Lokovasia 2025 Resmi Dibuka, Target Lahirkan Komponis Musik Tradisi Muda
12 July 2025 |
19:00 WIB
Musik tradisi bukan sekadar rangkaian bunyi-bunyian yang menghibur telinga. Lebih dari itu, musik tradisi adalah penanda kehidupan sebuah komunitas—bunyi yang menyatu dengan sejarah, ritual, hingga cara masyarakat mengekspresikan rasa.
Di banyak daerah, gamelan, rebab, kendang, hingga suling bukan hanya dipentaskan, tetapi juga jadi saksi lahirnya generasi ke generasi. Namun, seiring perubahan zaman dan derasnya dentuman musik digital, panggung untuk musik tradisi semakin sulut ditemukan.
Baca juga: Cerita Komposer Cine Concert Samsara, Menyatukan Musik Tradisi dengan EDM dalam Film Bisu
Premis inilah yang jadi latar belakang lahirnya Lokakarya Konservasi dan Inovasi Musik Tradisi Indonesia (Lokovasia). Prgoram ini diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan sebagai langkah nyata menjaga agar bunyi-bunyian tradisi tidak sekadar hidup di buku sejarah atau museum.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (PPPK) Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengatakan bahwa Lokovasia bukan hanya sekadar pertemuan seniman. Lebih dari itu, ia jadi wadah untuk merawat semangat sekaligus meregenerasi pegiat musik tradisi melalui pendekatan konservasi dan inovasi yang berjalan beriringan.
“Musik tradisi tidak cukup hanya disimpan dalam arsip atau panggung seremonial. Ia harus tetap hidup, dinamis, dan bisa menembus batas baru, termasuk pasar internasional,” ujar Mahendra saat membuka Lokovasia 2025 secara daring pada Kamis (10/7).
Mahendra meyakini, dengan pendekatan yang tepat, musik tradisi Indonesia punya peluang besar menembus arus kebudayaan populer. Dia optimis gelombang Indonesian Wave—fenomena budaya pop lokal yang mendunia—bisa lahir lewat musik tradisi, seperti di Negra tetangga.
Hal senada disampaikan Ketua Lokovasia 2025, Setyawan Jayantoro. Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan tren serba digital, musik tradisi perlu direspons dengan cara yang kontekstual, bukan sekadar seremonial atau simbolik. Generasi muda perlu disediakan ruang yang memancing mereka berani bereksperimen, tetapi tetap berpijak pada akar budaya Nusantara.
Memasuki tahun ketiganya, Lokovasia didesain sebagai jembatan antara pengetahuan musik tradisi yang diwariskan para maestro dengan keberanian bereksperimen yang lahir dari anak muda. Lewat lokakarya ini, peserta diharapkan berani menggabungkan pola bunyi lama dengan sentuhan teknologi atau tren musik masa kini.
Tak hanya berhenti di panggung diskusi, Lokovasia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah bahkan lintas negara Asia. Kolaborasi ini diharapkan memicu pertukaran ide dan membuka kemungkinan lahirnya karya musik tradisi baru yang bisa didengar audiens lebih luas, tak terbatas hanya di panggung lokal.
“Ruang-ruang aktif seperti ini penting supaya ada interpretasi ulang yang segar. Kita butuh inovasi, tetapi tanpa kehilangan akar identitas budaya itu sendiri,” kata Setyawan.
Tahun ini, Lokovasia kembali menggandeng nama-nama besar di kancah musik kontemporer Indonesia. Di antaranya Otto Sidharta dan Dewa Alit yang dikenal sebagai musisi dan komponis eksperimental berbasis bunyi Nusantara. Para mentor ini akan membimbing peserta terpilih agar ide-ide mereka terarah, layak tampil, dan tetap punya pijakan kuat pada tradisi.
Rangkaian Lokovasia 2025 dimulai dengan proses pendaftaran peserta pada 11 Juli sampai 11 September 2025. Nantinya, peserta yang lolos kurasi akan mendapat bimbingan daring, kunjungan mentor ke daerah asal (visitasi), hingga sesi pengembangan karya yang intensif.
Program ini terbuka untuk siapa saja, mulai dari seniman daerah, peneliti musik, mahasiswa, hingga komunitas musik tradisi. Tidak hanya itu, pemerintah daerah, akademisi, hingga publik luas juga didorong untuk terlibat agar ekosistemnya tumbuh dan tidak hanya bergantung pada segelintir pegiat.
Sebagai penutup, seluruh karya hasil eksplorasi peserta akan dipentaskan melalui showcase dan ekshibisi di Kampung Budaya FBS UNNES dan Taman Budaya Raden Saleh pada akhir Oktober 2025. Pembukaan Lokovasia pun diawali dengan sosialisasi dan introduksi agar makin banyak generasi muda tergugah untuk ikut terlibat.
Lewat langkah ini, pegiat seni berharap musik tradisi tidak lagi hanya jadi kenangan di panggung adat, tetapi tetap menemukan pendengar barunya di era musik digital. Lokovasia 2025 juga menegaskan bahwa musik tradisi bukan sekadar pusaka masa lalu, tetapi sumber inspirasi yang layak diolah menjadi karya baru.
Baca juga: Lokovasia 2024 & Penguatan Eksistensi Musik Tradisi Lewat Pemajuan Kebudayaan
Di banyak daerah, gamelan, rebab, kendang, hingga suling bukan hanya dipentaskan, tetapi juga jadi saksi lahirnya generasi ke generasi. Namun, seiring perubahan zaman dan derasnya dentuman musik digital, panggung untuk musik tradisi semakin sulut ditemukan.
Baca juga: Cerita Komposer Cine Concert Samsara, Menyatukan Musik Tradisi dengan EDM dalam Film Bisu
Premis inilah yang jadi latar belakang lahirnya Lokakarya Konservasi dan Inovasi Musik Tradisi Indonesia (Lokovasia). Prgoram ini diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan sebagai langkah nyata menjaga agar bunyi-bunyian tradisi tidak sekadar hidup di buku sejarah atau museum.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (PPPK) Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengatakan bahwa Lokovasia bukan hanya sekadar pertemuan seniman. Lebih dari itu, ia jadi wadah untuk merawat semangat sekaligus meregenerasi pegiat musik tradisi melalui pendekatan konservasi dan inovasi yang berjalan beriringan.
“Musik tradisi tidak cukup hanya disimpan dalam arsip atau panggung seremonial. Ia harus tetap hidup, dinamis, dan bisa menembus batas baru, termasuk pasar internasional,” ujar Mahendra saat membuka Lokovasia 2025 secara daring pada Kamis (10/7).
Mahendra meyakini, dengan pendekatan yang tepat, musik tradisi Indonesia punya peluang besar menembus arus kebudayaan populer. Dia optimis gelombang Indonesian Wave—fenomena budaya pop lokal yang mendunia—bisa lahir lewat musik tradisi, seperti di Negra tetangga.
Hal senada disampaikan Ketua Lokovasia 2025, Setyawan Jayantoro. Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan tren serba digital, musik tradisi perlu direspons dengan cara yang kontekstual, bukan sekadar seremonial atau simbolik. Generasi muda perlu disediakan ruang yang memancing mereka berani bereksperimen, tetapi tetap berpijak pada akar budaya Nusantara.
Memasuki tahun ketiganya, Lokovasia didesain sebagai jembatan antara pengetahuan musik tradisi yang diwariskan para maestro dengan keberanian bereksperimen yang lahir dari anak muda. Lewat lokakarya ini, peserta diharapkan berani menggabungkan pola bunyi lama dengan sentuhan teknologi atau tren musik masa kini.
Tak hanya berhenti di panggung diskusi, Lokovasia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah bahkan lintas negara Asia. Kolaborasi ini diharapkan memicu pertukaran ide dan membuka kemungkinan lahirnya karya musik tradisi baru yang bisa didengar audiens lebih luas, tak terbatas hanya di panggung lokal.
“Ruang-ruang aktif seperti ini penting supaya ada interpretasi ulang yang segar. Kita butuh inovasi, tetapi tanpa kehilangan akar identitas budaya itu sendiri,” kata Setyawan.
Tahun ini, Lokovasia kembali menggandeng nama-nama besar di kancah musik kontemporer Indonesia. Di antaranya Otto Sidharta dan Dewa Alit yang dikenal sebagai musisi dan komponis eksperimental berbasis bunyi Nusantara. Para mentor ini akan membimbing peserta terpilih agar ide-ide mereka terarah, layak tampil, dan tetap punya pijakan kuat pada tradisi.
Rangkaian Lokovasia 2025 dimulai dengan proses pendaftaran peserta pada 11 Juli sampai 11 September 2025. Nantinya, peserta yang lolos kurasi akan mendapat bimbingan daring, kunjungan mentor ke daerah asal (visitasi), hingga sesi pengembangan karya yang intensif.
Program ini terbuka untuk siapa saja, mulai dari seniman daerah, peneliti musik, mahasiswa, hingga komunitas musik tradisi. Tidak hanya itu, pemerintah daerah, akademisi, hingga publik luas juga didorong untuk terlibat agar ekosistemnya tumbuh dan tidak hanya bergantung pada segelintir pegiat.
Sebagai penutup, seluruh karya hasil eksplorasi peserta akan dipentaskan melalui showcase dan ekshibisi di Kampung Budaya FBS UNNES dan Taman Budaya Raden Saleh pada akhir Oktober 2025. Pembukaan Lokovasia pun diawali dengan sosialisasi dan introduksi agar makin banyak generasi muda tergugah untuk ikut terlibat.
Lewat langkah ini, pegiat seni berharap musik tradisi tidak lagi hanya jadi kenangan di panggung adat, tetapi tetap menemukan pendengar barunya di era musik digital. Lokovasia 2025 juga menegaskan bahwa musik tradisi bukan sekadar pusaka masa lalu, tetapi sumber inspirasi yang layak diolah menjadi karya baru.
Baca juga: Lokovasia 2024 & Penguatan Eksistensi Musik Tradisi Lewat Pemajuan Kebudayaan
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.