Ilustrasi love scamming. (Sumber gambar: Freepik)

Love Scamming Bikin Rugi Finansial Hingga Mental, Kenali Ciri-ciri Pelakunya

29 June 2025   |   16:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Love scamming atau penipuan berkedok cinta menjadi salah satu kejahatan di dunia maya yang bisa menyerang siapa saja, dan patut diwaspadai. Sebab jika terjerat, korban bukan hanya mengalami kerugian materi atau finansial, tetapi juga masalah mental.

Psikolog Klinis dari Tiga Generasi Gabriela Agire mengatakan bahwa korban yang mengalami love scamming bisa mengalami stres, cemas, gangguan tidur, kehilangan kepercayaan diri. Kemudian, merasa bersalah dan malu, trauma, hingga memutuskan untuk mengisolasi diri. 

Kondisi ini harus segera ditangani dengan mencari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun terapis agar bisa menerima emosi dan peristiwa yang terjadi. “Membangun kembali kepercayaan diri, harga diri, mengelola emosi secara tepat dan efektif,” ujarnya kepada Hypeabis.id, baru-baru ini. 

Baca juga: Penyebab Masyarakat Indonesia Sering Jadi Korban Love Scamming

Sementara itu, Gabriela menilai keluarga dan orang terdekat turut berperan untuk saling peduli dan mengingatkan terhadap modus penipuan ini. Literasi tentang potensi kejahatan dunia maya perlu ditingkatkan. 

Satu lagi yang penting, sesama anggota keluarga harapnya bisa memberikan kebutuhan cinta satu sama lain. Sebab, salah satu hal yang membuat korban terjerat love scamming yakni ketika dia merasa merasa kesepian dan tidak lagi dicintai. 

“Sering family time agar tidak feeling lonely, melek akan literasi digital impact dari melakukan love scamming dari sisi psikologis, hukum, maupun sanksi sosial,” tambah Gabriela. 

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menerangkan jika sadar terkena love scamming, disarankan langsung menghentikan kontak dengan pelaku. Simpan semua bukti, seperti chat atau bukti transfer, lalu melapor ke polisi. 

Selain itu, blokir nomor dan akun pelaku, ganti semua kata sandi pada akun yang dimiliki, serta tetap pastikan data yang tersimpan aman. Dia juga menyarankan untuk bercerita ke keluarga atau teman agar mendapat dukungan. “Kalau merasa down, coba ngobrol sama konselor buat bantu pulihkan mental,” sebutnya. 
 

Ciri-ciri Pelaku Love Scamming 

Heru menerangkan, love scamming sejatinya mudah dikenali. Jikalau seseorang terburu-buru menyatakan cinta, tetapi tidak mau melakukan video call atau ketemu langsung, ini menjadi tanda bahaya. 

Para pelaku biasanya sering membuat cerita sedih atau mendesak, seperti minta uang karena kecelakaan. “Kalau selalu minta bantuan finansial atau ceritanya nggak masuk akal, waspada, itu kemungkinan scam,” tegas Heru.

Oleh karena itu, agar tidak mudah terjerat kejahatan siber love scamming, masyarakat perlu diedukasi soal keamanan online. Edukasi, menurut Heru, bisa dilakukan melalui sekolah, iklan di medsos, atau workshop komunitas. 

Hal itu bisa dilakukan dengan mengajari cara kenali akun palsu seperti cek foto atau mewaspadai tawaran yang terlalu manis. Dorong kebiasaan pakai kata sandi kuat dan autentikasi dua langkah. “Intinya, ajak orang jadi lebih kritis sama apa yang mereka lihat di internet,” tuturnya. 

Pemerintah juga bisa membuat aturan ketat terhadap platform digital agar tidak mudah disalahgunakan. Heru menyarankan agar otoritas negara memperketat pengawasan transaksi mencurigakan dan membuat tim khusus untuk menangani kejahatan siber. 

Kampanye edukasi lewat TV atau medsos juga penting dilakukan. Kemudian, kerja sama dengan provider internet untuk memblokir situs penipuan dan hukum pelaku dengan tegas. “Bisa juga kita memanfaatkan teknologi AI buat deteksi penipuan lebih cepat,” tambahnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Daftar Pemenang Kategori Cerpen, Novel, dan Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

BERIKUTNYA

Tablet Harga Rp5 Jutaan 2025, Pilih Honor atau Xiaomi?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga