Ilustrasi pengembang gim. (Sumber gambar: Freepik/DC Studio)

Industri Gim Lokal Masih Sulit Pendanaan, Danantara Diminta Turun Tangan

29 June 2025   |   07:39 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Minat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk masuk ke industri media dan hiburan mendapat sambutan positif para pelaku usaha di sektor gim. Mereka turut berharap lembaga tersebut juga mendukung pertumbuhan gim lokal. 

Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein mengatakan layaknya musik, industri gim adalah sektor berbasis kekayaan intelektual (IP) yang sangat potensial menjadi kekuatan ekspor budaya Indonesia. Akan tetapi untuk berkembang, pelaku gim lokal membutuhkan dukungan menyeluruh terutama dari sisi pembiayaan.

Shafiq menyebut saat ini, sebagian besar pelaku gim nasional masih mengalami kesulitan mengakses pembiayaan formal. Banyak yang masih bergantung pada dana pribadi atau hibah terbatas, karena sektor ini belum sepenuhnya dipahami oleh lembaga pembiayaan konvensional.

"Padahal, dengan skema dukungan strategis seperti yang dilakukan Korsel terhadap industri kreatif mereka, sektor gim Indonesia bisa tumbuh lebih cepat dan kuat," ujarnya kepada Hypeabis.id, belum lama ini. 

Baca juga: Asosiasi Game Indonesia Punya Tiga Ekspektasi terhadap Kementerian Ekonomi Kreatif

AGI, katanya, melihat saat ini Kementerian Ekonomi Kreatif mulai aktif membuka ruang diskusi dan dukungan nyata untuk sektor gim, termasuk melalui pendanaan, fasilitasi showcase, hingga pengembangan talenta.

Kendati demikian, dia berharap semangat ini bisa menjadi pembuka jalan bagi Danantara untuk ikut melihat potensi besar dari subsektor ekonomi kreatif lainnya seperti gim, serta ikut berperan sebagai katalis pertumbuhannya.

CEO Anantarupa Ivan Chen mengatakan ketertarikan Danantara terhadap musik dan film bisa menjadi angin segar bagi industri kreatif yang pekerjanya didominasi generasi muda. Selama 10 tahun terakhir, menurutnya pemerintah terlalu fokus terhadap industri ekstraktif. 

Padahal menurutnya, ekspor industri ekstraktif yang sudah berjalan lebih dari 60 tahun seperti gas, nilainya hanya US$13 miliar. Nilai ini setara jika Indonesia berhasil mengekspor 8 gim yang skalanya masuk ke top 100 dunia. "Itu pendapatannya sama dengan industri ekstraktif kita selama 60 tahun terakhir," jelasnya. 

Oleh karena itu, Ivan berharap Danantara juga melirik industri gim lokal. Pasalnya, para pengembang gim lokal masih kesulitan pendanaan. 

Sebagai Ketua Umum Asosiasi Cipta Kreasi Indonesia (Cakra), Ivan pernah mengusulkan kepada pemerintah agar dibuatnya matching fund, tetapi belum ada tindak lanjutnya sampai hari ini. Kalaupun ada hibah, dia berharap agar nilainya minimal sama dengan yang digelontorkan pemerintah Malaysia untuk mendukung pertumbuhan industri gim di negara tersebut. 

Di Malaysia, dana hibah yang digelontorkan pemerintah untuk membuat animasi atau gim nilainya bisa sampai Rp12 miliar per satu proyek per perusahaan dengan pemberian yang dilakukan secara bertahap. Sementara itu, pemerintah Shanghai rela menggelontorkan uang hingga US$100 juta untuk membuat gim fenomenal Genshin Impact pada 8 tahun lalu. 

Oleh karena itu, Dia berharap Danantara bisa membuka keran investasi untuk industri konten yang di dalamnya terdiri film, gim, animasi, hingga musik. "Jadi Indonesia akan bisa memaksimalkan potensi soft power-nya ke luar negeri. Jadi bisa menghubungkan budaya Indonesia di dunia," tutur Ivan. 
 

Potensi Gim Lokal 

Ivan menegaskan, potensi gim Indonesia sangat besar. Indonesia sendiri menjadi incaran market gim asing mengingat penggemar gim di Tanah Air terbilang banyak. Adapun secara total, transaksi industri gim di Indonesia pada tahun lalu, katanya, mencapai Rp35 triliun. “Industri gim di Indonesia itu lebih dari 8 kali lipat industri film kita yang sudah eksis hampir 100 tahun,” sebutnya. 

Lantas berapa nilai pembiayaan yang ideal untuk pertumbuhan industri gim lokal? Ivan memperkirakan setidaknya ada pendanaan hingga Rp150 miliar untuk bisa bersaing dengan gim asing.

Berkaca pada Korea Selatan, pada 1994, pemerintah di sana rela menggelontorkan dana hingga US$550 juta untuk membangkitkan industri kreatif mereka seperti musik, film, komik, webtoon, gim,  animasi. Dana paling besar ditujukan untuk penelitian dan pengembangan sektor ini. 

Bila kerja sama dengan pemerintah Korea Selatan terjalin, dirinya berharap kerja sama dalam bentuk co-development atau co-production. “Dalam waktu 2 tahun, 3 tahun ke depan itu sudah ada hasilnya. Banyak banget budaya kita yang bisa di-convert,” tegasnya. 

Baca juga: Pengembang Game Lokal Pilih Bisnis Kemitraan dan Jasa, Yuk Intip Potensinya!

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

5 Latihan Penting Untuk Kekuatan Otot & Pinggul Sebelum Lari Maraton

BERIKUTNYA

Daftar Pemenang Kategori Cerpen, Novel, dan Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: