Penulis Cicilia Oday Sebut AI Sabotase Profesi
07 July 2025 |
20:32 WIB
Seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence generatif, banyak hal bisa dilakukan oleh berbagai pihak di beragam sektor. Salah satunya adalah karya tulis – baik novel maupun cerpen. Keberadaannya menjadi tantangan bagi penulis karena menghilangkan keaslian karya.
Penulis Cicilia Oday menilai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif menjadi tantangan bagi penulis karya sastra yang ingin bekerja secara murni, menulis benar-benar mengandalkan imajinasi. “Jadi sebenarnya saya tidak menyukai AI. Untuk sekarang ya, untuk sekarang, saya tidak menyukai AI,” katanya kepada Hypeabis.id.
Baca juga: OpenAI Kasih Bocoran Penting Lewat Podcast tentang Masa Depan ChatGPT
Ketidaksukaan Cicilia terhadap kecerdasan buatan dalam pembuatan karya bukan tanpa alasan. Dia sebagai penulis merasa disabotase dengannya. Kecerdasan buatan dapat mempermudah orang-orang yang malas berpikir dan membaca. Namun, mereka bisa menulis dengan baik hanya karena bantuan teknologi.
Meskipun begitu, dia tidak merasa khawatir dengan keberadaan kecerdasan buatan itu. Dia meyakini, seleksi alam akan terjadi terhadap karya yang dihasilkan oleh AI dan juga karya dari penulis yang benar-benar mengandalkan imajinasinya.
Bagaimana pun, sentuhan manusia dalam karya tulis yang dihasilkan tidak dapat tergantikan oleh sentuhan teknologi. “Ya sudah, kalau ada yang mau pakai AI, ya silahkan. Namun, itu tidak autentik,” ujarnya.
Tidak hanya itu, keberadaan kecerdasan buatan juga mengganggunya sebagai penulis dari sisi hak cipta. Pada sat ini, sejumlah penulis di luar negeri juga memberikan perhatian terhadap kecerdasan buatan dan menentangnya lantaran merasa terancam karyanya akan diambil begitu saja tanpa dasar hukum.
Cicilia memang tidak menyukai kecerdasan buatan terkait dengan penggunaannya dalam membuat karya. Namun, bukan berarti tidak menggunakannya sama sekali. Dia mengaku bahwa penggunaan kecerdasan buatan yang ada saat ini hanya sebatas pencarian referensi.
Penulis Sasti Gotama juga menilai bahwa karya tulis hasil kecerdasan buatan akan berbeda dengan karya tanpanya. Penulis cerita pendek itu memiliki pengalaman ada salah satu peserta dalam suatu ajang yang menggunakan AI untuk menciptakan karya secara utuh.
Karya itu langsung dapat diketahui karena ada pattern atau pola tertentu yang dapat dilihat dari karya hasil kecerdasan buatan, seperti metafora yang berulang, deskripsi yang sangat khas AI, dan sebagainya.
Kecerdasan buatan memang dapat membantu penulis. Namun, terbatas untuk mencari ide atau permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Selama ini, Sasti mengaku belum pernah menggunakan AI untuk menulis.
Dia memiliki kepercayaan bahwa menulis itu dari jiwa yang berasal dari otak manusia serta tidak dapat disamai oleh kecerdasan buatan meskipun teknologi akan berkembang lebih jauh lagi dari yang ada saat ini. “Jadi, untuk sebagai pemicu dari proses kreatif. Namun, bukan berarti itu digunakan secara utuh,” ujarnya.
Terkait dengan ancaman kecerdasan buatan terhadap profesi penulis, asosiasi penulis asal Amerika Serikat The Authors Guild menilai bahwa penggunaan AI untuk membuat karya sastra dan seni berbeda dari penggunaan AI lainnya dalam satu aspek yang mencolok.
Komunitas manusia terikat bersama oleh budaya, seperti sastra, seni, musik, dan bentuk ekspresi lainnya. Dengan begitu, peningkatan kecerdasan buatan memerlukan internvensi hukum dan kebijakan yang menyeimbangkan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat dan memastikan bahwa ada perlindungan terhadap hasil karya manusia.
“Kita perlu memastikan bahwa kreator manusia diberi kompensasi, bukan hanya demi kreatornya, tetapi agar buku dan karya seni kita terus mencerminkan pengalaman nyata dan imajiner kita, membuka pikiran kita, mengajarkan cara berpikir baru, dan memajukan kita sebagai masyarakat, alih-alih mengulang ide lama,” demikian tertulis.
Karya sastra hasil kecerdasan buatan pada dasarnya merupakan tiruan dari karya ekspresif manusia. Teknologi generatif AI "dilatih" dengan sejumlah besar karya yang sudah ada sebelumnya. Karya itu, disalin serta dipecah menjadi komponen tertentu dengan aturan dan pola yang diurai.
Dengan begitu, mesin kecerdasan buatan yang ada pada saat ini telah dilatih dengan karya yang disalin oleh bot tanpa lisensi atau izin. Penyalinan karya untuk menghasilkan karya itu tanpa memberikan kompensasi atau kendali apa pun kepada penulis atas penggunaan karyanya.
Karya sastra yang dihasilkan AI, pada akhirnya, akan mengakibatkan profesi penulis mengalami penyusutan karena lebih sedikit penulis manusia yang dapat bertahan hidup dengan mempraktikkan keahlian mereka.
Penulis Cicilia Oday menilai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif menjadi tantangan bagi penulis karya sastra yang ingin bekerja secara murni, menulis benar-benar mengandalkan imajinasi. “Jadi sebenarnya saya tidak menyukai AI. Untuk sekarang ya, untuk sekarang, saya tidak menyukai AI,” katanya kepada Hypeabis.id.
Baca juga: OpenAI Kasih Bocoran Penting Lewat Podcast tentang Masa Depan ChatGPT
Ketidaksukaan Cicilia terhadap kecerdasan buatan dalam pembuatan karya bukan tanpa alasan. Dia sebagai penulis merasa disabotase dengannya. Kecerdasan buatan dapat mempermudah orang-orang yang malas berpikir dan membaca. Namun, mereka bisa menulis dengan baik hanya karena bantuan teknologi.
Meskipun begitu, dia tidak merasa khawatir dengan keberadaan kecerdasan buatan itu. Dia meyakini, seleksi alam akan terjadi terhadap karya yang dihasilkan oleh AI dan juga karya dari penulis yang benar-benar mengandalkan imajinasinya.
Bagaimana pun, sentuhan manusia dalam karya tulis yang dihasilkan tidak dapat tergantikan oleh sentuhan teknologi. “Ya sudah, kalau ada yang mau pakai AI, ya silahkan. Namun, itu tidak autentik,” ujarnya.
Tidak hanya itu, keberadaan kecerdasan buatan juga mengganggunya sebagai penulis dari sisi hak cipta. Pada sat ini, sejumlah penulis di luar negeri juga memberikan perhatian terhadap kecerdasan buatan dan menentangnya lantaran merasa terancam karyanya akan diambil begitu saja tanpa dasar hukum.
Cicilia memang tidak menyukai kecerdasan buatan terkait dengan penggunaannya dalam membuat karya. Namun, bukan berarti tidak menggunakannya sama sekali. Dia mengaku bahwa penggunaan kecerdasan buatan yang ada saat ini hanya sebatas pencarian referensi.
Penulis Sasti Gotama juga menilai bahwa karya tulis hasil kecerdasan buatan akan berbeda dengan karya tanpanya. Penulis cerita pendek itu memiliki pengalaman ada salah satu peserta dalam suatu ajang yang menggunakan AI untuk menciptakan karya secara utuh.
Karya itu langsung dapat diketahui karena ada pattern atau pola tertentu yang dapat dilihat dari karya hasil kecerdasan buatan, seperti metafora yang berulang, deskripsi yang sangat khas AI, dan sebagainya.
Kecerdasan buatan memang dapat membantu penulis. Namun, terbatas untuk mencari ide atau permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Selama ini, Sasti mengaku belum pernah menggunakan AI untuk menulis.
Dia memiliki kepercayaan bahwa menulis itu dari jiwa yang berasal dari otak manusia serta tidak dapat disamai oleh kecerdasan buatan meskipun teknologi akan berkembang lebih jauh lagi dari yang ada saat ini. “Jadi, untuk sebagai pemicu dari proses kreatif. Namun, bukan berarti itu digunakan secara utuh,” ujarnya.
Terkait dengan ancaman kecerdasan buatan terhadap profesi penulis, asosiasi penulis asal Amerika Serikat The Authors Guild menilai bahwa penggunaan AI untuk membuat karya sastra dan seni berbeda dari penggunaan AI lainnya dalam satu aspek yang mencolok.
Komunitas manusia terikat bersama oleh budaya, seperti sastra, seni, musik, dan bentuk ekspresi lainnya. Dengan begitu, peningkatan kecerdasan buatan memerlukan internvensi hukum dan kebijakan yang menyeimbangkan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat dan memastikan bahwa ada perlindungan terhadap hasil karya manusia.
“Kita perlu memastikan bahwa kreator manusia diberi kompensasi, bukan hanya demi kreatornya, tetapi agar buku dan karya seni kita terus mencerminkan pengalaman nyata dan imajiner kita, membuka pikiran kita, mengajarkan cara berpikir baru, dan memajukan kita sebagai masyarakat, alih-alih mengulang ide lama,” demikian tertulis.
Karya sastra hasil kecerdasan buatan pada dasarnya merupakan tiruan dari karya ekspresif manusia. Teknologi generatif AI "dilatih" dengan sejumlah besar karya yang sudah ada sebelumnya. Karya itu, disalin serta dipecah menjadi komponen tertentu dengan aturan dan pola yang diurai.
Dengan begitu, mesin kecerdasan buatan yang ada pada saat ini telah dilatih dengan karya yang disalin oleh bot tanpa lisensi atau izin. Penyalinan karya untuk menghasilkan karya itu tanpa memberikan kompensasi atau kendali apa pun kepada penulis atas penggunaan karyanya.
Karya sastra yang dihasilkan AI, pada akhirnya, akan mengakibatkan profesi penulis mengalami penyusutan karena lebih sedikit penulis manusia yang dapat bertahan hidup dengan mempraktikkan keahlian mereka.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.