Seniman sekaligus penata artistik film, Dita Gambiro (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Merayakan Memori & Waktu Lewat Instalasi Chronospira Karya Dita Gambiro

08 July 2025   |   20:14 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Seniman sekaligus penata artistik film, Dita Gambiro, menghadirkan sebuah instalasi mixed media yang menggugah berjudul Chronospira. Karya ini menjadi bentuk perluasan narasi dari film garapan sutradara Yandy Laurens berjudul Sore, yang akan mulai tayang di bioskop pada 10 Juli 2025 mendatang.

Chronospira berasal dari dua kata, yakni chrono yang berarti waktu dan spira dari kata spiral, yang juga menggambarkan bentuk dari instalasi ini. Dita mengeksplorasi hubungan antara memori dan waktu, dua konsep yang kerap saling berkaitan dan menjadi pusat refleksi dalam narasi visualnya. 

Bentuk spiral dari instalasi ini bukan sekadar desain visual, melainkan metafora perjalanan hidup karakter Sore yang menjadi inspirasi utamanya. Sore adalah sosok yang terperangkap dalam putaran waktu demi menyelamatkan suaminya, Jonathan.

Dia mengetahui masa depan, tetapi tidak semudah itu bagi Waktu untuk mengizinkan Sore mengintervensi takdir Jonathan. Melalui karya ini, Dita seperti tengah menggambarkan perjalanan sebagai suatu laku yang kerap hanya berputar, kadang kembali ke titik yang sama tapi dengan pemahaman berbeda. 

Baca juga: Benny Raharjo Mengarsiteki Kritik Sosial lewat Pameran Pro-Gress di Neo Gallery 
 

Aktor Dion Wiyoko di pameran Chronospira (Sumber gambar: Instagram/Yandylaurens)

Aktor Dion Wiyoko di pameran Chronospira (Sumber gambar: Instagram/Yandylaurens)

Ada banyak pintu masuk ke dalam instalasi ini, pengunjung pun bebas memilihnya. Ketika pengunjung masuk ke dalam instalasi ini, mereka seolah berjalan menyusuri lapisan demi lapisan waktu. Di dalamnya, akan ditemui banyak percabangan, ruang untuk berbelok, bahkan untuk melihat sisi lain dari perjalanan mereka sebelumnya. 

Beberapa bagian terbuat dari kain yang menerawang, memungkinkan pandangan menembus batas, layaknya ingatan yang tiba-tiba menembus waktu. Saat sudah berada di dalam, ada kemungkinan pengunjung akan berjalan dan tanpa sadar kembali ke tempat semula. 

Namun, pengunjung juga bisa terus berjalan dan memilih jalan baru, lalu sampai di suatu titik, melihat kembali ke arah yang sama dengan pandangan yang berbeda. 

Perjalanan memasuki instalasi ini seperti menggambarkan bagaimana manusia mengingat, merindukan, atau menafsir ulang masa lalu dan masa depan. Waktu, barang kali bukan garis lurus yang pasti, tapi sebuah jalur yang berputar. Terkadang membawa kita kembali ke ingatan lampai, tapi juga mendorong kita ke kemungkinan masa depan.

Sepanjang jalur spiral, pengunjung akan menemukan fragmen visual yang lekat dengan dunia Sore, dari boneka scholar bear, paprika, gambar kamera, potongan masakan, salju, lampu tidur, hingga aurora. Semuanya hadir seperti potongan ingatan dalam kepala seorang tokoh yang tak ingin dilupakan. 
 

Aktris Sheila Dara di pameran Chronospira (Sumber gambar: Instagram/Yandylaurens)

Aktris Sheila Dara di pameran Chronospira (Sumber gambar: Instagram/Yandylaurens)

Melalui instalasi ini, Dita tidak hanya memperluas pengalaman sinematik menjadi pengalaman spasial, tetapi juga mengajak kita merenung, bahwa mungkin waktu bukan sesuatu yang kita lewati begitu saja, melainkan sesuatu yang perlu kita hayati. Di dalamnya ada yang berulang, berbelok, dan kadang harus dilihat kembali dari sisi berbeda. 

Spiral menjadi cara kita memahami bahwa masa lalu dan masa depan tak pernah benar-benar jauh, keduanya terus saling berbisik dalam putaran yang tak pernah sepenuhnya selesai. Di titik pusat spiral, pengunjung akan melihat sebuah lanskap wilayah yang tampak misterius. Namun, lanskap kota ini baru benar-benar dimaknai setelah menyaksikan filmnya di bioskop. 

Menurut Dita, Chronospira dapat dinikmati dengan dua pendekatan berbeda. Cara pertama adalah datang sebelum menonton film Sore. Dengan datang tanpa ekspektasi, pengunjung diajak untuk masuk dengan perasaan yang lepas dan terbuka, seperti merasakan warna, bentuk, cahaya, serta ritme perjalanan spiral itu sendiri. 

Setiap orang bisa menemukan pengalaman yang unik, sesuai dengan kesan pertama yang ditangkap dari instalasi ini. Pendekatan kedua adalah datang setelah menonton filmnya. Pada kunjungan kedua ini, pengalaman yang muncul bisa terasa sangat berbeda. Elemen-elemen visual yang semula hanya tampak seperti potongan simbol, kini terhubung dengan konteks cerita dan emosi dari film. 

“Saat datang untuk kedua kalinya, biasanya kita akan punya pemahaman yang berbeda, meski apa yang kita lihat sebenarnya sama,” ujar Dita. 

Dita menceritakan bahwa gagasan awal untuk menciptakan Chronospira muncul sekitar dua bulan lalu. Saat itu, dia diminta untuk menerjemahkan ulang film Sore ke dalam medium seni visual. Yandy Laurens, sutradara film tersebut, ingin membawa sinema ke bentuk ekspresi lain, semacam mengalihwahanakan cerita ke ranah yang lebih luas. 

Dari sana, Dita dan Yandy mulai berdiskusi mengenai pendekatan seni apa yang paling tepat. Awalnya, Dita sempat terpikir untuk menampilkan kembali elemen-elemen yang digunakan sebagai properti syuting di film Sore. Rencana itu akan menjadi semacam rekonstruksi set film, yang bisa dihadirkan secara langsung kepada publik.

Namun, rencana itu kemudian ditinggalkan. Keduanya justru merasa akan lebih menarik jika karya ini berdiri sebagai bentuk seni baru, bukan sekadar perpanjangan set film. Akan tetapi, dirinya dan Yandy kerap terpaku karena memposisikan diri sebagai filmmaker.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Cerita Films (@cerita_films)


Sebuah ide kemudian tercipta. Dita dan Yandy menonton ulang film Sore seolah-olah sebagai penonton biasa, bukan sebagai pembuat film. Dari pengalaman menonton itu, mereka menemukan kembali nuansa emosional yang terasa berbeda, meskipun Dita sudah mengenal naskahnya dan ikut terlibat dalam proses syuting. Dita merasa ada sesuatu yang disebutnya “magis”.

Dari situlah, Chronospira mulai dibentuk. Dia merangkai kembali benda-benda ikonik dari film Sore, yang erat kaitannya dengan waktu dan ingatan, ke dalam bentuk instalasi. Mayoritas karyanya dibuat menggunakan kain tile, tetapi dirinya juga menggabungkan medium lain seperti kayu. Semua motif dan gambar yang ditampilkan memiliki keterkaitan langsung dengan film.

“Setiap motif kain atau gambar dalam instalasi ini menjadi saksi dari perjalanan Sore. Misalnya di bagian depan, ada kain berwarna biru. Itu adalah motif kain yang dikenakan Sore selama perjalanannya dalam film,” jelas Dita.

Dita mengatakan instalasi ini juga dibuat dengan melihat ruang yang ada di Lobby Artotel Gelora Senayan. Alih-alih memilih di tengah, Dita justru memilih instalasinya diletakkan di bagian kiri dari lobby, tepat di bawah tangga. Menurutnya, selain ini juga menjadi ARTSpace hotel, tempat tersebut bisa menciptakan dimensi menikmati karya yang baru. 

Sebab, selain bisa dinikmati dengan memasuki ruang spiral, pengunjung pun bisa melihat karya ini dari atas, dengan terlebih dahulu naik ke tangga hotel. Sudut pandang yang luas ini diharapkannya makin membuat karya ini punya ruang interpretasi yang besar.

Instalasi Chronospira dapat dikunjungi secara gratis mulai 8 Juli hingga 7 Agustus 2025 di Lobby Artotel Gelora Senayan. 

Baca juga: Bersentuhan dengan Karya Dalam Pameran Seni Instalasi Save Our Future Eko Nugroho

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Rekomendasi Film Horor Barat Terbaik 2025, Tontonan yang Siap Menghantui

BERIKUTNYA

Rutinitas 1 Menit Bikin Rumah Selalu Terlihat Rapi & Bersih

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: