Restoran di Dubai Siap Hadirkan Pengalaman Kuliner dari Chef AI
20 July 2025 |
10:00 WIB
Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah berkembang sedemikian rupa dan mewujud dalam berbagai bentuk nyata. Tak terkecuali di industri makanan lewat kehadiran juru masak atau chef berbasis AI, yang menawarkan pengalaman kuliner ‘masa depan’.
Sebuah restoran bernama WOOHOO yang berlokasi di pusat Dubai, dekat dengan gedung tertinggi dunia Burj Khalifa, tengah bersiap menghadirkan pengalaman bersantap tersebut dalam waktu dekat. Tak lama lagi, tepatnya pada September 2025.
Hal-hal yang ada di restoran tersebut, mulai dari menu, suasana, hingga layanan, dirancang oleh model bahasa besar kuliner yang disebut Chef Aiman. Nama itu merupakan perpaduan dari istilah "AI" yang berarti kecerdasan buatan dan "Man" yang berarti manusia.
Baca juga: Mengenal Project Nirmala, Metahuman AI Otonom Pertama di Indonesia
Dilansir dari Independent, Ahmet Oytun Cakir, salah satu pendiri WOOHOO, mengatakan bahwa Aiman telah dilatih selama puluhan tahun dalam penelitian ilmu pangan, data komposisi molekuler, dan lebih dari seribu resep tradisi memasak di seluruh dunia.
Dia melanjutkan, meskipun Aiman tidak bisa merasakan, mencium, atau berinteraksi dengan masakan seperti koki pada umumnya, ia bekerja dengan memecah masakan menjadi bagian-bagian komponen seperti tekstur, keasaman, dan umami. Setelah itu, model tersebut menyusunnya kembali menjadi kombinasi rasa dan bahan unik.
Prototipenya kemudian disempurnakan oleh chef manusia yang mencicipi kombinasi tersebut dan memberikan umpan balik serta arahan lanjutan. Upaya ini salah satunya melibatkan chef Reif Othman, yang merupakan seorang juru masak kenamaan berbasis di Dubai.
Aiman dalam wawancara dengan model AI interaktif, menyatakan bahwa tanggapan para juru masak manusia terhadap resep buatannya telah membantu menyempurnakan pemahaman soal hal-hal yang ada di dalam basis data.
Model AI tersebut juga menyatakan tujuan hal itu dilakukan bukan untuk menggantikan unsur manusia dalam memasak, melainkan untuk melengkapinya. Terlebih produk seperti Aiman merupakan model bahasa besar, yang secara teknis memang tidak bisa melakukan aktivitas fisik layaknya robot atau humanoid.
Aiman dirancang untuk mengembangkan resep dengan menggunakan kembali bahan-bahan yang sering dibuang oleh restoran, termasuk di antaranya potongan daging atau lemak dan sayuran sisa.
“Masakan manusia tidak akan tergantikan, tetapi kami yakin Aiman akan meningkatkan ide dan kreativitas,” imbuh Oytun Cakir.
Dalam jangka panjang, pendiri WOOHOO sekaligus Kepala Eksekutif Gastronaut itu optimis model Aiman bisa dilisensikan ke restoran-restoran yang ada di seluruh dunia, guna menghadirkan pengalaman kuliner masa depan yang unik.
Tak terbatas pada pengembangan resep dari bahan-bahan sisa atau tak terpakai, model tersebut juga bisa dieksplorasi lebih jauh untuk menangani persoalan terkait limbah dapur dan meningkatkan upaya keberlanjutan (sustainability) di industri makanan dan minuman secara umum.
Sebagai informasi tambahan, selain model bahasa besar, robot koki bertenaga AI hingga gawai dapur berteknologi mutakhir mulai banyak bermunculan pada ajang pameran CES 2024. Beberapa yang diperlihatkan saat itu adalah mesin pencampur koktail hingga robot barista untuk membuat vanilla latte.
Sementara itu, dalam ajang CES 2025, beberapa inovasi yang dipamerkan antara lain robot makanan pembuat wafel, robot barista berbasis AI, mesin kapsul teh sehat, hingga perangkat sendok garam elektrik, yang hingga kini terus dikembangkan.
Baca juga: Era Serba AI, Indonesia Masih Kekurangan 2,7 Juta Talenta Digital
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sebuah restoran bernama WOOHOO yang berlokasi di pusat Dubai, dekat dengan gedung tertinggi dunia Burj Khalifa, tengah bersiap menghadirkan pengalaman bersantap tersebut dalam waktu dekat. Tak lama lagi, tepatnya pada September 2025.
Hal-hal yang ada di restoran tersebut, mulai dari menu, suasana, hingga layanan, dirancang oleh model bahasa besar kuliner yang disebut Chef Aiman. Nama itu merupakan perpaduan dari istilah "AI" yang berarti kecerdasan buatan dan "Man" yang berarti manusia.
Baca juga: Mengenal Project Nirmala, Metahuman AI Otonom Pertama di Indonesia
Dilansir dari Independent, Ahmet Oytun Cakir, salah satu pendiri WOOHOO, mengatakan bahwa Aiman telah dilatih selama puluhan tahun dalam penelitian ilmu pangan, data komposisi molekuler, dan lebih dari seribu resep tradisi memasak di seluruh dunia.
Dia melanjutkan, meskipun Aiman tidak bisa merasakan, mencium, atau berinteraksi dengan masakan seperti koki pada umumnya, ia bekerja dengan memecah masakan menjadi bagian-bagian komponen seperti tekstur, keasaman, dan umami. Setelah itu, model tersebut menyusunnya kembali menjadi kombinasi rasa dan bahan unik.
Prototipenya kemudian disempurnakan oleh chef manusia yang mencicipi kombinasi tersebut dan memberikan umpan balik serta arahan lanjutan. Upaya ini salah satunya melibatkan chef Reif Othman, yang merupakan seorang juru masak kenamaan berbasis di Dubai.
Aiman dalam wawancara dengan model AI interaktif, menyatakan bahwa tanggapan para juru masak manusia terhadap resep buatannya telah membantu menyempurnakan pemahaman soal hal-hal yang ada di dalam basis data.
Model AI tersebut juga menyatakan tujuan hal itu dilakukan bukan untuk menggantikan unsur manusia dalam memasak, melainkan untuk melengkapinya. Terlebih produk seperti Aiman merupakan model bahasa besar, yang secara teknis memang tidak bisa melakukan aktivitas fisik layaknya robot atau humanoid.
Aiman dirancang untuk mengembangkan resep dengan menggunakan kembali bahan-bahan yang sering dibuang oleh restoran, termasuk di antaranya potongan daging atau lemak dan sayuran sisa.
“Masakan manusia tidak akan tergantikan, tetapi kami yakin Aiman akan meningkatkan ide dan kreativitas,” imbuh Oytun Cakir.
Dalam jangka panjang, pendiri WOOHOO sekaligus Kepala Eksekutif Gastronaut itu optimis model Aiman bisa dilisensikan ke restoran-restoran yang ada di seluruh dunia, guna menghadirkan pengalaman kuliner masa depan yang unik.
Tak terbatas pada pengembangan resep dari bahan-bahan sisa atau tak terpakai, model tersebut juga bisa dieksplorasi lebih jauh untuk menangani persoalan terkait limbah dapur dan meningkatkan upaya keberlanjutan (sustainability) di industri makanan dan minuman secara umum.
Sebagai informasi tambahan, selain model bahasa besar, robot koki bertenaga AI hingga gawai dapur berteknologi mutakhir mulai banyak bermunculan pada ajang pameran CES 2024. Beberapa yang diperlihatkan saat itu adalah mesin pencampur koktail hingga robot barista untuk membuat vanilla latte.
Sementara itu, dalam ajang CES 2025, beberapa inovasi yang dipamerkan antara lain robot makanan pembuat wafel, robot barista berbasis AI, mesin kapsul teh sehat, hingga perangkat sendok garam elektrik, yang hingga kini terus dikembangkan.
Baca juga: Era Serba AI, Indonesia Masih Kekurangan 2,7 Juta Talenta Digital
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.