Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Ismail Dilawar (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Sederet Kebiasaan Kecil yang Bikin Orang Rentan Sakit Jantung, Salah Satunya Mager

19 July 2025   |   14:13 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Gaya hidup minim gerak kini makin lekat dengan keseharian banyak orang. Duduk berjam-jam di depan layar atau menghabiskan waktu dengan rebahan sudah menjadi rutinitas yang dianggap biasa. Padahal, tanpa banyak disadari, pola hidup seperti ini bisa membawa dampak serius bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Ismail Dilawar mengatakan gaya hidup modern yang serba instan belakangan memang makin memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Kebiasaan malas gerak, atau dikenal dengan istilah mager, makin memperparah pola hidup masyarakat saat ini.

"Mager atau malas-malasan itu meningkatkan kemungkinan serangan jantung 30 persen sampai 40 persen dibanding mereka yang rutin berolahraga," ungkap dokter Ismail dalam diskusi The Good, The Bad, and The Ugly Jalan Menuju Jantung Sehat Lewat Gaya Hidup Sehat dan Gizi yang Tepat di RS Jantung Jakarta, Sabtu (19/7/2025). 

Baca juga: Waspadai Penyakit Jantung di Usia Usia Muda, Cek Penyebab dan Gejalanya 

Dokter Ismail Dilawar menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik dan olahraga dapat memicu penumpukan lemak dalam tubuh. Lemak tersebut tak hanya tertimbun di bawah kulit, tapi juga bisa menumpuk di pembuluh darah.

Jika dibiarkan, penumpukan lemak di pembuluh darah ini bisa menyumbat aliran darah dan memicu berbagai gangguan serius. Artinya, mager bukan hanya soal rasa malas semata, tapi juga bisa menjadi jalan awal menuju penyakit kardiovaskular yang mengancam jiwa. 

Hal yang lebih tak mengenakkan, kebiasaan malas gerak atau mager ini juga menimbulkan efek domino lain bagi tubuh. Salah satunya karena lemak tak terbakar, maka tubuh akan menjadi gemuk dan obesitas. Kondisi ini pada akhirnya membuat kerja jantung jadi kewalahan. 

Pasalnya, obesitas dapat memicu peningkatan tekanan darah, yang membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Berat badan berlebih juga berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan lain yang turut meningkatkan risiko penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak normal, serta diabetes tipe 2. 

Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gula, garam, dan kolesterol dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan jantung. Selain itu, makan berlebihan atau makan saat stres juga bisa berkontribusi pada masalah jantung. 

Dokter Ismail menekankan bahwa kebiasaan malas bergerak dan obesitas sering kali tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan pola makan yang kurang sehat. Banyak orang cenderung mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gula, garam, serta kolesterol tanpa memperhatikan dampaknya bagi tubuh. 

Padahal, kombinasi antara kurangnya aktivitas fisik dan pola makan seperti inilah menjadi pemicu utama berbagai gangguan pada sistem kardiovaskular. Tak hanya soal jenis makanan, cara dan waktu makan pun turut berperan. 

Kebiasaan makan secara berlebihan, terutama saat diliputi stres atau emosi negatif, dapat memberikan beban tambahan pada tubuh. Pola makan emosional ini berisiko meningkatkan berat badan sekaligus memperparah kondisi metabolik, yang semuanya berujung pada meningkatnya risiko penyakit jantung.

Risiko orang mager terkena serangan jantung makin besar jika disertai gaya hidup lain yang tidak sehat, seperti merokok atau konsumsi alkohol. Dua kebiasaan ini diketahui mempercepat kerusakan pembuluh darah dan menambah tekanan pada kerja jantung. Dengan kata lain, gaya hidup tak sehat yang saling berkaitan bisa membentuk lingkaran masalah serius yang mengancam kesehatan jantung secara keseluruhan. 

Baca juga: Perbedaan Serangan Jantung dan Henti Jantung, Ketahui Penyebab dan Gejalanya 
 

Olahraga yang Baik untuk Kesehatan Jantung  

Dokter Gizi RS Jantung Jakarta, Gracia J.M.T Winaktu (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Dokter Gizi RS Jantung Jakarta, Gracia J.M.T Winaktu (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Dokter Gizi RS Jantung Jakarta, Gracia J.M.T Winaktu, menyarankan agar masyarakat yang ingin menurunkan risiko serangan jantung memulainya dengan memperbaiki pola makan. Pola makan seimbang yang rendah lemak jenuh, tinggi serat, serta menghindari gula dan garam berlebihan dapat membantu menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol tetap stabil. 

Setelah pola makan lebih sehat terbentuk, langkah berikutnya adalah menambahkan aktivitas fisik secara rutin. Salah satu jenis olahraga yang baik untuk jantung adalah kardio, seperti jalan cepat, berlari, berenang, atau bersepeda.

Latihan ini membantu meningkatkan kapasitas paru-paru, memperkuat otot jantung, serta melancarkan sirkulasi darah. Rutin melakukan kardio juga terbukti efektif menurunkan tekanan darah dan membakar kalori yang berlebih.

Namun, selain kardio, masyarakat juga perlu melakukan latihan interval. Ini adalah olahraga dengan high-intensity interval training (HIIT). Latihan ini melibatkan kombinasi gerakan intensitas tinggi dan rendah secara bergantian, yang dapat meningkatkan daya tahan jantung dan efisiensi metabolisme tubuh.

"Kombinasikan olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh. Paling tidak kita olahraga 150 menit per minggu. Nah, itu tinggal dibagi saja. Misalnya, jika hanya mampu berolahraga 30 menit-1 jam saja, berarti kita perlu sekitar 4-5 kali seminggu berolahraga dengan durasi tersebut," ungkapnya.

Selain itu, kombinasikan juga dengan angkat beban. Olahraga jenis ini tidak hanya berguna untuk membentuk otot, tetapi juga bermanfaat dalam menurunkan lemak tubuh dan menjaga kestabilan gula darah. Keseimbangan otot yang baik juga membantu kerja jantung menjadi lebih efisien saat tubuh melakukan aktivitas harian.

Sebagai pelengkap, olahraga seperti yoga juga penting untuk menjaga kesehatan jantung. Sebab, yoga membantu menurunkan tingkat stres, menenangkan sistem saraf, dan memperbaiki kualitas pernapasan.

Dengan pernapasan yang dalam dan postur tubuh yang stabil, yoga ikut menjaga irama jantung tetap teratur dan menurunkan risiko tekanan darah tinggi. 

Baca juga: Pertolongan Pertama Serangan Jantung dan Sejumlah Kesalahan yang Harus Dihindari

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

School of Rock: The Musical Bakal Kembali Guncang Jakarta di Ciputra Artpreneur

BERIKUTNYA

Film Sore: Istri dari Masa Depan Tembus 1 Juta Penonton Setelah 9 Hari Tayang di Bioskop

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: