5 Strategi UMKM Indonesia Menembus Pasar Ekspor Australia
01 July 2025 |
17:00 WIB
Pasar ekspor Australia menyimpan potensi besar bagi produk Indonesia, terutama yang halal, sehat, alami, dan berkelanjutan. Laporan Australia Food and Beverage Market menyebut nilai pasar makanan dan minuman di sana diperkirakan naik dari 139,24 miliar dolar Australia (2025) menjadi 212,95 miliar dolar Australia (2034).
Kendati peluangnya terbuka lebar, pelaku usaha, terutama UMKM, perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang paling krusial adalah regulasi ketat yang diberlakukan Australia, terutama terkait keamanan pangan, biosekuriti, serta transparansi dan kejelasan informasi pada produk.
Menurut Irwan Utama, praktisi ekspor yang telah tinggal di Australia selama hampir tiga dekade dan menjabat sebagai Direktur Oishi Trading, UMKM Indonesia memiliki peluang besar selama mampu memahami selera pasar serta memenuhi persyaratan administratif dan teknis.
Baca juga: Potensi Ekspor ke Pasar Asia Tenggara Menggiurkan, Skincare hingga Kopi
Berikut lima strategi yang perlu diperhatikan pelaku UMKM jika ingin masuk dan berkembang di pasar Australia:
Salah satu keunggulan Indonesia dibanding negara lain adalah kedekatan geografis dan kultural dengan Australia. Tingginya kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia setiap tahun yang pada 2024 tercatat mencapai 1,5 juta turis ke Bali saja, membuktikan bahwa konsumen Australia tidak asing dengan produk Indonesia. Produk seperti kopi, teh, kerajinan tangan, hingga makanan ringan telah lama menjadi bagian dari pengalaman wisata mereka.
Irwan Utama menjelaskan bahwa kedekatan ini menjadi modal penting bagi UMKM. “Karena pada dasarnya mereka sudah familiar dan suka dengan yang alami, sehat, dan punya cerita budaya,” ungkapnya.
Karena itu, penting bagi pelaku usaha untuk tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan cerita di baliknya. Narasi soal bahan baku lokal, proses tradisional, dan nilai budaya bisa menjadi pembeda di pasar yang kompetitif.
Australia dikenal sangat ketat dalam menjaga keamanan pangan dan lingkungan. Setiap produk, terutama yang berbahan nabati atau hewani, wajib disertai dokumentasi lengkap mulai dari rekam jejak pemrosesan hingga sertifikasi keamanan dan higienitas. Tidak hanya itu, produk-produk makanan harus mematuhi standar Food Standards Australia New Zealand (FSANZ).
Menurut Irwan Utama, beberapa sertifikasi yang sebaiknya disiapkan sejak dini antara lain HACCP, ISO 22000, hingga Australia Certified Organic jika produk diklaim sebagai organik atau ramah lingkungan.
"Sertifikasi ini bukan hanya soal formalitas. Ini menentukan apakah produk bisa masuk ke Australia atau tidak,” jelasnya. Dia menambahkan bahwa untuk produk kerajinan berbahan kayu, tantangannya bahkan lebih besar karena harus bebas dari hama, kutu, atau jamur. Produk yang terkontaminasi bisa langsung dimusnahkan oleh otoritas pelabuhan.
Label pada produk makanan dan minuman bukan hanya elemen pelengkap, tetapi menjadi bagian dari evaluasi utama dalam proses kepabeanan. Semua produk yang masuk ke pasar Australia harus memiliki label dalam bahasa Inggris yang mencakup komposisi bahan, informasi nilai gizi per 100 gram, asal negara, kode produksi atau batch, tanggal kedaluwarsa, dan peringatan terhadap bahan alergen.
Christophorus Barutu, Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Sydney, menegaskan pentingnya aspek ini.
“Masih banyak produk Indonesia yang sebenarnya punya daya saing, tapi belum siap secara teknis dan administratif. Label yang tidak sesuai bisa membuat produk tertahan bahkan ditolak masuk,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku usaha harus menempatkan diri sebagai konsumen bahwa informasi pada kemasan sudah cukup untuk membuat orang asing percaya dan paham tentang produk tersebut
Kemasan seringkali dianggap sekadar elemen visual, padahal dalam konteks ekspor, kemasan memegang peran strategis untuk menjaga kualitas produk selama pengiriman dan meningkatkan kepercayaan pasar. Produk yang menarik tetapi rusak selama pengiriman bisa menimbulkan kerugian besar dan merusak reputasi usaha.
“Jangan sampai produk bagus rusak saat tiba di Australia hanya karena kemasan kita tidak tahan banting atau tidak sesuai standar logistik internasional,” kata Irwan Utama.
Dia menyarankan agar pelaku UMKM menguji kekuatan dan ketahanan kemasan sebelum mengekspor dalam skala besar. Selain fungsional, kemasan juga harus memenuhi standar kebersihan dan memiliki tampilan profesional yang sesuai selera pasar global.
Australia adalah pasar yang sangat selektif, tetapi memiliki keunggulan berupa harga jual produk yang tinggi jika kualitas dan nilai produk terbukti. Untuk bisa menjangkau pasar ini, pelaku usaha harus aktif memperkenalkan produknya melalui berbagai saluran, termasuk pameran dagang internasional dan kehadiran digital.
Menurut Christophorus Barutu, pameran adalah momen penting bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan langsung produknya kepada pembeli dan distributor lokal. “Di pameran, mereka bisa melihat langsung kualitas produk, mencicipi, dan berdialog dengan pelaku usaha. Itu penting untuk membangun kepercayaan,” ujarnya.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya memiliki website profesional dalam bahasa Inggris yang menampilkan informasi lengkap mengenai produk, kisah usaha, dan kontak bisnis. “Website itu ibarat kartu nama digital. Buyer dari Australia dan negara lain akan lebih percaya jika bisa melihat kredibilitas usaha melalui platform online yang rapi dan informatif,” tuturnya.
Menembus pasar Australia bukan hal yang mudah, tapi sangat mungkin dicapai. Dengan memahami regulasi, menyiapkan dokumen sejak awal, membangun narasi budaya, serta aktif menjangkau pasar melalui pameran dan digital, UMKM Indonesia bisa meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar ekspor.
Seperti kata Irwan Utama, “Dengan produk berkualitas dan strategi yang tepat, produk Indonesia bisa punya tempat yang kuat di rak-rak toko Australia.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kendati peluangnya terbuka lebar, pelaku usaha, terutama UMKM, perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang paling krusial adalah regulasi ketat yang diberlakukan Australia, terutama terkait keamanan pangan, biosekuriti, serta transparansi dan kejelasan informasi pada produk.
Menurut Irwan Utama, praktisi ekspor yang telah tinggal di Australia selama hampir tiga dekade dan menjabat sebagai Direktur Oishi Trading, UMKM Indonesia memiliki peluang besar selama mampu memahami selera pasar serta memenuhi persyaratan administratif dan teknis.
Baca juga: Potensi Ekspor ke Pasar Asia Tenggara Menggiurkan, Skincare hingga Kopi
Berikut lima strategi yang perlu diperhatikan pelaku UMKM jika ingin masuk dan berkembang di pasar Australia:
1. Pahami karakter pasar dan hadirkan narasi budaya yang kuat
Salah satu keunggulan Indonesia dibanding negara lain adalah kedekatan geografis dan kultural dengan Australia. Tingginya kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia setiap tahun yang pada 2024 tercatat mencapai 1,5 juta turis ke Bali saja, membuktikan bahwa konsumen Australia tidak asing dengan produk Indonesia. Produk seperti kopi, teh, kerajinan tangan, hingga makanan ringan telah lama menjadi bagian dari pengalaman wisata mereka.Irwan Utama menjelaskan bahwa kedekatan ini menjadi modal penting bagi UMKM. “Karena pada dasarnya mereka sudah familiar dan suka dengan yang alami, sehat, dan punya cerita budaya,” ungkapnya.
Karena itu, penting bagi pelaku usaha untuk tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan cerita di baliknya. Narasi soal bahan baku lokal, proses tradisional, dan nilai budaya bisa menjadi pembeda di pasar yang kompetitif.
2. Penuhi standar keamanan pangan dan biosekuriti sejak awal
Australia dikenal sangat ketat dalam menjaga keamanan pangan dan lingkungan. Setiap produk, terutama yang berbahan nabati atau hewani, wajib disertai dokumentasi lengkap mulai dari rekam jejak pemrosesan hingga sertifikasi keamanan dan higienitas. Tidak hanya itu, produk-produk makanan harus mematuhi standar Food Standards Australia New Zealand (FSANZ).Menurut Irwan Utama, beberapa sertifikasi yang sebaiknya disiapkan sejak dini antara lain HACCP, ISO 22000, hingga Australia Certified Organic jika produk diklaim sebagai organik atau ramah lingkungan.
"Sertifikasi ini bukan hanya soal formalitas. Ini menentukan apakah produk bisa masuk ke Australia atau tidak,” jelasnya. Dia menambahkan bahwa untuk produk kerajinan berbahan kayu, tantangannya bahkan lebih besar karena harus bebas dari hama, kutu, atau jamur. Produk yang terkontaminasi bisa langsung dimusnahkan oleh otoritas pelabuhan.
3. Lengkapi label produk dengan informasi detail dan sesuai regulasi
Label pada produk makanan dan minuman bukan hanya elemen pelengkap, tetapi menjadi bagian dari evaluasi utama dalam proses kepabeanan. Semua produk yang masuk ke pasar Australia harus memiliki label dalam bahasa Inggris yang mencakup komposisi bahan, informasi nilai gizi per 100 gram, asal negara, kode produksi atau batch, tanggal kedaluwarsa, dan peringatan terhadap bahan alergen.Christophorus Barutu, Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Sydney, menegaskan pentingnya aspek ini.
“Masih banyak produk Indonesia yang sebenarnya punya daya saing, tapi belum siap secara teknis dan administratif. Label yang tidak sesuai bisa membuat produk tertahan bahkan ditolak masuk,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku usaha harus menempatkan diri sebagai konsumen bahwa informasi pada kemasan sudah cukup untuk membuat orang asing percaya dan paham tentang produk tersebut
4. Gunakan kemasan yang higienis dan tahan distribusi internasional
Kemasan seringkali dianggap sekadar elemen visual, padahal dalam konteks ekspor, kemasan memegang peran strategis untuk menjaga kualitas produk selama pengiriman dan meningkatkan kepercayaan pasar. Produk yang menarik tetapi rusak selama pengiriman bisa menimbulkan kerugian besar dan merusak reputasi usaha.“Jangan sampai produk bagus rusak saat tiba di Australia hanya karena kemasan kita tidak tahan banting atau tidak sesuai standar logistik internasional,” kata Irwan Utama.
Dia menyarankan agar pelaku UMKM menguji kekuatan dan ketahanan kemasan sebelum mengekspor dalam skala besar. Selain fungsional, kemasan juga harus memenuhi standar kebersihan dan memiliki tampilan profesional yang sesuai selera pasar global.
5. Perluas jaringan lewat pameran internasional dan kanal digital
Australia adalah pasar yang sangat selektif, tetapi memiliki keunggulan berupa harga jual produk yang tinggi jika kualitas dan nilai produk terbukti. Untuk bisa menjangkau pasar ini, pelaku usaha harus aktif memperkenalkan produknya melalui berbagai saluran, termasuk pameran dagang internasional dan kehadiran digital.Menurut Christophorus Barutu, pameran adalah momen penting bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan langsung produknya kepada pembeli dan distributor lokal. “Di pameran, mereka bisa melihat langsung kualitas produk, mencicipi, dan berdialog dengan pelaku usaha. Itu penting untuk membangun kepercayaan,” ujarnya.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya memiliki website profesional dalam bahasa Inggris yang menampilkan informasi lengkap mengenai produk, kisah usaha, dan kontak bisnis. “Website itu ibarat kartu nama digital. Buyer dari Australia dan negara lain akan lebih percaya jika bisa melihat kredibilitas usaha melalui platform online yang rapi dan informatif,” tuturnya.
Menembus pasar Australia bukan hal yang mudah, tapi sangat mungkin dicapai. Dengan memahami regulasi, menyiapkan dokumen sejak awal, membangun narasi budaya, serta aktif menjangkau pasar melalui pameran dan digital, UMKM Indonesia bisa meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar ekspor.
Seperti kata Irwan Utama, “Dengan produk berkualitas dan strategi yang tepat, produk Indonesia bisa punya tempat yang kuat di rak-rak toko Australia.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.