Bermula dari Jastip, Yisti Yisnika Sukses Kembangkan Brand Fashion Oclo di Usia Muda
16 July 2025 |
18:00 WIB
Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja dan tingginya angka pengangguran di kalangan muda, banyak anak muda Indonesia memilih untuk tak sekadar menunggu kesempatan datang. Sebagian dari mereka justru berinisiatif menciptakan peluang sendiri.
Yisti Yisnika adalah salah satunya. Pendiri brand fesyen Oclo ini membuktikan bahwa membangun bisnis tidak harus dimulai dari modal besar, melainkan dari ketekunan, semangat belajar, dan keberanian untuk mencoba.
Perjalanan Yisti dimulai saat usianya baru 19 tahun, masih duduk di bangku kuliah. Bermodalkan kuota internet dan koper bagasi, dia memulai usaha jasa titip (jastip) pakaian dari berbagai UMKM lokal.
Baca juga: Tren Kewirausahaan Terus Meningkat Seiring Sulitnya Mencari Kerja
Keuntungan yang dia dapatkan saat itu memang belum besar, tetapi semangatnya untuk belajar dan bertumbuh tak pernah surut. “Saya memulai dari coba-coba, tapi saya percaya, hasil datang kalau kita konsisten dan tidak malu belajar. Mulai aja dulu, dari yang kecil,” ujarnya.
Dari pengalaman menjadi pelaku jastip, Yisti belajar banyak tentang pola konsumsi dan tren produk fesyen. Pengetahuan ini menjadi fondasi kuat saat dia memutuskan untuk memproduksi sendiri dan mendirikan brand Oclo. Nama Oclo dipilih karena terdengar solid, mudah diingat, dan cukup fleksibel untuk ekspansi kategori produk di masa depan.
Oclo hadir dengan filosofi menyediakan pakaian sopan, nyaman, dan stylish untuk perempuan usia 16–40 tahun. Produknya meliputi blouse, celana, outer, hingga hijab, dengan ciri khas desain yang wearable, timeless, dan tetap menjaga kualitas. Tak tanggung-tanggung, dalam sepekan, brand ini bisa merilis hingga 25 model baru.
Kesuksesan Yisti tak hanya terletak pada insting bisnis dan kreativitas, tetapi juga pada kemampuannya memanfaatkan ekosistem digital. Dia aktif membangun branding dan penjualan lewat media sosial dan e-commerce seperti Shopee, serta mengembangkan sistem operasional yang rapi. Hal ini memungkinkan bisnisnya tumbuh secara organik dan berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Yisti bukan sekadar membangun bisnis untuk mencari keuntungan. Sejak awal, dia berkomitmen untuk menjadikan Oclo sebagai ruang pemberdayaan. Kini, dia telah melibatkan lebih dari 90 talenta lokal dalam lini produksinya mulai dari desainer, penjahit, hingga tim operasional.
“Ke depannya, saya terus berkomitmen memberdayakan talenta lokal, menjadikan pertumbuhan bisnisnya selaras dengan pemberdayaan komunitas di sekitarnya,” tuturnya.
Perjalanan Yisti menjadi bukti bahwa usia muda bukan halangan untuk memulai usaha. Justru, di masa muda inilah energi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba bisa menjadi modal utama membangun sesuatu yang besar.
“Tak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Kadang, keberanian untuk melangkah lebih penting dari segalanya,” tutur Yisti.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Yisti Yisnika adalah salah satunya. Pendiri brand fesyen Oclo ini membuktikan bahwa membangun bisnis tidak harus dimulai dari modal besar, melainkan dari ketekunan, semangat belajar, dan keberanian untuk mencoba.
Perjalanan Yisti dimulai saat usianya baru 19 tahun, masih duduk di bangku kuliah. Bermodalkan kuota internet dan koper bagasi, dia memulai usaha jasa titip (jastip) pakaian dari berbagai UMKM lokal.
Baca juga: Tren Kewirausahaan Terus Meningkat Seiring Sulitnya Mencari Kerja
Keuntungan yang dia dapatkan saat itu memang belum besar, tetapi semangatnya untuk belajar dan bertumbuh tak pernah surut. “Saya memulai dari coba-coba, tapi saya percaya, hasil datang kalau kita konsisten dan tidak malu belajar. Mulai aja dulu, dari yang kecil,” ujarnya.
Dari pengalaman menjadi pelaku jastip, Yisti belajar banyak tentang pola konsumsi dan tren produk fesyen. Pengetahuan ini menjadi fondasi kuat saat dia memutuskan untuk memproduksi sendiri dan mendirikan brand Oclo. Nama Oclo dipilih karena terdengar solid, mudah diingat, dan cukup fleksibel untuk ekspansi kategori produk di masa depan.
Oclo hadir dengan filosofi menyediakan pakaian sopan, nyaman, dan stylish untuk perempuan usia 16–40 tahun. Produknya meliputi blouse, celana, outer, hingga hijab, dengan ciri khas desain yang wearable, timeless, dan tetap menjaga kualitas. Tak tanggung-tanggung, dalam sepekan, brand ini bisa merilis hingga 25 model baru.
Kesuksesan Yisti tak hanya terletak pada insting bisnis dan kreativitas, tetapi juga pada kemampuannya memanfaatkan ekosistem digital. Dia aktif membangun branding dan penjualan lewat media sosial dan e-commerce seperti Shopee, serta mengembangkan sistem operasional yang rapi. Hal ini memungkinkan bisnisnya tumbuh secara organik dan berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Yisti bukan sekadar membangun bisnis untuk mencari keuntungan. Sejak awal, dia berkomitmen untuk menjadikan Oclo sebagai ruang pemberdayaan. Kini, dia telah melibatkan lebih dari 90 talenta lokal dalam lini produksinya mulai dari desainer, penjahit, hingga tim operasional.
“Ke depannya, saya terus berkomitmen memberdayakan talenta lokal, menjadikan pertumbuhan bisnisnya selaras dengan pemberdayaan komunitas di sekitarnya,” tuturnya.
Perjalanan Yisti menjadi bukti bahwa usia muda bukan halangan untuk memulai usaha. Justru, di masa muda inilah energi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba bisa menjadi modal utama membangun sesuatu yang besar.
“Tak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Kadang, keberanian untuk melangkah lebih penting dari segalanya,” tutur Yisti.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.