Ilustrasi alat kontrasepsi. (Sumber gambar: Freepik)

Kasus Infeksi Menular Seksual Mengintai Kalangan Remaja, Apa Penyebabnya?

05 July 2025   |   08:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Permasalahan infeksi menular seksual (IMS) kini makin mengkhawatirkan di kalangan remaja. Meski data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan mayoritas kasus terjadi pada usia produktif yakni 25-49 tahun, akan tetapi yang memprihatinkan adalah tren peningkatan kasus juga mulai terlihat pada kelompok usia 15-19 tahun dalam 3 tahun terakhir. 

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) Hanny Nilasari menegaskan bahwa isu kesehatan reproduksi bukan hanya soal infeksi. Namun, ini juga menyangkut kehamilan tidak diinginkan dan meningkatnya angka aborsi pada usia muda.
 
“Permasalahan kesehatan reproduksi ini sangat penting karena sudah terdapat data bahwa ini terjadi pada remaja, bukan hanya infeksinya, tetapi juga mencakup kehamilan yang tidak diinginkan,” ungkap Hanny.

Baca juga: Mengenal Masalah Kesehatan Seksual, Vaginismus sampai Disfungsi Ereksi
 
Peningkatan kasus IMS seperti sifilis, gonore, herpes, dan HPV, terus tercatat dari tahun ke tahun. Data menunjukkan bahwa usia penderita semakin muda, dan banyak di antaranya tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi karena gejala yang muncul sering kali samar atau menyerupai penyakit lain. 
 
Pada perempuan, misalnya, infeksi gonore dan sifilis bisa hadir tanpa keluhan khas dan baru terdeteksi saat sudah terjadi komplikasi, seperti radang panggul hingga infertilitas. Sebagian besar IMS ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman  termasuk hubungan oral, vaginal, atau anal, serta melalui pertukaran cairan tubuh.

Hanny menyebut, risiko tertinggi ditemukan pada kelompok yang melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan, pelaku prostitusi, pengguna narkoba suntik, serta bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita IMS, termasuk HIV. “Data yang belum terpublikasi menunjukkan keterkaitan IMS dengan perilaku seksual berisiko, seperti berganti pasangan, penggunaan narkoba, dan kontak seksual sesama jenis,” jelas  Hanny.
 
Gejala IMS sangat beragam dan bisa tidak terasa sama sekali. Pada laki-laki, gonore biasanya ditandai keluarnya cairan seperti nanah dari ujung kemaluan, nyeri, atau sensasi terbakar saat buang air kecil.

Sementara itu, perempuan sering kali hanya mengalami keputihan yang tampak normal, sehingga infeksi sering luput terdeteksi dan berkembang menjadi komplikasi. “Gejala IMS pada perempuan umumnya tidak ada atau sangat mirip dengan infeksi lain, sehingga baru diketahui ketika sudah menimbulkan komplikasi,” ujar Hanny.
 
Selain itu, IMS dari virus seperti HPV dapat menyebabkan kutil kelamin dengan permukaan kasar, berwarna kulit, dan muncul di area genital atau sekitar anus. Herpes genital pun bisa hadir tanpa gejala, tetapi dalam kondisi infeksi akut dapat menimbulkan lenting atau luka di area kelamin, anus, atau mulut.
 
Kemudian, penyakit sifilis atau yang dikenal sebagai raja singa sering diawali dengan luka tunggal yang tidak nyeri dan dapat sembuh sendiri. Bila tidak diobati, sifilis dapat menyebar melalui darah dan menyerang organ vital seperti jantung, ginjal, mata, serta sistem saraf.
 
Infeksi HIV juga termasuk dalam kategori IMS. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi AIDS. Penularan HIV dapat terjadi melalui cairan tubuh, transfusi darah yang tercemar, jarum suntik yang digunakan bersama, atau dari ibu hamil ke bayi.
 
Dengan banyaknya jenis IMS, Hanny menyebut upaya pencegahan IMS membutuhkan edukasi menyeluruh tentang kesehatan reproduksi. Pengetahuan mengenai cara penularan, gejala, dan bahaya komplikasi harus disampaikan sejak dini, terutama pada remaja.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele Catcalling yang Justru Jadi Isu Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

Pemeriksaan rutin, hubungan seksual yang aman dan monogami, serta penggunaan kondom untuk kelompok berisiko tinggi menjadi langkah penting untuk mengendalikan penyebaran IMS.
 
Selain itu, peningkatan deteksi dini dan akses layanan kesehatan juga menjadi krusial untuk menangani kasus IMS secara cepat dan efektif. Masyarakat juga perlu memahami bahwa kesehatan reproduksi bukan sekadar terbebas dari penyakit. Akan tetapi, ini juga mencakup kondisi fisik, mental, dan sosial secara utuh.

SEBELUMNYA

Gramedia Jalma Diresmikan, Jadi Ruang Asyik & Kekinian Buat Para Pencinta Buku

BERIKUTNYA

Fakta Menarik Game Upin & Ipin Universe, Dijadwalkan Rilis 17 Juli 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga