Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati, dan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, melakukan Dialog Strategis Kebudayaan (sumber gambar: kemenbud)

Jembatan Baru Perfilman, Indonesia & Prancis Perkuat Kolaborasi Lintas Budaya

16 July 2025   |   14:45 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Rangkaian kerja sama budaya antara Indonesia dan Prancis terus bergulir. Dalam kunjungan kerja ke Paris, Senin (15/7), Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan Dialog Strategis Kebudayaan bersama Menteri Kebudayaan Prancis, Madame Rachida Dati. 
 
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut konkrit dari kunjungan kenegaraan Presiden Emmanuel Macron ke Jakarta dan Candi Borobudur, Mei lalu, yang turut membawa Madame Rachida Dati untuk mendampingi, dan menandatangai nota kesepahaman kerja sama di bidang budaya. 

Baca juga: Masuk Era Keemasan, Industri Film Indonesia Perlu Tingkatkan Keragaman Sinema 

Fadli Zon menegaskan bahwa negara serius menindaklanjuti program budaya yang diteken sebelumnya. Dia menyebut diskusi intensif telah berlangsung sejak kehadiran Indonesia di Festival Film Cannes beberapa bulan lalu, lalu dilanjutkan melalui berbagai forum bilateral.

“Pertemuan ini merupakan diskusi lanjutan yang diharapkan melahirkan aksi nyata. Diharapkan terjalin langkah kongkret sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah ditandatangani oleh kedua negara",” ujar Fadli Zon. 

Salah satu fokus utama kerja sama adalah penguatan industri film melalui jejaring produksi, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas. Pemerintah Indonesia bersama mitra strategis di Prancis tengah menjajaki berbagai program bersama dengan Centre national du cinéma et de l'image animée (CNC) serta La Fémis (École Nationale Supérieure des Métiers de l'Image et du Son).
 
 

Angga Dwimas Sasongko, mewakili asosiasi produser Indonesia, menjelaskan bahwa salah satu model kerja sama yang dilirik adalah pola kolaborasi CNC dengan Korea Selatan melalui Korean Film Academy (KAFA). Model ini dinilai berhasil membuka peluang beasiswa, pertukaran pelajar, hingga residensi penulisan naskah.

“Indonesia melihat peluang untuk mereplikasi skema serupa, melibatkan setidaknya sembilan kampus seni yang punya program studi film seperti IKJ, ISI Padang Panjang, UMN, dan Institut Kesenian Makassar. Ini membuka jalur pendidikan formal dan non-formal yang saling menguatkan,” jelas Angga.

Tak hanya di jalur akademik, kerja sama lintas budaya ini juga diarahkan untuk membuka peluang melalui jalur non-formal. Skema manajemen talenta nasional (MTN) diharapkan bisa bersinergi dengan festival film di tanah air seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Jakarta Film Week (JFW), Minikino, dan berbagai festival lain.

Menurut Angga, bentuk kolaborasi yang bisa segera dijalankan antara lain program residensi tahunan bagi penulis skenario, sutradara, dan produser, serta pertukaran mahasiswa dan dosen audiovisual yang diperkuat dengan MoU khusus.

Senada, aktris Asmara Abigail menuturkan sejumlah praktik baik hasil kolaborasi Indonesia-Prancis sudah pernah berjalan, salah satunya lewat film Setan Jawa karya Garin Nugroho, yang turut dia bintangi. 

“Ko-produksi semacam ini memperluas jangkauan penonton film Indonesia sekaligus membuka ruang pertukaran budaya melalui sinema,” ujarnya.

Dia menambahkan, upaya mempertemukan talenta Indonesia dan Prancis juga dapat diperkuat melalui Ina-France Lab—program laboratorium kreatif yang perdana digelar di Jaff Market 2024. Agenda ini ditargetkan rutin diadakan setiap tahun.

Sebagai bagian dari penguatan jejaring, direncanakan pula program retrospektif film Indonesia di La Cinémathèque Française, Paris. Program ini akan menayangkan film-film pilihan hasil kurasi bersama asosiasi produser Indonesia, memperkenalkan keragaman sinema Nusantara ke publik Eropa.

Dengan strategi yang disusun matang, Indonesia membidik pasar film global secara lebih serius. Sejumlah festival internasional seperti Busan International Film Festival, Filmart, Festival Cannes, hingga Clermont-Ferrand Short Film Festival akan menjadi panggung penting bagi film Indonesia.

Melalui langkah nyata ini, Indonesia dan Prancis bersama-sama merintis jembatan budaya yang berkelanjutan. Kolaborasi ini tak hanya memperkuat ekosistem film nasional, tetapi juga memperluas ruang kreatif lintas negara menuju industri film yang semakin inklusif dan kolaboratif. 

Baca juga: FFI 2025 Usung Program Baru, Dekatkan Diri ke Festival Film Daerah 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Mengenal Subkultur SBT (Sell-Buy-Trade) dalam Koleksi Merchandise KPop

BERIKUTNYA

Review Album ENDIKUP, Karya Terakhir Gustiwiw yang Serukan Optimisme

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga