Yukka Harlanda CEO Brodo (Sumber Foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Hypeprofil: Yukka Harlanda dan Perjalanan 15 Tahun Mendirikan Brand Sepatu Brodo

07 July 2025   |   16:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Brodo hadir sebagai salah satu merek sepatu pria lokal asal Bandung yang sukses mencuri perhatian. Berdiri sejak 2010, brand ini dikenal lewat desain maskulin, kualitas bahan yang solid, serta harga yang bersahabat. Namun, daya tarik Brodo tak hanya ada di produknya, melainkan juga pada cerita unik di balik nama dan lahirnya merek ini.

Semua bermula dari pengalaman pribadi Yukka Harlanda, pendirinya, saat masih menjadi mahasiswa teknik sipil. Yukka kala itu kesulitan mencari sepatu formal berukuran besar, nomor 46 alias 29,5 cm. Solusinya? Ia membuat sepatu custom di kawasan Cibaduyut, Bandung. Tak disangka, hasilnya bagus dan menarik perhatian teman-temannya.

Baca juga: Proses Desain Sepatu Brodo, dari Riset sampai Pemilihan Material Kualitas Tinggi

“Saya lihat perajin Cibaduyut banyak yang jago, tapi desainnya kurang menarik. Akhirnya saya ajak teman-teman kuliah untuk bisnis bareng,” ujar Yukka.

Dengan modal patungan Rp7 juta, mereka memproduksi lima pasang sepatu dan menjualnya di Pasar Seni ITB. Semua ludes dalam sehari. Dari sinilah Brodo lahir dan mulai digarap serius, meski baru berbadan hukum pada 2013.
Nama ‘Brodo’ dan Filosofi di Baliknya

Nama Brodo sendiri muncul secara tak sengaja di sebuah rental komik di Bandung. Saat mencari inspirasi, Yukka dan tim menemukan komik masakan Italia yang membahas tentang brodo, atau kaldu ayam, sebagai elemen penting dalam setiap masakan.

“Kami suka filosofi itu. Sepatu juga bisa jadi fondasi penting dalam setiap langkah hidup pria,” kata Yukka.
Nama itu dipilih karena terdengar simpel, maskulin, dan mengandung kata “bro” yang mudah diingat dan terasa akrab.

Logonya pun tak kalah nyentrik: kepala ayam dengan jengger dan paruh. Tanpa makna filosofis yang berat, justru desain absurd ini sengaja dipilih agar mudah dikenali publik.

Sejak awal, Brodo mengandalkan media sosial seperti Facebook, BBM, dan forum komunitas untuk memasarkan produknya. Pendekatannya sederhana: kualitas bagus, harga masuk akal, dan cerita yang relate bagi pria urban.

Namun, perjalanan Brodo tak selalu mulus. Setelah sempat tumbuh pesat selama tujuh tahun, ambisi ekspansi membuat mereka kewalahan secara finansial. Pandemi COVID-19 pun memperparah kondisi bisnis.

“Dulu kita punya 9 toko. Setelah pandemi, tinggal 2 di Bandung dan Jakarta,” ungkap Yukka.

Kini, Brodo bangkit dan kembali fokus memperkuat toko fisik. Meski 80 persen penjualan masih datang dari kanal online, mereka menargetkan pembukaan 14 toko baru sepanjang 2025, termasuk di luar Jabodetabek seperti Makassar.
 

Kunci Eksistensi 15 Tahun Brodo

Yukka Harlanda mengungkap rahasia di balik perjalanan bisnis Brodo yang bertahan selama 15 tahun. Pertama, dia memulai bisnis ini di bidang yang memang sesuai dengan passion dan keahliannya, sehingga merasa enjoy dan menikmati setiap prosesnya.

Selanjutnya, kekuatan utama bisnis ada pada produk yang solid. Jika produk mampu memenuhi kebutuhan pasar, maka penjualan akan tumbuh, dan dari sanalah bisnis bisa bertahan dalam jangka panjang.

"Selama produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang baik, maka penjualan akan mengikuti dengan sendirinya," ujar Yukka.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, Yukka sendiri fokus membuat brand-nya dikenal sebagai merek sepatu pria. Lalu seiring waktu, mulai masuk ke lini produk lain yang tetap relevan dengan gaya hidup pria seperti tas, dompet, parfum, dan deodoran.

Menurutnya, produk seperti parfum dan deodoran memiliki keunggulan dari sisi frekuensi pembelian yang lebih tinggi. Selain itu, pria juga cenderung eksploratif dalam memilih aroma, sehingga peluang repeat purchase cukup besar. 

Dia juga menegaskan bahwa modal bukanlah faktor utama dalam memulai bisnis. Menurutnya, jika bisnis sudah berjalan dengan baik dan terbukti potensial, modal akan datang dengan sendirinya, entah dari keuntungan yang dihasilkan, investor, atau peluang pendanaan lainnya.

Selanjutnya, tim yang solid menjadi kunci pertumbuhan bisnis. Menurut Yukka, banyak brand sepatu lokal di Bandung yang sebenarnya produknya jauh lebih bagus dan desainnya lebih keren dibanding Brodo. Bahkan, strategi marketingnya pun tak kalah menarik. 

Namun, mereka kesulitan untuk berkembang atau scale up. Salah satu alasannya adalah tim yang terlalu sederhana. Tak banyak brand yang mau menggaji tinggi, padahal mencari talent atau karyawan yang berkualitas memang butuh biaya besar.

"Kami sendiri berani membayar gaji lebih besar untuk beberapa orang yang memang punya keahlian khusus, di Brodo ada sekitar 4-6 orang yang gajinya bahkan lebih besar dari saya dan partner saya," katanya.

Kemudian yang tak kalah penting, disiplin dalam mengelola operasional, arus kas, dan persediaan barang. Banyak bisnis yang gagal bukan karena produknya jelek, melainkan karena pengelolaan keuangan yang berantakan.

Terakhir, mental game dalam menjalankan bisnis. Yukka menggambarkan bisnis seperti lari maraton, bukan sprint sehingga dibutuhkan ketahanan dan konsistensi, bukan sekadar kecepatan. 

Dia dan tim Brodo belajar untuk tetap tenang, baik saat bisnis sedang naik maupun turun supaya ketika menghadapi masalah besar mereka tidak panik. Masalah memang akan selalu ada, tapi pada akhirnya akan berlalu.

"Mental yang kuat sangat dibutuhkan, karena selain berbisnis kita juga memikul tanggung jawab untuk karyawan, keluarga mereka, hingga para pemasok," tutupnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Dari Limbah Jadi Nilai, Cara Craftote dan Pijak Bumi Menjawab Mindful Consumerism

BERIKUTNYA

Resensi Novel Katri, Catatan Perempuan Korban Politik yang Bertahan Menantang Zaman

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: