Produser Prilly Latuconsina (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Riset ke Yayasan hingga Dokter, Begini Cara Produser Prilly Produksi Film Hanya Namamu Dalam Doaku

04 July 2025   |   09:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Setelah sebelumnya dikenal lewat karya-karya yang menyoroti isu kesehatan mental, Sinemaku Pictures kini memperluas cakupan tematiknya ke isu kesehatan fisik, khususnya penyakit degeneratif. Rumah produksi yang didirikan oleh Prilly Latuconsina dan Umay Shahab ini kembali hadir dengan film terbaru berjudul Hanya Namamu Dalam Doaku.

Dalam film ini, Sinemaku mencoba mengangkat kisah perjuangan seorang pengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), sebuah penyakit langka yang menyerang saraf dan otot. Melalui narasi yang emosional dan menyentuh, film ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik tentang ALS serta menggugah empati terhadap para pejuangnya.

Baca juga: Hypereport: Deretan Rumah Produksi Milik Aktor Indonesia, Prilly Latuconsina hingga Reza Rahadian

ALS adalah penyakit yang menyerang sel saraf motorik (neuron motorik) di otak dan sumsum tulang belakang, yang pada akhirnya menyebabkan otot-otot melemah dan akhirnya lumpuh. Penyakit ini bersifat progresif. Dalam artian, gejalanya akan terus memburuk seiring waktu.

Produser Prilly Latuconsina mengatakan ide cerita film ini muncul dari proses mendengarkan curahan hati para followers Instagram Sinemaku. Salah satu curhatan tersebut berisi tentang bagaimana seorang istri merawat sang suami yang didiagnosa ALS.

Prilly menyebut curhatan tersebut menyadarkannya banyak hal soal penyakit ALS. Menurutnya, kesadaran publik mengenai ALS masihlah sangat rendah, sehingga dia pun ingin memberi edukasi kepada publik tentang perjuangan seseorang menghadapi ALS.

"Awareness soal penyakit ini tuh masih kurang banget. Kami menemukan bahwa banyak penderita ALS yang kebingungan harus ke mana dan bagaimana menghadapi penyakit ini. Bahkan, diagnosisnya sering keliru karena gejalanya mirip stroke," kata Prilly
 

Poster film Hanya Namamu Dalam Doaku (Sumber gambar: Dok Sinemaku Pictures)

Poster film Hanya Namamu Dalam Doaku (Sumber gambar: Dok Sinemaku Pictures)


Setelah menentukan tema besar ini, Prilly kemudian melakukan riset yang mendalam demi memastikan representasi yang akurat terkait ALS. Dia dan tim Sinemaku menggali informasi langsung dari Yayasan ALS Indonesia, berbincang dengan para pejuang ALS, penyintas, serta keluarga yang merawat orang dengan ALS. 

Lewat pendekatan ini, Prilly ingin memahami secara menyeluruh bagaimana penyakit ini memengaruhi kehidupan fisik, emosional, dan sosial penderitanya serta orang-orang di sekitarnya. Tak hanya itu, Prilly juga berkonsultasi dengan para dokter dan tenaga medis yang menangani pasien ALS. 

Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan medis yang tepat mengenai gejala, perkembangan penyakit, hingga penanganan klinis yang dijalani para pasien. Semua riset tersebut menjadi fondasi penting agar film ini tidak hanya menyentuh dari sisi cerita, tapi juga bertanggung jawab dalam menggambarkan kenyataan yang dihadapi para penyintas ALS.

Dalam proses riset ini pula, Prilly mengetahui bahwa pejuang ALS sangat membutuhkan dukungan moral dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Oleh karena itu, dia pun ingin membalut kisah tentang ALS dengan suguhan drama keluarga yang kuat.

Prilly pun melanjutkan riset mendalam untuk menggali berbagai permasalahan dalam kehidupan suatu keluarga. Sebagai seseorang yang belum menikah, dia banyak berdiskusi dengan orang-orang di sekitarnya yang sudah membina rumah tangga, termasuk kedua orang tuanya sendiri. 

Proses ini menjadi salah satu cara Prilly untuk memahami dinamika keluarga dari sudut pandang yang lebih luas dan nyata. Dari hasil obrolan dan pengamatannya, Prilly menemukan perspektif menarik mengenai peran dan beban emosional yang dipikul masing-masing anggota keluarga.

Dia melihat bahwa dari sisi ayah, sering kali ada tekanan untuk selalu tampil kuat dan seolah tidak boleh menunjukkan kelemahan begitu kentara di keluarga Indonesia. Para ayah merasa harus menjaga citra sebagai pemimpin keluarga yang sanggup menanggung segalanya sendiri.

Sementara itu, dari sudut pandang ibu, muncul perasaan kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atau penyelesaian masalah. Padahal, bagi para ibu, keluarga adalah tentang kebersamaan. Mereka justru ingin menjadi bagian dari solusi, menyelesaikan masalah bersama-sama, bukan hanya menjadi pihak yang menerima beres saja. 

Temuan-temuan inilah yang menjadi pijakan penting bagi Prilly dalam menggambarkan realita keluarga secara lebih jujur dan menyentuh di dalam karyanya. Dia pun menggali akar konflik dari dua pandangan berbeda soal peran ibu dan ayah di dalam keluarga ini.

“Sinemaku Pictures selalu mencoba membawa sesuatu yang baru dalam setiap karya-karya yang kami produksi. Melalui film drama keluarga Hanya Namamu Dalam Doaku, kami ingin menyoroti bagaimana sebuah keluarga yang semula harmonis namun harus mendapat ujian hidup,” imbuhnya.

Film Hanya Namamu Dalam Doaku akan menampilkan deretan aktor dan aktris ternama, sekaligus menjadi ajang reuni bagi Vino G. Bastian dan Nirina Zubir setelah 21 tahun sejak keduanya bermain bersama dalam film ikonik 30 Hari Mencari Cinta.

Selain Vino dan Nirina, film ini juga dibintangi oleh Naysila Mirdad dan Anantya Kirana. Sejumlah nama lain yang turut meramaikan jajaran pemain antara lain Dinda Kanyadewi, Ge Pamungkas, dan Enno Lerian. Tak ketinggalan, aktor senior Slamet Rahardjo akan hadir dalam sebuah penampilan spesial yang menambah kekuatan film ini.

Film ini akan berfokus pada Arga (Vino G. Bastian) yang menghadapi prahara rumah tangga ketika istrinya, Hanggini (Nirina Zubir), menuduhnya berselingkuh. Hal ini tak lepas dari hadirnya sosok Marissa (Naysila Mirdad), seorang dokter yang juga merupakan mantan kekasih Arga saat SMA. 
 

Kehadiran Marissa memicu kecurigaan Hanggini, yang meyakini bahwa Arga menjalin hubungan terlarang dengannya. Namun, ketika ketegangan memuncak dan berbagai tudingan bermunculan, Arga justru mendapat kabar mengejutkan dari dokter.

Dia didiagnosis menderita ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit saraf progresif yang menyerang neuron motorik. Seketika, hidup Arga terasa runtuh.

Dalam keterpurukan, dia pun dihadapkan pada pertanyaan besar, yakni ke mana dia harus melangkah dan bagaimana dia akan menjalani hidupnya ke depan. Di sisi lain, tanpa disadari hubungan orang tua yang memburuk berdampak besar pada kebahagiaan putrinya, Nala (Anantya Kirana).

Disutradarai oleh Reka Wijaya, film Hanya Namamu Dalam Doaku direncanakan tayang di bioskop mulai 21 Agustus 2025.

Baca juga: Cuplikan Penting yang Terungkap dalam First Look Film Hanya Namamu Dalam Doaku

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Tarian Tradisional Aceh Ratoh Jaroe Tampil di Instagram Resmi Apple

BERIKUTNYA

The Sigit hingga Bernadya Bakal Ramaikan Festival Musik Forestra 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga