Perbedaan Serangan Jantung dan Henti Jantung, Ketahui Penyebab dan Gejalanya
17 February 2025 |
20:00 WIB
Serangan jantung dan henti jantung adalah dua kondisi medis serius yang sering dianggap sama. Padahal keduanya berbeda dalam hal penyebab, gejala, dan penanganannya. Mengutip Mayo Clinic, serangan jantung, yang secara medis dikenal sebagai infark miokard, terjadi ketika aliran darah ke bagian otot jantung berkurang secara signifikan atau terhenti.
Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain yang membentuk plak di arteri koroner yang memasok darah ke jantung. Apabila plak ini pecah, dapat terbentuk gumpalan darah yang menghambat aliran darah. Tanpa pemulihan aliran darah yang cepat, otot jantung yang terdampak dapat mengalami kerusakan atau mati.
Baca juga: Waspadai Penyakit Jantung di Usia Usia Muda, Cek Penyebab dan Gejalanya
Sementara itu, henti jantung atau cardiac arrest adalah kondisi di mana seseorang kehilangan fungsi jantung secara tiba-tiba dan tidak terduga. Ini kemudian menyebabkan berhentinya aliran darah ke otak dan organ vital lainnya. Kondisi ini membuat individu tidak responsif, tanpa penanganan segera dapat berakibat fatal seperti meninggal. Untuk lebih detailnya, simak perbedaan keduanya berdasarkan penyebab dan gejalanya.
Serangan jantung bisa disebabkan oleh beberapa kondisi medis yang meningkatkan faktor risikonya seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, gaya hidup yang kurang aktif, dan riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Menerapkan gaya hidup sehat untuk jantung, seperti rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan seimbang, menghindari rokok, dan mengelola stres dapat membantu mengurangi risiko terkena serangan jantung.
Perlu dicatat bahwa gejala dapat bervariasi pada setiap individu. Beberapa orang mungkin mengalami gejala ringan, sementara yang lain merasakan tanda-tanda yang lebih parah. Dalam beberapa kasus, serangan jantung bisa terjadi tanpa gejala yang jelas, yang disebut sebagai serangan jantung diam atau silent heart attack.
Penyebab utama henti jantung adalah gangguan irama jantung yang tidak normal, dikenal sebagai aritmia. Aritmia yang paling sering dikaitkan dengan henti jantung adalah fibrilasi ventrikel, di mana bilik bawah jantung bergetar secara tidak efektif alih-alih memompa darah. Selain itu, penyebab potensial lainnya meliputi kondisi berikut ini.
Henti jantung sering terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. Tanda dan gejalanya meliputi kondisi berikut ini.
Dalam beberapa kasus, mungkin ada tanda-tanda peringatan sebelum henti jantung, seperti
Perlu diketahui bahwa tanda-tanda peringatan ini dapat muncul beberapa menit hingga beberapa minggu sebelum henti jantung terjadi. Namun, dalam banyak kasus, henti jantung terjadi tanpa gejala sebelumnya.
Respons cepat sangat penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Jika seseorang diduga mengalami henti jantung, lakukan hal berikut ini.
Editor: Fajar Sidik
Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain yang membentuk plak di arteri koroner yang memasok darah ke jantung. Apabila plak ini pecah, dapat terbentuk gumpalan darah yang menghambat aliran darah. Tanpa pemulihan aliran darah yang cepat, otot jantung yang terdampak dapat mengalami kerusakan atau mati.
Baca juga: Waspadai Penyakit Jantung di Usia Usia Muda, Cek Penyebab dan Gejalanya
Sementara itu, henti jantung atau cardiac arrest adalah kondisi di mana seseorang kehilangan fungsi jantung secara tiba-tiba dan tidak terduga. Ini kemudian menyebabkan berhentinya aliran darah ke otak dan organ vital lainnya. Kondisi ini membuat individu tidak responsif, tanpa penanganan segera dapat berakibat fatal seperti meninggal. Untuk lebih detailnya, simak perbedaan keduanya berdasarkan penyebab dan gejalanya.
1. Serangan Jantung
Serangan jantung bisa disebabkan oleh beberapa kondisi medis yang meningkatkan faktor risikonya seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, gaya hidup yang kurang aktif, dan riwayat keluarga dengan penyakit jantung.Menerapkan gaya hidup sehat untuk jantung, seperti rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan seimbang, menghindari rokok, dan mengelola stres dapat membantu mengurangi risiko terkena serangan jantung.
Gejala Serangan Jantung
- Nyeri atau ketidaknyamanan di dada, sering kali terasa seperti tekanan, sesak, atau terhimpit, yang bisa menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang, atau punggung.
- Sesak napas.
- Mual atau muntah.
- Pusing atau kepala terasa ringan.
- Keringat dingin.
- Kelelahan yang tidak biasa.
Perlu dicatat bahwa gejala dapat bervariasi pada setiap individu. Beberapa orang mungkin mengalami gejala ringan, sementara yang lain merasakan tanda-tanda yang lebih parah. Dalam beberapa kasus, serangan jantung bisa terjadi tanpa gejala yang jelas, yang disebut sebagai serangan jantung diam atau silent heart attack.
Penanganan Serangan Jantung
- Segera hubungi layanan darurat medis.
- Kunyah dan telan aspirin, kecuali jika alergi atau disarankan sebaliknya oleh tenaga medis.
- Beristirahat sambil menunggu tim medis tiba.
2. Henti Jantung
Penyebab utama henti jantung adalah gangguan irama jantung yang tidak normal, dikenal sebagai aritmia. Aritmia yang paling sering dikaitkan dengan henti jantung adalah fibrilasi ventrikel, di mana bilik bawah jantung bergetar secara tidak efektif alih-alih memompa darah. Selain itu, penyebab potensial lainnya meliputi kondisi berikut ini.
- Penyakit arteri koroner: Penyempitan atau penyumbatan arteri yang mengurangi aliran darah ke otot jantung.
- Serangan jantung (infark miokard): Penyumbatan parah yang menghentikan aliran darah ke bagian otot jantung dapat memicu aritmia yang menyebabkan henti jantung.
- Kardiomiopati: Penyakit otot jantung yang membuat jantung lebih sulit memompa darah.
- Kelainan jantung bawaan: Masalah struktural pada jantung yang sudah ada sejak lahir.
- Gangguan listrik jantung: Kondisi seperti Long QT Syndrome yang memengaruhi sistem listrik jantung.
Gejala Henti Jantung
Henti jantung sering terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. Tanda dan gejalanya meliputi kondisi berikut ini.
- Kehilangan kesadaran mendadak: Individu dapat tiba-tiba pingsan.
- Tidak ada denyut nadi: Jantung berhenti berdetak secara efektif, sehingga denyut nadi tidak dapat terdeteksi.
- Tidak bernapas: Pernapasan terhenti, dan orang tersebut mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda pernapasan.
- Ketidaksadaran: Orang tersebut menjadi tidak responsif.
Dalam beberapa kasus, mungkin ada tanda-tanda peringatan sebelum henti jantung, seperti
- Ketidaknyamanan di dada: Nyeri atau rasa tidak nyaman di area dada.
- Sesak napas: Kesulitan bernapas atau merasa kehabisan napas.
- Kelemahan: Kelelahan atau rasa lemah yang tidak biasa.
- Palpitasi jantung: Sensasi jantung berdebar cepat, bergetar, atau berdetak kencang.
Perlu diketahui bahwa tanda-tanda peringatan ini dapat muncul beberapa menit hingga beberapa minggu sebelum henti jantung terjadi. Namun, dalam banyak kasus, henti jantung terjadi tanpa gejala sebelumnya.
Baca juga: Aktor Korea Park Min Jae Meninggal Usia 32 Tahun Karena Henti Jantung
Penanganan Henti Jantung
Respons cepat sangat penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Jika seseorang diduga mengalami henti jantung, lakukan hal berikut ini.
- Segera hubungi layanan darurat.
- Lakukan resusitasi jantung paru (CPR): Tekan dada dengan kuat dan cepat di bagian tengah dengan kecepatan 100–120 tekanan per menit.
- Gunakan defibrilator eksternal otomatis (AED) jika tersedia. Alat ini dapat memberikan kejutan listrik untuk membantu mengembalikan irama jantung yang normal.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.