Masuk Era Keemasan, Industri Film Indonesia Perlu Tingkatkan Keragaman Sinema
09 July 2025 |
16:00 WIB
Industri film Indonesia tengah memasuki masa keemasannya. Capaian jumlah penonton film di Tanah Air terus menanjak, di mana pangsa pasar untuk sinema lokal mendominasi. Hal ini pun dinilai bisa menjadi momentum yang tepat untuk semakin meningkatkan kualitas dan keragaman film lokal.
Menurut data dari Motion Picture Association Asia Pacific, jumlah penonton film bioskop di Indonesia pada 2024 naik 10 persen yakni lebih dari 126 juta penonton. Dari jumlah tersebut, 80 juta diantaranya merupakan penonton film lokal. Ini adalah angka tertinggi sepanjang sejarah, dengan pangsa pasar lokal mencapai 65 persen.
Baca juga: Industri Perfilman Indonesia Jajaki Kolaborasi dengan Prancis, Apa Usulan Programnya?
Baca juga: Industri Perfilman Indonesia Jajaki Kolaborasi dengan Prancis, Apa Usulan Programnya?
Tak hanya film bioskop, konten-konten di platform OTT pun digemari masyarakat. Dilaporkan bahwa per Juni 2025, jumlah subscribers video on demand (SVOD) untuk platform OTT di Indonesia mengalami peningkatan sebanyak lebih dari 23 juta subscribers. Dari jumlah tersebut, tercatat besaran pendapatan dari SVOD tahun 2024 mencapai US$403 juta atau meningkat dari tahun 2020 dengan US$132 juta.
Produser Visinema Angga Dwimas Sasongko menilai dengan semua capaian tersebut, industri perfilman Indonesia masih berada di early stage atau fase awal dari masa kejayaannya. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini ialah visi yang kuat dari para filmmaker untuk membuat industri sinema nasional semakin kuat.
"Apa yang mau kita kasih ke penonton, apa yang pengen kita lihat terjadi di perfilman Indonesia 5 sampai 10 tahun lagi, itu mungkin visi yang paling pendek yang harus kita pikirkan sebetulnya," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, belum lama ini.
Angga berpendapat untuk semakin menumbuhkan industri perfilman di Indonesia, para filmmaker harus memiliki long term vision atau visi untuk jangka panjang, alih-alih hanya berorientasi pada capaian box office dari jumlah penonton. Menurutnya, hal itu hanya akan membuat para sineas terjebak pada capaian jangka pendek, alih-alih memikirkan keberlanjutan loyalitas penonton untuk jangka panjang.
Hal itu salah satunya, kata Angga, bisa dicapai dengan prinsip dan visi untuk terus berkreasi dan memberikan tontonan yang segar serta beragam kepada audiens. Menurut Angga, kebaruan menjadi salah satu kunci untuk bisa membentuk loyalitas penonton dengan film-film lokal.
"Audiens, di manapun pasti mau dan butuh yang baru. Karena kan bayangin kalau misalnya kita makan produk yang sama terus-menerus, kita pasti pengen refreshment [penyegaran]. Dan itu kan by default gitu ya. Itu kan human nature-nya kan memang begitu," ujarnya.
"Future audience kita tuh adalah anak-anak Indonesia yang hari ini nonton Jumbo, yang nonton 10 atau 15 tahun lagi itu mereka. Kalau kita enggak serve, kita enggak mikirin long term-nya, mereka akan end up di TikTok. Enggak ada yang ke bioskop 10 atau 15 tahun lagi. Gimana caranya bioskop tetap relevan 10 sampai 20 tahun lagi, kan gitu yang harus kita pikirin," imbuhnya.
Hal itu pun yang dia lakukan bersama rumah produksi miliknya, Visinema. Berawal dari tekad untuk mendorong tontonan tentang keluarga dan anak yang lebih beragam, Angga dan tim menggarap film Jumbo yang kini meraih predikat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan torehan 10 juta lebih penonton.
Di tengah dominasi genre horor, Visinema dengan berani menghadirkan film animasi yang bahkan tidak ditargetkan bisa menembus box office. Namun, dengan kerja kolektif yang panjang selama bertahun-tahun, Jumbo membuktikan diri mampu mendobrak dominasi pasar hingga mencetak sejarah baru untuk perfilman nasional.
"Kami percaya bahwa kami perlu menantang industri, berkontribusi, dan bereksperimen. Dan menurut saya, animasi adalah ujungnya. Karena risikonya besar, tapi kalau kita berhasil menembus batas, maka peluangnya terbuka lebar," ucap dia.
Pada kesempatan terpisah, Produser Miles Films Mira Lesmana sepakat bahwa sebagai filmmaker, penting untuk terus menawarkan kebaruan pada audiens. Meski, dia tidak memungkiri bahwa pilihan tersebut juga terkadang riskan lantaran bukan tidak mungkin apa yang ditawarkan tidak sejalan dengan kebutuhan penonton di pasaran.
"Ketika diberikan sesuatu yang baru kemungkinannya cuma dua, berhasil atau gagal total. Dan itu adalah sebuah risiko yang tidak banyak produser mau ambil. Karena resikonya yang harus dihitung itu terlalu tinggi," ucap produser film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) itu.
Kendati begitu, Mira dengan Miles Films tetap konsisten untuk menawarkan kebaruan dalam film-film yang mereka garap. Dalam proyek anyar film Rangga & Cinta misalnya, Mira menghadirkan jajaran pemain yang hampir seluruhnya pendatang, bahkan belum pernah membintangi film layar lebar sebelumnya.
Hal itu dilakukan untuk menciptakan regenerasi di kalangan aktor dan aktris film Indonesia. Termasuk, menghadirkan konsep film drama romansa musikal, genre yang terbilang jarang hadir di film-film lokal.
"Memang belum tentu kebaruan yang kita kasib itu diterima sama audiens, karena memang risikonya tinggi. Tapi menurut saya harus dilakukan, agar selalu ada yang bikin excited di industri ini," tutur Mira.
Tak hanya dari sisi penonton bioskop, peningkatan kualitas sinema lokal juga menjadi sorotan bagi layanan streaming OTT internasional untuk semakin membuka diri bekerja sama dengan sineas-sineas dalam negeri.
Ruben Hattari selaku Direktur Kebijakan Publik Netflix untuk Asia Tenggara mengatakan kualitas perfilman Indonesia semakin mengalami peningkatan baik dari segi penceritaan, produksi hingga pemain. Hal itu yang membuat pihaknya semakin percaya untuk berinvestasi dengan sineas-sineas dalam negeri untuk membuat proyek karya original dari Indonesia.
Dia mengatakan dengan segala potensi yang ada, baik Netflix maupun para filmmaker di Indonesia perlu memaksimalkan lagi keragaman genre dari karya-karya lokal. Menurutnya, salah satu kekuatan karya sinema Indonesia ialah dari segi cerita yang autentik dan dekat dengan budaya lokal.
"Orang-orang Indonesia itu bisa relate dengan cerita tersebut. Dan kita sudah eksperimen misalnya seperti serial Gadis Kretek yang sangat kental ya unsur Indonesianya. Terus kita juga ada rom-com The Most Beautiful Girl in the World, yang dekat dengan cerita masyarakat Indonesia," katanya.
Ruben mengatakan selain bekerja sama dengan sineas lokal untuk menghadirkan film ataupun serial ke platform, Netflix turut mendorong kualitas perfilman Indonesia dengan menghadirkan sejumlah program pelatihan di banyak lini profesi film, seperti sutradara, penulis naskah, hingga akuntan khusus perfilman.
"Jadi making it relevant untuk Indonesian consumers and subscribers itu sebenarnya yang meningkatkan kesempatan untuk film tersebut itu bisa laku dan bisa diterima dengan masyarakat luas di Indonesia," imbuhnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.