Dari Limbah Jadi Nilai, Cara Craftote dan Pijak Bumi Menjawab Mindful Consumerism
07 July 2025 |
12:26 WIB
Di tengah pasar yang semakin sadar lingkungan, brand lokal menghadapi tantangan baru di mana keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan strategi bisnis yang nyata dan relevan. Tren mindful consumerism menuntut pelaku usaha untuk lebih transparan, bertanggung jawab, sekaligus inovatif dalam setiap proses produksi.
Konsumen kini tak hanya mencari produk yang bagus dan terjangkau, tapi juga mempertanyakan nilai di baliknya—siapa yang membuat, dari bahan apa, hingga dampaknya bagi bumi. Tekanan ini bukan sekadar tekanan moral, melainkan panggilan untuk berubah. Bagi banyak brand lokal, ini adalah ujian sekaligus peluang untuk tumbuh lebih dalam, lebih berkelanjutan, dan lebih bermakna.
Baca juga: Mengungkai Isu Lingkungan & Konsumerisme di Pameran Biophilia Shattering Illusion
Konsumen kini tak hanya mencari produk yang bagus dan terjangkau, tapi juga mempertanyakan nilai di baliknya—siapa yang membuat, dari bahan apa, hingga dampaknya bagi bumi. Tekanan ini bukan sekadar tekanan moral, melainkan panggilan untuk berubah. Bagi banyak brand lokal, ini adalah ujian sekaligus peluang untuk tumbuh lebih dalam, lebih berkelanjutan, dan lebih bermakna.
Baca juga: Mengungkai Isu Lingkungan & Konsumerisme di Pameran Biophilia Shattering Illusion
Salah satu pelaku usaha yang menerapkan pendekatan tersebut dalam bisnisnya adalah Thio Siujinata, pemilik Craftote Gallery and Coffee. Berangkat dari latar belakang seni rupa dan bukan manajemen bisnis, Thio sempat mengalami jatuh bangun saat mengelola empat gerai kafe sekaligus.
Namun dari pengalaman tersebut, dia justru menemukan kembali arah bisnisnya melalui prinsip keberlanjutan.
“Awalnya saya hanya fokus cari untung. Tapi saat rugi besar, saya sadar bahwa ada yang salah di sistem. Dari situ saya mulai belajar tentang ESG (Environmental, Social, and Governance), dan ternyata apa yang selama ini saya lakukan secara naluriah sebenarnya sudah selaras dengan prinsip itu,” ujarnya.
Craftote kini memadukan galeri kerajinan tangan dan coffee shop dalam satu ruang kreatif yang mengusung keberlanjutan sebagai fondasi. Thio dan timnya memanfaatkan bahan serat alam seperti eceng gondok dan seagrass sebagai bahan utama kerajinan, yang selama ini kerap dianggap gulma atau limbah. Dari tas tangan, placemat, hingga aksesori interior, semua diproses dengan pendekatan zero waste.
“Kami bahkan membuat kaki meja dari mesin jahit bekas, dan memanfaatkan daun ketupat kering untuk dekorasi. Semuanya bisa jadi produk bernilai kalau dilihat dari perspektif mindful,” ucap Thio.
Namun perjalanan menuju keberlanjutan tidak selalu mulus. Salah satu produknya, placemat dari seagrass, sempat dipesan dalam jumlah besar tetapi kemudian dikembalikan oleh pembeli karena tidak laku. Bukannya menyerah, Thio justru mengubah produk tersebut menjadi tas, yang kemudian sukses di pasaran.
Cerita ini menunjukkan pentingnya kreativitas dan adaptasi dalam mengelola limbah dan kelebihan produksi. “Kuncinya jangan panik. Setiap kegagalan itu bisa diolah jadi peluang baru kalau kita mau berpikir sedikit berbeda,” ujarnya.
Craftote juga aktif mengejar peluang ekspor, tetapi dengan pendekatan yang tidak tergesa. Salah satu tantangan terbesar adalah urusan sertifikasi, baik untuk produk kerajinan maupun makanan dan minuman yang dijual di coffee shop.
Untuk produk berbahan kayu, misalnya, diperlukan Sertifikat Legalitas Kayu (SVLK), sementara produk pangan harus mengantongi izin PIRT, BPOM, dan sertifikasi halal.
“Sertifikasi itu tidak bisa ditawar kalau ingin tembus pasar luar negeri. Tapi saya juga belajar bahwa visual dan cerita budaya sangat menentukan. Produk kita punya kekuatan di sisi itu, tinggal bagaimana kita mengemasnya,” katanya.
Mindful production, menurut Thio, bukan sekadar tren atau gimmick pemasaran, tapi cara kerja baru yang bisa memperkuat identitas brand lokal dan membuatnya bertahan di tengah pasar yang makin sadar lingkungan.
Dalam praktiknya, strategi ini juga terbukti memperluas pasar dan membuka jalur kolaborasi. Craftote, misalnya, kerap bekerja sama dengan pengrajin dari daerah, seperti pengrajin kayu yang mengolah limbah menjadi kerajinan mercusuar untuk pasar Eropa. Selain itu, Thio juga aktif di Rumah BUMN dan program pembinaan ekspor seperti IDBC (Indonesia Design & Business Clinic).
“Gayung bersambut. Kalau kita punya visi keberlanjutan, kita akan ketemu banyak orang yang punya niat serupa. Ekosistem itu penting, dan saya merasa makin banyak pelaku UMKM mulai ke arah sana,” ucapnya.
Pijak Bumi juga menjadi salah satu brand lokal yang konsisten mengusung strategi mindful production. Sejak didirikan pada 2016 oleh Rowland Asfales, produsen alas kaki asal Bandung ini tidak hanya fokus pada desain dan kenyamanan, tapi juga memperhatikan keberlanjutan dalam setiap aspek produksinya.
Mereka tidak hanya harus memenuhi standar kenyamanan dan estetika, tetapi juga memastikan bahwa setiap aspek produksi memenuhi prinsip keberlanjutan. Hal ini mencakup penggunaan bahan yang bertanggung jawab dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
“Kolaborasi dengan lembaga standarisasi nasional dan global menjadi kunci dalam mempercepat proses restrukturisasi rantai pasok yang kompleks ini,” ujar pria yang akrab disapa Fales ini.
Inovasi juga menjadi bagian penting dalam strategi ini. Pijak Bumi mengadopsi teknologi seperti kecerdasan buatan dalam pengembangan produk dan desain, serta menjalin kerja sama dengan lembaga riset nasional untuk memastikan setiap inovasi punya dasar ilmiah.
Salah satu terobosan utama mereka adalah program Re:Bumi, sebuah model ekonomi sirkular yang memungkinkan konsumen mengembalikan produk lama untuk diperbaiki atau didaur ulang. Dengan pendekatan ini, Pijak Bumi tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat hubungan jangka panjang dengan konsumennya.
Fales juga mengakui bahwa dukungan regulasi pemerintah dan peluang di pameran internasional turut mempercepat langkah mereka. “Tren keberlanjutan kini bukan hanya datang dari konsumen, tapi juga dari lembaga dan institusi yang ingin melihat brand lebih bertanggung jawab,” katanya.
Dengan menggabungkan inovasi, prinsip keberlanjutan, dan narasi yang kuat, Pijak Bumi menjadi bukti bahwa brand lokal bisa tumbuh tanpa harus mengorbankan nilai-nilai etika. Di tengah pasar yang makin selektif dan sadar lingkungan, strategi mindful production justru menjadi keunggulan kompetitif yang tak tergantikan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.