Grave of the Fireflies. (Sumber gambar: CBI Pictures)

4 Fakta Film Grave of the Fireflies, Siap Bikin Banjir Air Mata 29 Agustus di Bioskop

21 July 2025   |   11:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Ada kabar gembira untuk pencinta film animasi Jepang. Grave of the Fireflies (1988) akan tayang di bioskop Indonesia untuk pertama kalinya dalam waktu dekat. Salah satu film ikonik dari Studio Ghibli itu dijadwalkan rilis pada 29 Agustus 2025 di bioskop Tanah Air.

Rencana penayangan itu diumumkan oleh CBI Pictures selaku distributor melalui unggahan di akun media sosial mereka pada Selasa (15/7/2025) malam. Mereka mengunggah foto dari salah satu adegan di film Grave of the Fireflies.

"Potret pilu kakak beradik yang harus bertaruh nyawa dan menghadapi kejamnya Perang Dunia II. Karya emosional dari sutradara Isao Takahata dan Studio Ghibli, Grave of the Fireflies, tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 29 Agustus," tulis akun X @CBIpictures.

Unggahan itu pun langsung disambut oleh para netizen. Banyak dari mereka yang menyebut bahwa Grave of the Fireflies adalah film emosional yang akan menguras perasaan mereka. Selain itu, sejumlah warganet juga bahkan meminta kepada distributor untuk menayangkan film-film besutan Studio Ghibli lainnya. 

Baca juga: Film-film Studio Ghibli Bakal Tayang di Bioskop Indonesia, Bersiap Nostalgia

Lantas, apa yang membuat film yang pertama kali dirilis tahun 1988 ini spesial dan ikonis? Berikut adalah fakta-fakta menariknya. 
 

1. Adaptasi dari kisah nyata

Grave of the Fireflies adalah film animasi perang Jepang hasil adaptasi dari cerita pendek semi-autobiografi berjudul sama karya Akiyuki Nosaka. Cerita yang ditulis tahun 1967 ini didasarkan pada pengalaman personalnya pada sebelum, selama, dan setelah peristiwa pengeboman di Kobe tahun 1945 oleh tentara Amerika.

Dalam ceritanya, sang penulis mengungkap kisah keluarganya yang pilu di situasi perang. Salah satu saudara perempuannya meninggal karena sakit, ayah angkatnya meninggal saat pengeboman api terjadi, dan adik angkatnya, Keiko, meninggal karena kekurangan gizi di Fukui. Cerita ini ditulis sebagai permintaan maaf pribadi sang penulis kepada Keiko, atas kematiannya.

Cerita tersebut pertama kali terbit di sebuah majalah sastra hingga akhirnya diterbitkan dalam sebuah buku bersama beberapa cerita pendek lainnya tahun 1968. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Grave of the Fireflies, akhirnya cerita itu diadaptasi menjadi film berjudul sama tahun 1988, tepat 20 tahun setelah penerbitan karya aslinya.
 
 

2. Sinopsis Grave of the Fireflies

Berlatar di kota Kobe, Jepang, film ini menceritakan kisah dua saudara kandung dan anak yatim piatu perang, Seita dan Setsuko, serta perjuangan mereka yang gigih untuk bertahan hidup di bulan-bulan terakhir Perang Pasifik.

Dikisahkan, Seita dan Setsuko adalah anak dari seorang kapten Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang tengah berjuang dan ibunya yang meninggal. Setelah kehilangan ibunya, mereka tinggal menumpang di rumah seorang bibi dan merahasiakan kematian ibu mereka. Akan tetapi, lantaran situasi perang yang berkecamuk, hidup mereka bersama sang bibi pun tidak selamanya tertampung.

Seita dan Setsuko harus melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup, mulai dari mencuri hasil panen hingga menderita malnutrisi. Kondisi kian menyedihkan ketika mereka harus menerima nasib bahwa sang ayah gugur di medan perang. Bersama kunang-kunang sebagai simbol penerang, kakak-beradik itu saling menguatkan sampai titik terakhir.

Suara karakter-karakter dari Grave of the Fireflies diisi oleh Tsutomu Tatsumi, Ayano Shiraishi, Yoshiko Shinohara, dan Akemi Yamaguchi. Adapun, seluruh musik soundtrack-nya diciptakan oleh Michio Mamiya. 
 

3. Jadi box office hingga pujian kritis

Film Grave of the Fireflies cukup sukses di box office Jepang. Film yang disutradarai Isao Takahata ini meraih total pendapatan sebesar 1,7 miliar Yen. Sebagai bagian dari Studio Ghibli Fest 2018, film ini juga dirilis secara terbatas di bioskop Amerika Serikat, dengan total pendapatan sebesar US$516.962.

Tak hanya itu, Grave of the Fireflies juga mendapat pujian kritis dari para kritikus. Di situs Rotten Tomatoes, film ini mendapat rating 9,3/10, sementara di Metacritic, meraih skor 94 dari 100. Film animasi ini dianggap sebagai magnum opus Isao Takahata sekaligus salah satu film animasi terhebat yang pernah dibuat, serta diakui sebagai karya utama animasi Jepang.

Grave of the Fireflies juga telah memenangkan penghargaan di tingkat internasional diantaranya Special Award di Blue Ribbon Awards 1989, serta Rights of the Child Award dan Animation Jury Award di Chicago International Children's Film Festival 1994. 
 

4. Hadir dalam berbagai versi

Setelah sukses dengan film pertamanya, lanjutan Grave of the Fireflies dibuat dengan judul Border 1939, yang mengambil tema serupa tetapi berlatar tahun 1939 pada awal Perang Pasifik. Film ini dimaksudkan sebagai dakwaan terhadap sentimen imperialis Jepang, yang disinggung secara singkat dalam Grave of the Fireflies. Namun film tersebut dibatalkan sebelum produksi setelah mendapatkan protes dan dianggap terlalu berisiko.

Lalu pada 2005, stasiun televisi NTV Jepang memproduksi drama TV live-action Grave of the Fireflies, dalam rangka memperingati 60 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Drama ini ditayangkan pada 1 November 2005. Seperti film animasinya, versi live-action berfokus pada dua saudara kandung yang berjuang untuk bertahan hidup di bulan-bulan terakhir perang di Kobe, Jepang.

Namun, tidak seperti versi animasinya, drama ini menceritakan kisah dari sudut pandang sepupu mereka (putri bibi) dan membahas masalah tentang bagaimana lingkungan masa perang dapat mengubah seorang wanita yang baik hati menjadi wanita yang keras hati.

Setelah itu, versi live-action keduanya dirilis di Jepang pada 5 Juli 2008, yang menampilkan Reo Yoshitake sebagai Seita, Rina Hatakeyama sebagai Setsuko, Keiko Matsuzaka sebagai bibi, dan Seiko Matsuda sebagai ibu dari anak-anak tersebut. Seperti film animasinya, versi live-action Grave of the Fireflies ini berfokus pada dua saudara kandung yang berjuang untuk bertahan hidup di bulan-bulan terakhir perang di Kobe, Jepang.


Baca juga: 6 Rekomendasi Cafe Bertema Ghibli di Jakarta dan Sekitarnya 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Profil & Kisah Pangeran Al-Waleed, 'Sleeping Prince' yang Koma Selama 20 Tahun

BERIKUTNYA

Cerita Arsitek Rafael Pasaribu Mendesain Stadion Indonesia Arena yang Ikonik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga