Cerita Arsitek Jacob Gatot Sura Revitalisasi Gramedia Melawai Jadi Jalma
05 July 2025 |
06:00 WIB
Toko buku Gramedia Melawai di kawasan Blok M berganti wajah. Jika Genhype berkunjung, wujudnya kini bertransformasi menjadi lebih cerah, kekinian, sekaligus estetis yang diberi nama Gramedia Jalma. Desain bangunan dan interiornya dirancang oleh Jacob Gatot Sura, arsitek dari firma arsitektur Arcadia Architects.
Jacob mengatakan berbeda dengan Gramedia Makarya yang mengusung nuansa warna yang lebih gelap atau maskulin, suasana interior Jalma dibuat lebih feminin dengan menghadirkan warna-warna yang lebih cerah dan ringan. Suasananya juga dibuat menjadi lebih nyaman seperti perpustakaan.
Baca juga: Kemegahan Omo Nifolasara Sebua, Warisan Arsitektur 160 Tahun di Nias Selatan
Baca juga: Kemegahan Omo Nifolasara Sebua, Warisan Arsitektur 160 Tahun di Nias Selatan
"Karena kita juga tau sekarang anak muda senang banget ke perpustakaan ya. Jadi suasana perpustakaan yang lebih hangat dan lebih less intimidating. Itu kami terjemahkan jadi ruang-ruang seperti ini. Ada ruang untuk creative space seperti ini," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Gramedia Jalma, Jakarta Selatan, Jumat (4/7/2025).

Tampak depan Gramedia Jalma di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Jacob menjelaskan bahwa revitalisasi pada toko buku Gramedia Melawai dilakukan di hampir seluruh bagian, kecuali level lantai yang dibiarkan seperti aslinya. Prosesnya berlangsung selama sekitar 3 bulan, dimulai sejak Maret 2025.
Selain toko buku, Jalma juga menghadirkan beberapa ruang komunal yang bisa berfungsi untuk berbagai kegiatan, mulai dari co-working space, area kreatif yang bisa difungsikan untuk menggelar berbagai acara seperti diskusi, hingga area khusus anak.
Salah satu perubahan yang paling menonjol ialah penggunaan rak-rak tinggi dengan warna kayu yang lembut. Warna tersebut sengaja digunakan sebagai tempat penyimpanan yang netral, sehingga buku yang menjadi unsur penting dalam bangunan tampak menonjol.
"Karena bagi saya ini yang harus ditampilkan, buku-bukunya adalah aktornya kan, jadi enggak boleh teriak, supaya buku-bukunya menonjol," kata arsitek jebolan Institut Teknologi Bandung itu.

Suasana di Gramedia Jalma di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Penggunaan rak-rak tinggi tersebut merupakan salah satu wujud dari gagasan desain keseluruhan Gramedia Jalma yang mengusung konsep bangunan perpustakaan. Rak-rak tersebut menggantikan bentuk rak toko buku konvensional yang biasanya berukuran tidak terlalu tinggi.
Selain itu, rak-rak tersebut juga hadir mengelilingi ruangan, sehingga menciptakan pengaturan ruangan yang terasa mengalir bagi pengunjung. Hanya ada beberapa meja yang dihadirkan sebagai variasi dari penataan buku, tanpa membatasi ruang gerak pengunjung.
Beberapa rak juga hadir dengan bentuk yang menarik, dan diantaranya menghadirkan ruang khusus yang berfungsi sebagai tempat membaca ataupun sekadar bersantai. Selain itu, ada juga beberapa sofa yang membuat Gramedia Jalma terasa homey.
_crop.jpg)
Suasana di Gramedia Jalma di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Penggunaan rak-rak tinggi juga membuat ruangan menjadi terasa lebih tinggi dan luas. Ditambah, ceiling yang semula rendah juga kini dibuka, menciptakan suasana konsep industrialis yang belakangan banyak diaplikasikan baik di bangunan publik ataupun perkantoran.
"Dulu ini kan ceiling-nya rendah, dan istilahnya membuat orang depresi ya kalo masuk ke ruang yang ceiling-nya rendah. Dengan dibuka kan lebih lega dan kita biarkan apa adanya," kata pria yang juga dikenal sebagai Founder M Bloc Group itu.
Jacob mengatakan salah satu kesulitan dalam merevitalisasi Gramedia Melawai ialah pengaturan mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (MEP) yang berantakan dalam bangunan lamanya. Hal itu yang cukup memakan waktu dalam proses revitalisasi.
Baca juga: Intip Arsitektur & Interior Museum SAKA di Bali, Jadi Museum Terindah di Dunia 2025
Baca juga: Intip Arsitektur & Interior Museum SAKA di Bali, Jadi Museum Terindah di Dunia 2025
Menurutnya, Gramedia Jalma memiliki keunggulan dibandingkan toko buku lainnya yakni dengan konsep bangunan yang lebih terbuka dan inklusif. Dia pun berharap dengan wajah baru Gramedia Jalma, pengunjung bisa merasa nyaman dan semakin tertarik ke toko buku. "Harapannya orang bisa beli buku dan makin seneng baca, itu sih yang paling utama," kata Jacob.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.