Ketika Festival Jazz Tak Lagi Menyuguhkan Genre Musik Semata
15 July 2025 |
19:52 WIB
Perdebatan soal festival jaz yang tak lagi “ngejazz” kembali mengemuka. Di berbagai gelaran musik berlabel jazz, penonton kerap kali disuguhi musisi pop, R&B, hingga elektronik yang tampil berdampingan dengan nama-nama jazz konvensional.
Beberapa musisi non-jazz terkadang bahkan tampil di panggung utama dan menjadi spotlight. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal apakah festival berlabel musik genre tersebut masih setia pada akarnya, atau tengah berubah kemasan?
Perdebatan mengenai isu ini menguat setelah salah satu musikus jazz legendaris Tanah Air, Indra Lesmana, kembali menggaungkan hal tersebut. Dia belum lama ini mempertanyakan mengapa makin sedikit musisi dari genre itu yang tampil di festival jaz.
“Semakin sedikit musisi jazz tampil di festival jazz. Tanpa jazz, festival jazz kehilangan jiwanya,” tulisnya di Instagram Story.
Baca juga: Jazz Traffic Festival 2025 Siap Ramaikan Surabaya, Raisa hingga Coldiac Bakal Bikin Panggung Bergoyang
Dia pun menyayangkan festival yang membawa embel-embel jazz, tetapi justru lebih banyak mengundang musisi bergenre lain. Sebab, menurutnya, jazz sebagai sebuah musik belumlah mati, para musisinya pun masih eksis.
Menurut Indra, saat ini jazz sedang berevolusi. Hal ini ditandai dengan banyak seniman muda yang membawa napas baru ke dalam jazz. Menurutnya, momentum ini mesti dilihat oleh publik, termasuk para penyelenggara festival.
"Saat ini justru sedang banyaknya talenta jazz hebat-independen, kreatif, dan penuh visi. Dukung mereka. Beri panggung," imbuhnya.
Dirinya berharap festival-festival musik ke depan harus terasa lebih jazzy, dengan cara lebih berani memberi ruang bagi seniman muda jazz untuk berkarya. Dengan cara ini, penonton pun bisa merasakan suguhan berbeda yang lebih dalam dari para musisi-musisi jaz Indonesia.
Sebab, jika festival yang membawa nama jazz saja tak memberi ruang bagi musisinya, Indra khawatir hal ini dapat mengikis visibilitas seniman jazz. Kemudian, hal ini juga dikhawatirkan melemahkan identitas budaya jazz itu sendiri.
Sementara itu, pendiri Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi juga turut memberikan pandangannya. Dia menilai bahwa jazz tak semata-mata dipahami sebagai genre. Lebih dari itu, dia menilai jazz sebagai semangat yang menjunjung keterbukaan, dialog, dan improvisasi sesuai konteks zaman.
"Karena jazz, buat saya, bukan soal berapa banyak improvisasi atau seberapa rumit chord progression. Saya bermimpi Prambanan Jazz menjadi tempat di mana jazz tidak disembah, tapi dihidupi," tuturnya dalam unggahan Instagram resminya.
Anas membayangkan festival jazz bisa menjadi ruang pertemuan antara musik dan manusia, tempat bunyi bersahutan dengan langit, hingga masa lalu berdamai dengan kekinian. Menurutnya, panggung musik tak perlu terlalu steril. Justru, dengan ruang yang berdebu, berpeluh, dengan berbagai hal di dalamnya itu yang menjadinya makin menarik.
Bagi Anas, festival impiannya adalah tempat di mana Miles Davis tak keberatan duduk di bangku penonton saat Nasida Ria menyanyikan lagu "Perdamaian" dengan irama swing.
Tempat Raisa menyisipkan warna jazz dalam repertoarnya, Ardhito menampilkan nuansa melankolis dengan rhodes dan brushing snare, dan Shaggydog datang dengan ledakan brass section yang menggugah semangat.
Baginya, menghadirkan musisi lintas genre di festival jazz bukanlah penyimpangan, melainkan keberanian untuk merayakan keragaman. Dia mengutip Miles Davis yang mengatakan, "Jazz is the big umbrella." Dalam semangat itu, Davis menggandeng Chick Corea, John McLaughlin, hingga Marcus Miller untuk menjelajahi batas-batas musikal.
Begitu pula Billie Holiday yang meminjam puisi, Kamasi Washington yang merangkul hiphop, dan Esperanza Spalding yang menggabungkan jazz dengan avant-pop serta teater. Menurutnya, lintas genre bukan lagi hal baru.
Fenomena serupa terlihat di berbagai belahan dunia. Di North Sea Jazz, Herbie Hancock berbagi panggung dengan John Legend. Di Montreux, Prince dan Radiohead tampil sejajar dengan roh Ella Fitzgerald.
Di Umbria Jazz Festival, Sting tampil sepanggung dengan Wayne Shorter. Dan di Copenhagen Jazz Festival, lebih dari 1.400 konser digelar dalam 10 hari, dengan beragam warna musik yang tak melulu jazz.
Baca juga: Hanyut dalam Alunan Bossanova Bersama Danilla di BNI Java Jazz 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Beberapa musisi non-jazz terkadang bahkan tampil di panggung utama dan menjadi spotlight. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal apakah festival berlabel musik genre tersebut masih setia pada akarnya, atau tengah berubah kemasan?
Perdebatan mengenai isu ini menguat setelah salah satu musikus jazz legendaris Tanah Air, Indra Lesmana, kembali menggaungkan hal tersebut. Dia belum lama ini mempertanyakan mengapa makin sedikit musisi dari genre itu yang tampil di festival jaz.
“Semakin sedikit musisi jazz tampil di festival jazz. Tanpa jazz, festival jazz kehilangan jiwanya,” tulisnya di Instagram Story.
Baca juga: Jazz Traffic Festival 2025 Siap Ramaikan Surabaya, Raisa hingga Coldiac Bakal Bikin Panggung Bergoyang
Dia pun menyayangkan festival yang membawa embel-embel jazz, tetapi justru lebih banyak mengundang musisi bergenre lain. Sebab, menurutnya, jazz sebagai sebuah musik belumlah mati, para musisinya pun masih eksis.
Menurut Indra, saat ini jazz sedang berevolusi. Hal ini ditandai dengan banyak seniman muda yang membawa napas baru ke dalam jazz. Menurutnya, momentum ini mesti dilihat oleh publik, termasuk para penyelenggara festival.
"Saat ini justru sedang banyaknya talenta jazz hebat-independen, kreatif, dan penuh visi. Dukung mereka. Beri panggung," imbuhnya.
Dirinya berharap festival-festival musik ke depan harus terasa lebih jazzy, dengan cara lebih berani memberi ruang bagi seniman muda jazz untuk berkarya. Dengan cara ini, penonton pun bisa merasakan suguhan berbeda yang lebih dalam dari para musisi-musisi jaz Indonesia.
Sebab, jika festival yang membawa nama jazz saja tak memberi ruang bagi musisinya, Indra khawatir hal ini dapat mengikis visibilitas seniman jazz. Kemudian, hal ini juga dikhawatirkan melemahkan identitas budaya jazz itu sendiri.
Jazz Sebagai Semangat Keterbukaan
Sementara itu, pendiri Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi juga turut memberikan pandangannya. Dia menilai bahwa jazz tak semata-mata dipahami sebagai genre. Lebih dari itu, dia menilai jazz sebagai semangat yang menjunjung keterbukaan, dialog, dan improvisasi sesuai konteks zaman. "Karena jazz, buat saya, bukan soal berapa banyak improvisasi atau seberapa rumit chord progression. Saya bermimpi Prambanan Jazz menjadi tempat di mana jazz tidak disembah, tapi dihidupi," tuturnya dalam unggahan Instagram resminya.
Anas membayangkan festival jazz bisa menjadi ruang pertemuan antara musik dan manusia, tempat bunyi bersahutan dengan langit, hingga masa lalu berdamai dengan kekinian. Menurutnya, panggung musik tak perlu terlalu steril. Justru, dengan ruang yang berdebu, berpeluh, dengan berbagai hal di dalamnya itu yang menjadinya makin menarik.
Bagi Anas, festival impiannya adalah tempat di mana Miles Davis tak keberatan duduk di bangku penonton saat Nasida Ria menyanyikan lagu "Perdamaian" dengan irama swing.
Tempat Raisa menyisipkan warna jazz dalam repertoarnya, Ardhito menampilkan nuansa melankolis dengan rhodes dan brushing snare, dan Shaggydog datang dengan ledakan brass section yang menggugah semangat.
Baginya, menghadirkan musisi lintas genre di festival jazz bukanlah penyimpangan, melainkan keberanian untuk merayakan keragaman. Dia mengutip Miles Davis yang mengatakan, "Jazz is the big umbrella." Dalam semangat itu, Davis menggandeng Chick Corea, John McLaughlin, hingga Marcus Miller untuk menjelajahi batas-batas musikal.
Begitu pula Billie Holiday yang meminjam puisi, Kamasi Washington yang merangkul hiphop, dan Esperanza Spalding yang menggabungkan jazz dengan avant-pop serta teater. Menurutnya, lintas genre bukan lagi hal baru.
Fenomena serupa terlihat di berbagai belahan dunia. Di North Sea Jazz, Herbie Hancock berbagi panggung dengan John Legend. Di Montreux, Prince dan Radiohead tampil sejajar dengan roh Ella Fitzgerald.
Di Umbria Jazz Festival, Sting tampil sepanggung dengan Wayne Shorter. Dan di Copenhagen Jazz Festival, lebih dari 1.400 konser digelar dalam 10 hari, dengan beragam warna musik yang tak melulu jazz.
Baca juga: Hanyut dalam Alunan Bossanova Bersama Danilla di BNI Java Jazz 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.