inda Anggrea, Founder dan CEO Buttonscarves (sumber : Buttonscarves)

Produknya Banyak Dicontek, Begini Strategi Pemilik Buttonscarves Hadapi Kasus Plagiarisme

03 July 2025   |   21:58 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah dinamika industri fesyen yang kian cepat dan kompetitif, brand lokal menghadapi berbagai tantangan. Bukan lagi hanya soal tren atau produksi, tapi juga bagaimana mempertahankan orisinalitas. 
Salah satu isu klasik yang kembali mencuat dalam industri fesyen adalah plagiarisme atau penjiplakan desain. Buttonscarves, sebagai brand fesyen lokal yang saat ini sedang naik daun, pun tak luput dari persoalan ini.

“Seiring berkembangannya brand dan makin dikenalnya karya-karya kami, hal seperti ini tidak bisa dihindari. Penjiplakan adalah risiko yang muncul ketika desain atau konsep kita berhasil menarik perhatian pasar,” ujar Linda Anggrea, Founder dan CEO Buttonscarves.

Baca juga: Tren Tas Buttonscarves di Kalangan Sosialita, Cek Ragam Koleksi Desain dan Harganya

Menghadapi situasi tersebut, Linda mengatakan pihaknya lebih memilih untuk fokus pada penguatan identitas dan nilai orisinalitas. Meski demikian, Buttonscarves juga termasuk salah satu brand yang sadar akan pentingnya menjaga karya secara hukum dan rutin mendaftarkan desainnya ke HKI bahkan sejak awal berdiri.

“Jika ada kasus plagiarisme, kami menyikapinya dengan profesional. Ada tim legal internal yang siap menangani jika ada pelanggaran hak cipta, dan beberapa kasus bahkan sudah kami proses secara hukum,” jelasnya.

Namun, mereka juga memahami bahwa jalur hukum bukan solusi cepat. Karena itu, Buttonscarves terus memperkuat hubungan dengan pelanggan dan komunitas sebagai fondasi utama pertumbuhan.

Sebab dia percaya bahwa kekuatan brand bukan terletak pada visual semata, melainkan pada relasi yang dibangun dengan pelanggan dan komunitas. “Brand yang punya akar kuat tidak akan mudah digeser hanya oleh tiruan visual,” tutup mereka.

Upaya mempertahankan keunikannya, Buttonscarves juga terus berinvestasi pada inovasi dan eksplorasi di setiap lini desainnya. Mulai dari pemilihan palet warna khas, detail ilustrasi, hingga teknik pencetakan eksklusif yang dikembangkan bersama tim produksi internal. Semua proses mencerminkan craftsmanship yang kuat dan penuh pertimbangan.

“Kami tidak hanya menghadirkan produk secara visual, tapi juga membawa cerita dan pengalaman baru di setiap koleksi,” tuturnya. Ini menjadi pembeda yang kuat di pasar, sekaligus upaya konkret agar produk sulit ditiru.

Sebab, menurutnya, isu penjiplakan ini bukan hanya menjadi ancaman tetapi pengingat pentingnya membangun brand yang berakar kuat. “Dalam situasi begini kami melihat makin kuatnya loyalitas pelanggan. Mereka bahkan tahu dan merasakan perbedaan antara produk yang otentik dan yang sekadar tiruan,” jelasnya.

Linda juga menyoroti batas antara 'terinspirasi' dan 'menjiplak' dalam industri fesyen. Menurutnya, brand yang terinspirasi akan mengolah referensi menjadi sesuatu yang baru, sesuai identitas mereka. Berbeda dengan plagiarisme yang terjadi ketika produk ditiru secara langsung, tanpa ada transformasi berarti.

Diakui olehnya bahwa plagiarisme di era digital memang tak bisa dilepaskan dari peran platform e-commerce. Di satu sisi, platform ini membuka akses luas untuk brand lokal. Namun di sisi lain, juga memberi celah bagi produk tiruan untuk ikut beredar.

“Kami melihat beberapa e-commerce mulai membangun sistem verifikasi brand dan pelaporan pelanggaran. Namun, tentu masih banyak ruang perbaikan, terutama soal kecepatan penanganan produk tiruan,” ujarnya.

Baca juga: Begini Strategi Sukses Buttonscarves Tembus Pasar Internasional

SEBELUMNYA

Berapa Jam Sebelumnya Sebaiknya Kamu Tiba di Bandara, Ini Menurut Para Ahli

BERIKUTNYA

Ini Daftar Prasarana Olahraga yang Terkena PBJT Jasa Kesenian & Hiburan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga