Anak Usia 1-7 Tahun Paling Rentan Terkena Sindrom Nefrotik, Bagaimana Pencegahannya?
08 July 2025 |
16:26 WIB
Kebocoran protein dalam urine atau yang dikenal sebagai sindrom nefrotik belakangan mendapat perhatian khusus, terutama pada kasus yang menimpa anak-anak. Sindrom nefrotik merupakan kondisi yang terjadi ketika bagian penyaring ginjal (glomerulus) mengalami kerusakan, sehingga protein bocor ke dalam urine.
Dalam kondisi ini, protein yang seharusnya tetap berada dalam tubuh justru ikut terbuang melalui urine. Hal ini menyebabkan tubuh kehilangan protein dalam jumlah besar. Jika tak segera ditangani dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, menurunkan tekanan onkotik dalam pembuluh darah, serta memicu pembengkakan dan meningkatkan risiko kerusakan ginjal dalam jangka panjang.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi, Ahmedz Widiasta, mengatakan anak-anak dengan usia 1-7 tahun menjadi yang paling rentan terkena sindrom nefrotik. Dalam pengamatannya sebagai dokter, biasanya serangan pertama dari sindrom nefrotik terjadi di rentang usia tersebut.
Baca juga: Mengenal Sindrom Metabolik, Penyebab Banyak Penyakit Kronis
Meski begitu, Ahmedz mengingatkan pentingnya kewaspadaan apabila serangan pertama justru muncul pada anak usia di bawah satu tahun atau di atas tujuh tahun, seperti delapan tahun. Sebab, pada usia tersebut, ada kemungkinan respons tubuh pasien terhadap penyakit ini berbeda sehingga butuh penanganan khusus.
"Jika terkena di bawah satu tahun atau di atas tujuh tahun, sangat besar kemungkinannya resisten steroid, yakni tidak merespons pengobatan standar dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks," ungkapnya dalam Seminar Media IDAI tentang Kebocoran Protein pada Anak, Selasa (8/7/2025).
Secara umum, sindrom nefrotik terbagi menjadi dua jenis, yakni responsif steroid dan resisten steroid. Responsif steroid adalah kondisi ketika tubuh yang terkena sindrom merespons baik terhadap terapi steroid, sedangkan resisten steroid adalah kondisi ketika tubuh tidak menunjukkan perbaikan gejala setelah diberikan terapi kortikosteroid.
"Kalau dari jenis kelamin, secara umum sindrom nefrotik lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding perempuan," imbuhnya.
Dokter Ahmedz mengatakan ada tiga gejala penting yang dapat dilihat oleh orang tua jika sang anak terkena sindrom nefrotik. Pertama adalah hipoalbuminema, yakni ketika kadar albumin dalam darah si anak terlalu rendah.
Sebab, ketika kadar albumin rendah, cairan bisa bocor keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di jaringan lain. Secara awam, kondisi ini bisa dilihat secara kasat mata, yakni adanya pembengkakan, terutama pada wajah dan tungkai.
Tanda kedua yang dapat dikenali adalah munculnya urine berbusa. Hal ini karena sering kali urine berbusa disebabkan oleh masalah ginjal, terutama ketika ginjal tidak dapat menyaring protein dengan baik sehingga protein bocor ke dalam urine. Tanda ketiga yang juga perlu diwaspadai adalah penurunan drastis dalam volume urine yang dikeluarkan.
Ahmedz menyebut upaya pencegahan sindrom nefrotik pada anak perlu dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari penerapan gaya hidup sehat hingga deteksi dini yang konsisten. Kemudian, penerapan pola makan bergizi seimbang, pengelolaan penyakit penyerta seperti infeksi atau gangguan imun, serta menjaga daya tahan tubuh juga menjadi fondasi utama yang penting.
Tak lupa, katanya, kebersihan diri juga memainkan peran penting. Menurutnya, anak-anak perlu kembali melakukan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan secara teratur dan menghindari paparan dari orang yang sedang sakit sehingga membantu mencegah infeksi yang kerap menjadi pencetus sindrom nefrotik.
Langkah yang tak kalah penting adalah pemeriksaan urine secara berkala sebagai bentuk deteksi dini. Skrining urine setahun sekali bagi anak usia tiga tahun ke atas sangat dianjurkan.
Menurutnya, pemeriksaan sederhana ini bisa menjadi upaya preventif yang jauh lebih hemat dibandingkan harus menangani komplikasi berat seperti penyakit ginjal kronik. Menurut dokter, biayanya hanya sekitar Rp800 per anak per tahun.
Ini jauh lebih murah dibandingkan dengan pengeluaran jangka panjang untuk terapi cuci darah. Dirinya berharap BPJS juga bisa mempertimbangkan klaim khusus tersebut untuk skrining urine secara rutin.
Baca juga: Kenali Gejala Sindrom Tourette yang Diderita Penyanyi Lewis Capaldi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam kondisi ini, protein yang seharusnya tetap berada dalam tubuh justru ikut terbuang melalui urine. Hal ini menyebabkan tubuh kehilangan protein dalam jumlah besar. Jika tak segera ditangani dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, menurunkan tekanan onkotik dalam pembuluh darah, serta memicu pembengkakan dan meningkatkan risiko kerusakan ginjal dalam jangka panjang.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi, Ahmedz Widiasta, mengatakan anak-anak dengan usia 1-7 tahun menjadi yang paling rentan terkena sindrom nefrotik. Dalam pengamatannya sebagai dokter, biasanya serangan pertama dari sindrom nefrotik terjadi di rentang usia tersebut.
Baca juga: Mengenal Sindrom Metabolik, Penyebab Banyak Penyakit Kronis
Meski begitu, Ahmedz mengingatkan pentingnya kewaspadaan apabila serangan pertama justru muncul pada anak usia di bawah satu tahun atau di atas tujuh tahun, seperti delapan tahun. Sebab, pada usia tersebut, ada kemungkinan respons tubuh pasien terhadap penyakit ini berbeda sehingga butuh penanganan khusus.
"Jika terkena di bawah satu tahun atau di atas tujuh tahun, sangat besar kemungkinannya resisten steroid, yakni tidak merespons pengobatan standar dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks," ungkapnya dalam Seminar Media IDAI tentang Kebocoran Protein pada Anak, Selasa (8/7/2025).
Secara umum, sindrom nefrotik terbagi menjadi dua jenis, yakni responsif steroid dan resisten steroid. Responsif steroid adalah kondisi ketika tubuh yang terkena sindrom merespons baik terhadap terapi steroid, sedangkan resisten steroid adalah kondisi ketika tubuh tidak menunjukkan perbaikan gejala setelah diberikan terapi kortikosteroid.
"Kalau dari jenis kelamin, secara umum sindrom nefrotik lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding perempuan," imbuhnya.
Kenali Gejala & Pencegahan
Dokter Ahmedz mengatakan ada tiga gejala penting yang dapat dilihat oleh orang tua jika sang anak terkena sindrom nefrotik. Pertama adalah hipoalbuminema, yakni ketika kadar albumin dalam darah si anak terlalu rendah.Sebab, ketika kadar albumin rendah, cairan bisa bocor keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di jaringan lain. Secara awam, kondisi ini bisa dilihat secara kasat mata, yakni adanya pembengkakan, terutama pada wajah dan tungkai.
Tanda kedua yang dapat dikenali adalah munculnya urine berbusa. Hal ini karena sering kali urine berbusa disebabkan oleh masalah ginjal, terutama ketika ginjal tidak dapat menyaring protein dengan baik sehingga protein bocor ke dalam urine. Tanda ketiga yang juga perlu diwaspadai adalah penurunan drastis dalam volume urine yang dikeluarkan.
Ahmedz menyebut upaya pencegahan sindrom nefrotik pada anak perlu dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari penerapan gaya hidup sehat hingga deteksi dini yang konsisten. Kemudian, penerapan pola makan bergizi seimbang, pengelolaan penyakit penyerta seperti infeksi atau gangguan imun, serta menjaga daya tahan tubuh juga menjadi fondasi utama yang penting.
Tak lupa, katanya, kebersihan diri juga memainkan peran penting. Menurutnya, anak-anak perlu kembali melakukan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan secara teratur dan menghindari paparan dari orang yang sedang sakit sehingga membantu mencegah infeksi yang kerap menjadi pencetus sindrom nefrotik.
Langkah yang tak kalah penting adalah pemeriksaan urine secara berkala sebagai bentuk deteksi dini. Skrining urine setahun sekali bagi anak usia tiga tahun ke atas sangat dianjurkan.
Menurutnya, pemeriksaan sederhana ini bisa menjadi upaya preventif yang jauh lebih hemat dibandingkan harus menangani komplikasi berat seperti penyakit ginjal kronik. Menurut dokter, biayanya hanya sekitar Rp800 per anak per tahun.
Ini jauh lebih murah dibandingkan dengan pengeluaran jangka panjang untuk terapi cuci darah. Dirinya berharap BPJS juga bisa mempertimbangkan klaim khusus tersebut untuk skrining urine secara rutin.
Baca juga: Kenali Gejala Sindrom Tourette yang Diderita Penyanyi Lewis Capaldi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.