Bahaya Limbah B3 Dapat Memicu Pneumonia hingga Kanker
16 July 2025 |
07:25 WIB
Polusi udara akibat aktivitas industri memang bukan hal baru. Namun, ketika pembakaran limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) terjadi di wilayah permukiman, ancaman kesehatan menjadi sangat nyata dan membawa dampak jangka panjang bagi masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
Sayangnya, bahaya ini kerap diabaikan karena bentuknya yang tak terlihat dan tak berbau jelas. Padahal, zat-zat berbahaya tersebut masuk perlahan melalui udara dan menumpuk dalam organ tubuh manusia.
Baca juga: 5 Bahan Berbahaya yang Sering Ada di Skincare Oplosan dan Efeknya untuk Tubuh
Dicky Budiman, epidemiolog dan ahli kesehatan lingkungan dari Griffith University Australia menjelaskan bahwa pembakaran limbah B3 atau limbah plastik bisa menghasilkan zat karsinogenik yang sangat berbahaya, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun.
“Zat tersebut bersifat bioakumulatif, artinya bisa terus menumpuk dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam jangka panjang bisa memicu kanker, bahkan dalam dosis yang sangat kecil sekalipun,” tegas Dr. Dicky.
Selain karsinogen, asap pembakaran limbah juga mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium, serta partikel halus seperti PM2.5 dan PM10. Partikel kecil ini bisa masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan seperti asma, bronkitis, hingga pneumonia.
Paparan berulang terhadap nitrogen dioksida (NOâ‚‚) dan partikel halus juga dapat memicu peradangan pada pembuluh darah, yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke terutama pada lansia dan penderita penyakit kronis.
Tak berhenti di situ, limbah plastik yang terbakar juga bisa berdampak serius pada anak-anak. Zat beracun seperti timbal dan merkuri diketahui dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan kecerdasan, bahkan dikaitkan dengan autisme dan gangguan perilaku. Dioksin dalam asap limbah juga dikenal sebagai endocrine disruptor yang bisa merusak sistem hormon, menyebabkan gangguan menstruasi, penurunan kesuburan, hingga cacat lahir.
“Asap dari limbah B3 juga menghasilkan zat seperti formaldehida dan sulfur dioksida yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pencernaan terutama jika terhirup dalam jangka panjang atau pada konsentrasi tinggi,” jelas Dicky.
Dampak Nyata di Permukiman
Ancaman yang dijelaskan Dr. Dicky kini dirasakan langsung oleh warga salah satu kawasan pemukiman di Kabupaten Tangerang yang lokasinya bersebelahan dengan pabrik pengolahan limbah plastik. Padahal, kawasan tersebut adalah zona pemukiman yang tidak diperuntukkan untuk industri, apalagi pabrik yang menghasilkan limbah berbahaya.
Akibat aktivitas pabrik tersebut, hampir setiap hari warga harus mencium bau plastik terbakar yang sangat menyengat dari limbah yang menyusup hingga ke dalam rumah.
Beberapa warga mengeluhkan gangguan pernapasan, batuk, mual, pusing, dan iritasi mata. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan. “Anak saya matanya belekan dan batuk-batuk terus tiap malam. Kalau bau datang, kami buru-buru tutup semua jendela,” ujar salah seorang ibu.
Nyatanya, paparan limbah B3 juga tidak hanya terjadi lewat udara. Zat-zat beracun bisa mengendap di tanah dan mencemari air tanah terutama saat terjadi kebocoran atau saat hujan turun. “Debu beracun dari limbah terbakar bisa mengendap dan mencemari air tanah. Ini memperbesar risiko kontaminasi makanan dan air minum, yang berdampak sistemik pada kesehatan,” jelas Dr. Dicky.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Dr. Dicky menegaskan pentingnya partisipasi warga dalam menanggapi kondisi ini. Masyarakat yang menemukan praktik pembakaran limbah ilegal dapat segera melaporkannya ke Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, atau Kepolisian setempat.
Dokumentasi berupa foto atau video akan sangat membantu sebagai bukti awal. “Laporan warga sangat penting sebagai bentuk partisipasi aktif. Bentuk forum warga untuk melaporkan kejadian secara kolektif,” sarannya.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengambil langkah perlindungan diri: Gunakan masker N95 atau kain basah bila mencium bau menyengat atau melihat asap pekat. Hindari konsumsi air tanah yang mencurigakan, dan beralihlah ke air galon, air kemasan, atau air dari sumber PAM.
Baca juga: Kenali Bahaya Doomscrolling Untuk Kesehatan Mental dan Cara Menghentikannya
Selain itu juga bisa melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin termasuk pemeriksaan paru-paru, darah, dan deteksi awal gangguan kesehatan lainnya. Meski bukan perkara mudah, warga tetap bisa mendorong pemerintah dan perusahaan untuk melakukan evaluasi Amdal (Analisis Dampak Lingkungan) serta audit operasional secara berkala.
“Jangan pasrah. Kita perlu membela hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Karena sebagaimana aturan dalam Pasal 65 UU No. 32/2009, setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia,” tegas Dr. Dicky.
Sayangnya, bahaya ini kerap diabaikan karena bentuknya yang tak terlihat dan tak berbau jelas. Padahal, zat-zat berbahaya tersebut masuk perlahan melalui udara dan menumpuk dalam organ tubuh manusia.
Baca juga: 5 Bahan Berbahaya yang Sering Ada di Skincare Oplosan dan Efeknya untuk Tubuh
Dicky Budiman, epidemiolog dan ahli kesehatan lingkungan dari Griffith University Australia menjelaskan bahwa pembakaran limbah B3 atau limbah plastik bisa menghasilkan zat karsinogenik yang sangat berbahaya, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun.

Dicky Budiman, epidemiolog dan ahli kesehatan lingkungan dari Griffith University Australia
“Zat tersebut bersifat bioakumulatif, artinya bisa terus menumpuk dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam jangka panjang bisa memicu kanker, bahkan dalam dosis yang sangat kecil sekalipun,” tegas Dr. Dicky.
Selain karsinogen, asap pembakaran limbah juga mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium, serta partikel halus seperti PM2.5 dan PM10. Partikel kecil ini bisa masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan seperti asma, bronkitis, hingga pneumonia.
Paparan berulang terhadap nitrogen dioksida (NOâ‚‚) dan partikel halus juga dapat memicu peradangan pada pembuluh darah, yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke terutama pada lansia dan penderita penyakit kronis.
Tak berhenti di situ, limbah plastik yang terbakar juga bisa berdampak serius pada anak-anak. Zat beracun seperti timbal dan merkuri diketahui dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan kecerdasan, bahkan dikaitkan dengan autisme dan gangguan perilaku. Dioksin dalam asap limbah juga dikenal sebagai endocrine disruptor yang bisa merusak sistem hormon, menyebabkan gangguan menstruasi, penurunan kesuburan, hingga cacat lahir.
“Asap dari limbah B3 juga menghasilkan zat seperti formaldehida dan sulfur dioksida yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pencernaan terutama jika terhirup dalam jangka panjang atau pada konsentrasi tinggi,” jelas Dicky.
Dampak Nyata di Permukiman
Ancaman yang dijelaskan Dr. Dicky kini dirasakan langsung oleh warga salah satu kawasan pemukiman di Kabupaten Tangerang yang lokasinya bersebelahan dengan pabrik pengolahan limbah plastik. Padahal, kawasan tersebut adalah zona pemukiman yang tidak diperuntukkan untuk industri, apalagi pabrik yang menghasilkan limbah berbahaya.
Akibat aktivitas pabrik tersebut, hampir setiap hari warga harus mencium bau plastik terbakar yang sangat menyengat dari limbah yang menyusup hingga ke dalam rumah.
Beberapa warga mengeluhkan gangguan pernapasan, batuk, mual, pusing, dan iritasi mata. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan. “Anak saya matanya belekan dan batuk-batuk terus tiap malam. Kalau bau datang, kami buru-buru tutup semua jendela,” ujar salah seorang ibu.
Nyatanya, paparan limbah B3 juga tidak hanya terjadi lewat udara. Zat-zat beracun bisa mengendap di tanah dan mencemari air tanah terutama saat terjadi kebocoran atau saat hujan turun. “Debu beracun dari limbah terbakar bisa mengendap dan mencemari air tanah. Ini memperbesar risiko kontaminasi makanan dan air minum, yang berdampak sistemik pada kesehatan,” jelas Dr. Dicky.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Dr. Dicky menegaskan pentingnya partisipasi warga dalam menanggapi kondisi ini. Masyarakat yang menemukan praktik pembakaran limbah ilegal dapat segera melaporkannya ke Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, atau Kepolisian setempat.
Dokumentasi berupa foto atau video akan sangat membantu sebagai bukti awal. “Laporan warga sangat penting sebagai bentuk partisipasi aktif. Bentuk forum warga untuk melaporkan kejadian secara kolektif,” sarannya.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengambil langkah perlindungan diri: Gunakan masker N95 atau kain basah bila mencium bau menyengat atau melihat asap pekat. Hindari konsumsi air tanah yang mencurigakan, dan beralihlah ke air galon, air kemasan, atau air dari sumber PAM.
Baca juga: Kenali Bahaya Doomscrolling Untuk Kesehatan Mental dan Cara Menghentikannya
Selain itu juga bisa melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin termasuk pemeriksaan paru-paru, darah, dan deteksi awal gangguan kesehatan lainnya. Meski bukan perkara mudah, warga tetap bisa mendorong pemerintah dan perusahaan untuk melakukan evaluasi Amdal (Analisis Dampak Lingkungan) serta audit operasional secara berkala.
“Jangan pasrah. Kita perlu membela hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Karena sebagaimana aturan dalam Pasal 65 UU No. 32/2009, setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia,” tegas Dr. Dicky.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.