya saat ditemui Hypeabis.id di ICE BSD City, belum lama ini.
Rafael menjelaskan Indonesia Arena menampilkan dua ekspresi massa bangunan yang berbeda, dengan bagian podium menyuguhkan sebuah gestur yang menyerap gaya bangunan eksisting yang terletak di sekitar pada Kompleks GBK. Hal itu ditunjukkan dengan barisan kolom yang repetitif, tritisan dan kanopi atap yang lebar, hingga penggunaan warna putih pada setiap bagian bangunannya.
Bagian podium kontras dengan bagian massa melingkar stadion yang menampilkan empat layer fasad metal berwarna keemasan yang menjadi sisipan identitas baru pada pengembangan bangunan ini.
Meski demikian, papar Rafael, desain akhir Indonesia Arena-terutama pada bagian podium-sebenarnya jauh berbeda dari desain awal yang diusulkan. Desain awal Indonesia Arena menampilkan jajaran kolom berbentuk V, dengan balutan dominasi kaca pada fasad, dan bahkan menyuguhkan massa berwarna hitam yang lebih mengedepankan unsur modernitas.
Keputusan untuk mengubah desain muncul setelah adanya Sidang Cagar Budaya bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Sidang Pemugaran (TSP). Ketika itu, desain dari Aboday Design ditantang untuk dapat menyerap spirit dan keberadaan dari bangunan eksisting sekitar, bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Undang-undang Cagar Budaya.
"Di area itu [kompleks GBK] tidak mudah untuk mendapatkan izin membangun sesuatu yang baru. Dan kita mendapatkan kehormatan untuk mendesain akan tetapi begitu banyak constraint-nya. Karena kita harus mengerti bagaimana karakter yang akan dikembangkan baru supaya mereka sinkron dengan keseluruhan sistem di situ. Kita kemudian membentuk produk Indonesia Arena dengan spirit untuk menjaga heritage bangsa dan menggunakan teknologi bangunan yang ada," jelas Rafael.
Arsitek jebolan Universitas Katolik Parahyangan itu mengatakan lantaran harus dibangun dalam waktu yang terbilang cepat, skin bangunan Indonesia Arena dibuat menggunakan material perforated aluminium. Sementara itu, karena ingin mengurangi konsumsi energi, penggunaan AC hanya ada di dalam stadion.
"Sementara koridor luar semuanya itu natural ventilation, natural air, natural light. Itu kan jelas ada banyak yang dikurangi dari kebutuhan energy footprint," ucapnya.
Stadion berlantai lima itu dilengkapi sebuah lapangan utama, dua lapangan latihan, ruang ganti pemain, kolam jacuzzi, kamar bilas, toilet penonton, tribun VVIP berbentuk royal box, ruang kerja media dan konferensi pers, lift, dan eskalator. Sistem pelantang suaranya akustik, dan ada jumbotron berbentuk layar LED ukuran raksasa empat sudut tergantung di langit-langit tengah.
Tribun tier 2-3 bentuknya permanen dan tier 1 berteknologi telescopic tribune atau tribun dapat dilipat otomatis. Ini membuat tata letak bangku penonton bisa menyesuaikan luas lapangan. Kapasitas penonton pun berkurang menjadi 13.500 orang saja, sehingga ukuran lapangan dari semula 77 meter x 47 meter bisa diperbesar menjadi panjang 80-85 meter dan lebar 46-55 meter.
Rafael mengatakan salah satu keunggulan Indonesia Arena dengan stadion-stadion tertutup lainnya ialah telah mengantongi Fédération Internationale de Basketball (FIBA) Certified Venue. Hal ini juga tidak terlepas dari histori Indonesia Arena yang dibangun untuk menjawab terpilihnya Indonesia, sebagai salah satu negara tuan rumah ajang Piala Dunia FIBA pada 2023.
Sebagai tuan rumah, FIBA mensyaratkan adanya venue berkapasitas minimal 8.000 orang. Kala itu, Indonesia hanya punya Istora Gelora Bung Karno berkapasitas 7.500 orang setelah direnovasi untuk kepentingan Asian Games 2018. Pada 19 Februari 2020, Presiden ke-7 RI Jokowi menggelar rapat kabinet terbatas di Istana Merdeka, Jakarta. Hasilnya, kepala negara meminta menteri-menterinya untuk segera membangun arena baru.
Sesuai arahan tersebut, akhirnya diputuskan untuk memakai lahan landasan helikopter di antara Lapangan Panahan dan Hall Basket sebagai lokasi Indonesia Arena. Konstruksi pembangunannya pun dimulai pada Desember 2021.
"Patut berbangga lah kita mampu membentuk satu venue yang sertifikasi internasional, menampung semua yang mereka [FIBA] mau dan sebagainya, dan tetap menjadi ikon baru dari Jakarta," kata Rafael.
Baca juga: Cerita Arsitek Jacob Gatot Sura Revitalisasi Gramedia Melawai Jadi Jalma
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menempati lahan seluas 31.826 meter persegi dan tapak bangunan 21.304 meter persegi, Indonesia Arena adalah stadion tertutup (indoor stadium) lima lantai yang dapat menampung hingga 16.000 orang. Selain sebagai tempat olahraga, Indonesia Arena juga kerap digunakan untuk berbagai acara lain seperti konser musik.
Desain bangunan yang diresmikan pada Agustus 2023 ini dirancang oleh firma arsitektur Aboday Design, Alien Design Consultant dan Svein Studio. Sementara kontraktor pembangunannya diserahkan kepada konsorsium BUMN Karya yang terdiri dari PT Adhi Karya, PT Nindya Karya, dan PT Penta. Mereka bekerja di bawah pengawasan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Baca juga: Upaya Arsitek Yori Antar Mengembalikan Situs Muaro Jambi Jadi Tempat Belajar Dunia
President Director & Partners Aboday Design, Rafael Pasaribu, mengatakan proses desain arsitektur bangunan Indonesia Arena berlangsung selama 6 bulan, dan proses pembangunannya dilakukan selama dua tahun sejak 2021. Bangunannya diresmikan langsung oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pada 7 Agustus 2023.
Indonesia Arena berdiri di Blok 10 Kompleks GBK yang posisinya diapit oleh Lapangan Panahan dan Hall Basket serta Lapangan Squash. Massa bangunannya dirancang dengan konsep geometri yang mudah dicerna, bentuk sederhana yang familiar dengan kehidupan sehari-hari, yang terinspirasi dari bentuk keranjang.
Rafael mengatakan desain tersebut dipilih lantaran keberadaan Indonesia Arena yang lekat dengan peradaban sekitar, sehingga arsitektur bangunan stadionnya harus hadir bukan sebagai benda asing, tapi sebagai gestur yang membaur dan mudah diterima oleh masyarakat.
Bentuk keranjang dipilih lantaran merupakan salah satu produk budaya anyaman yang banyak ditemukan di penjuru Nusantara, seperti Boboko di Jawa Barat, Keranjang Penarak di Bali, Anjat dari Kalimantan, hingga Kayafyof dari Papua. Hal itu dinilai selaras dengan semangat dan pesan identitas budaya dalam arsitektur yang pada bangunan ini dinamai sebagai filosofi ‘Spirit of Craftsmanship'.
"Jadi sebenarnya itu [desain] maunya tadinya ada dari anyaman gitu kan. Tapi akhirnya kita bekerja dengan bujet, kita bekerja dengan banyak hal sehingga kita come up dengan yang tadi konsepnya kayak besek tapi ditumpuk-tumpuk untuk menjadi cover form dari venue Indonesia Arena. Jadi kita menggabungkan esensi lokal dengan konstruksi modern," katanya saat ditemui Hypeabis.id di ICE BSD City, belum lama ini.
Rafael menjelaskan Indonesia Arena menampilkan dua ekspresi massa bangunan yang berbeda, dengan bagian podium menyuguhkan sebuah gestur yang menyerap gaya bangunan eksisting yang terletak di sekitar pada Kompleks GBK. Hal itu ditunjukkan dengan barisan kolom yang repetitif, tritisan dan kanopi atap yang lebar, hingga penggunaan warna putih pada setiap bagian bangunannya.
Bagian podium kontras dengan bagian massa melingkar stadion yang menampilkan empat layer fasad metal berwarna keemasan yang menjadi sisipan identitas baru pada pengembangan bangunan ini.
Meski demikian, papar Rafael, desain akhir Indonesia Arena-terutama pada bagian podium-sebenarnya jauh berbeda dari desain awal yang diusulkan. Desain awal Indonesia Arena menampilkan jajaran kolom berbentuk V, dengan balutan dominasi kaca pada fasad, dan bahkan menyuguhkan massa berwarna hitam yang lebih mengedepankan unsur modernitas.
Keputusan untuk mengubah desain muncul setelah adanya Sidang Cagar Budaya bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Sidang Pemugaran (TSP). Ketika itu, desain dari Aboday Design ditantang untuk dapat menyerap spirit dan keberadaan dari bangunan eksisting sekitar, bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Undang-undang Cagar Budaya.
"Di area itu [kompleks GBK] tidak mudah untuk mendapatkan izin membangun sesuatu yang baru. Dan kita mendapatkan kehormatan untuk mendesain akan tetapi begitu banyak constraint-nya. Karena kita harus mengerti bagaimana karakter yang akan dikembangkan baru supaya mereka sinkron dengan keseluruhan sistem di situ. Kita kemudian membentuk produk Indonesia Arena dengan spirit untuk menjaga heritage bangsa dan menggunakan teknologi bangunan yang ada," jelas Rafael.
Arsitek jebolan Universitas Katolik Parahyangan itu mengatakan lantaran harus dibangun dalam waktu yang terbilang cepat, skin bangunan Indonesia Arena dibuat menggunakan material perforated aluminium. Sementara itu, karena ingin mengurangi konsumsi energi, penggunaan AC hanya ada di dalam stadion.
"Sementara koridor luar semuanya itu natural ventilation, natural air, natural light. Itu kan jelas ada banyak yang dikurangi dari kebutuhan energy footprint," ucapnya.
Stadion berlantai lima itu dilengkapi sebuah lapangan utama, dua lapangan latihan, ruang ganti pemain, kolam jacuzzi, kamar bilas, toilet penonton, tribun VVIP berbentuk royal box, ruang kerja media dan konferensi pers, lift, dan eskalator. Sistem pelantang suaranya akustik, dan ada jumbotron berbentuk layar LED ukuran raksasa empat sudut tergantung di langit-langit tengah.
Tribun tier 2-3 bentuknya permanen dan tier 1 berteknologi telescopic tribune atau tribun dapat dilipat otomatis. Ini membuat tata letak bangku penonton bisa menyesuaikan luas lapangan. Kapasitas penonton pun berkurang menjadi 13.500 orang saja, sehingga ukuran lapangan dari semula 77 meter x 47 meter bisa diperbesar menjadi panjang 80-85 meter dan lebar 46-55 meter.
Rafael mengatakan salah satu keunggulan Indonesia Arena dengan stadion-stadion tertutup lainnya ialah telah mengantongi Fédération Internationale de Basketball (FIBA) Certified Venue. Hal ini juga tidak terlepas dari histori Indonesia Arena yang dibangun untuk menjawab terpilihnya Indonesia, sebagai salah satu negara tuan rumah ajang Piala Dunia FIBA pada 2023.
Sebagai tuan rumah, FIBA mensyaratkan adanya venue berkapasitas minimal 8.000 orang. Kala itu, Indonesia hanya punya Istora Gelora Bung Karno berkapasitas 7.500 orang setelah direnovasi untuk kepentingan Asian Games 2018. Pada 19 Februari 2020, Presiden ke-7 RI Jokowi menggelar rapat kabinet terbatas di Istana Merdeka, Jakarta. Hasilnya, kepala negara meminta menteri-menterinya untuk segera membangun arena baru.
Sesuai arahan tersebut, akhirnya diputuskan untuk memakai lahan landasan helikopter di antara Lapangan Panahan dan Hall Basket sebagai lokasi Indonesia Arena. Konstruksi pembangunannya pun dimulai pada Desember 2021.
"Patut berbangga lah kita mampu membentuk satu venue yang sertifikasi internasional, menampung semua yang mereka [FIBA] mau dan sebagainya, dan tetap menjadi ikon baru dari Jakarta," kata Rafael.
Baca juga: Cerita Arsitek Jacob Gatot Sura Revitalisasi Gramedia Melawai Jadi Jalma
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.