Photocard KPop (Sumber gambar: Hypeabis.id/Tiffany Syabillah)

Mengenal Subkultur SBT (Sell-Buy-Trade) dalam Koleksi Merchandise KPop

16 July 2025   |   15:48 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran

K-Pop, sebagai bagian dari gelombang budaya populer Korea Selatan yang menyebar luas secara global, telah melahirkan berbagai subkultur dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satu yang paling menonjol adalah budaya mengoleksi merchandise.

Album fisik, photocard, gantungan kunci, hingga barang-barang edisi terbatas menjadi buruan para penggemar dari berbagai penjuru dunia. Merchandise ini umumnya dirilis dalam momen-momen tertentu, seperti saat para idola melakukan comeback, merayakan ulang tahun, atau menyambut tahun baru.

Baca juga: Fangirl Jadi Pengusaha, Kisah Fans K-Pop Bangun Bisnis Merchandise

Harganya pun sangat bervariasi, mulai dari 1.000 won hingga ratusan ribu won, tergantung pada jenis, kelangkaan, dan eksklusivitas produk. Menariknya, tidak hanya harga yang fluktuatif, kuantitas penjualan pun tidak selalu stabil, karena sebagian besar merchandise ini diproduksi dalam jumlah terbatas, membuatnya semakin diburu dan bernilai tinggi di kalangan kolektor.

Seperti pada 2020, NCT mengeluarkan photocard terbatas bernama special yearbook yang hanya dicetak sebanyak 500 kartu dan diselipkan dalam album Resonance. Tak ayal pengoleksi banyak memburu photocard tersebut sampai rela membeli ke luar negeri meskipun harganya tidak murah.

Beberapa penggemar yang mendapatkannya tetapi bukan wajah idolanya juga mencoba peruntungan menukar dengan pengoleksi lain. Hal ini sudah umum berlangsung dan biasa disebut Sell-Buy-Trade alias SBT.

SBT lazim ramai di aplikasi X, terkadang juga di Instagram. Biasanya, pengoleksi melayangkan cuitan bertuliskan WTS (Want To Sell), WTB (Want To Buy), atau WTT (Want To Trade) serta mencantumkan foto dari merchandise-nya.

Calon penjual atau pembeli akan menghubungi pemilik unggahan, melakukan verifikasi dengan video kondisi barang, negosiasi, dan akhirnya bertransaksi. Uniknya dari proses ini adalah para pengoleksi saling mempercayai satu sama lain walaupun sama-sama anonim. Namun hal ini juga patut diwaspadai mengingat penipuan bisa mudah terjadi.

Pengoleksi banyak yang membuat akun khusus SBT. Beberapa dari mereka menuliskannya di deskripsi akun diselingi dengan nama idola mereka. Seperti, "SBT Acc for Jeno" dan serupanya. Seorang pengoleksi yang aktif ber-SBT, Ruth (23), gencar melakukan transaksi di akunnya.

Ruth mengungkapkan dirinya sudah mengenal dan membuat akun SBT untuk membeli merchandise Haechan NCT dari sekitar tahun 2019-2020. Awalnya, ia hanya membeli photocard-photocard murah saja, dibawah 200 ribu rupiah.

"Lama-kelamaan FOMO [Fear of Missing Outsih, melihat teman-teman SBT lain beli photocard mahal. Jadi sesekali beli deh, sampai beli dari Korea langsung. Tiap merch baru keluar, pasti beli. Sekarang sudah tidak se-excited dulu." beber Ruth.

Ruth pernah tertipu saat membeli dari akun SBT. Untungnya, jumlahnya tidak seberapa. Mengantisipasi dicurangi lagi, Ruth punya cara anehnya tersendiri saat transaksi. Dia meminta bukti foto merchandise-nya disamping tulisan tangan penjual yang bertuliskan username-nya. Ini dilakukan dengan harapan penjual benar-benar punya merchandise tersebut, bukan mencuri foto dan video orang lain.

"Memang banyak hal aneh yang terjadi dan nggak mudah mengoleksi, khususnya lewat SBT. Tapi sejujurnya seru, bisa cepat memenuhi wishlist koleksi PC (Photocard) juga." imbuhnya.

Bagaimana Genhype, apakah kamu ikut koleksi merchandise K-Pop dan aktif SBT juga?

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

The Summer I Turned Pretty Musim Ketiga Tayang di Prime Video, Akhir Kisah Romansa Segitiga

BERIKUTNYA

Jembatan Baru Perfilman, Indonesia & Prancis Perkuat Kolaborasi Lintas Budaya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga