Merefleksikan Kota Lewat Seni Rupa dalam Pameran Jakarta On Fire
25 June 2025 |
12:08 WIB
Sebuah lukisan unik terpampang di sebuah galeri di Jakarta Selatan. Pengantin wanita duduk di pelaminan sambil berswafoto. Si tamu tersenyum simpul sambil merangkul pengantin. Sementara itu, mempelai pria yang duduk menggelesor di lantai memandangi keduanya dengan raut cemburu.
Bangku-bangku plastik di belakang mereka penuh tamu. Ada yang mengintip, bergosip, hingga adegan komikal lain antar ibu dan anak. Suasana semarak menyeruak. Bahkan, momen itu juga ditangkap oleh kamera dari tamu lain yang ingin mengabadikan peristiwa sakral tersebut.
Baca juga: Ketika Seni dan Science Jalan Beriringan Lewat Buku dan Pameran 39 is 0
Perupa Aries Tanjung melukiskan situasi tersebut dalam karya berjudul Mantan Kondangan Nganten. Lukisan menggunakan media akrilik di atas kanvas berukuran 100x70 cm itu secara gamblang menangkap momen canggung yang kerap ditemui antara mantan dan pacar saat hajatan tiba.
Karya bertarikh 2024 itu menjadi salah satu lukisan yang dipamerkan di Institut Français Indonesia (IFI) Wijaya, Jakarta Selatan. Karya ini ditampilkan dalam pameran seni rupa Jakarta On Fire. Ekshibisi ini dibuka pada Selasa (24/6/2025) dan akan berlangsung hingga 5 Juli 2025.
"Ini memang humor yang sengaja saya selipkan. Misalnya dalam acara mantenan [di Betawi], ada mantan yang datang kondangan, sehingga pengantinnya mengalah. Tapi karena tempatnya sempit, dia terpaksa harus duduk di lantai," kata Aries.
Aries Tanjung adalah ilustrator yang dulunya sempat mewarnai Tabloid Nova. Dia dikenal lewat kartu strip bernama Nofee. Kini, perupa yang juga sempat bekerja di majalah remaja Hai itu, bersama Jan Praba dan Yohana Mulyo, menarasikan denyut Jakarta lewat bahasa visual.
Citraan mengenai tradisi Betawi yang mulai luntur juga dilukiskan Aries dalam karya Cokek Membara (akrilik di atas kanvas, 115x80 cm, 2024). Lewat karya tersebut, sang perupa mengimak penari perempuan yang menyampirkan cukin—selendang panjang yang dipakai penari wanita—untuk menggaet pasangannya agar ikut ngibing.
Ada pula lukisan teranyarnya yang bertajuk Urban Sensation (akrilik di atas kanvas, 100x100 cm, 2025). Dalam karya ini, Aries menggambarkan kelimun figur manusia hingga binatang yang berbondong-bondong menuju Monumen Selamat Datang, laiknya laron yang menyerbu cahaya lampu.
"Binatang ini juga menjadi metafora, di mana banyak manusia yang datang ke Jakarta, tapi wujud aslinya atau kelakuannya mirip binatang. Ini banyak kita jumpai di ibukota," imbuhnya.
Salah satu karyanya bertajuk Pokoke Protes (akrilik di atas kanvas, 100x150 cm, 2025). Dalam lukisan ini, kartunis itu menggambarkan ribuan demonstran yang melakukan aksi tapi tidak tahu apa yang mereka aspirasikan. Ada juga karya bertajuk Ondel-Ondel Pegang Jago (2023) dan Korupsi Budaya (2024).
"Para seniman dalam pameran ini juga menyikapi Jakarta dengan sudut pandang berbeda. Total ada 14 karya yang dihadirkan, di mana setiap narasinya hadir dengan pendekatan yang unik," imbuhnya.
Berbeda dengan Jan Praba dan Aries Tanjung, Yohana Mulyo justru menghadirkan lukisan lanskap yang mengimak bukit atau lembah yang hijau. Alumni jurusan Grafik Komunikasi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta itu memang sengaja menjadikan pemandangan sebagai inspirasinya.
Lihat saja lukisan berjudul Akhir Pekan Warga Jakarta (akrilik di atas kanvas, 65x160 cm, 2025) yang menggambarkan kemacetan di tempat-tempat wisata seperti Puncak, Bogor. Lewat bentangan alam yang hijau, Yohana juga memberi kontras ratusan bus dan mobil yang memadati jalan raya di bawahnya.
Namun, sisi lain atau keindahan dari Jakarta juga ditangkap Yohana dalam lukisan bertajuk Sunrise di Jakarta (akrilik di atas kanvas, 70x90 cm, 2025). Dalam kanvasnya, perupa berusia 52 tahun itu melukiskan cahaya matahari terbit yang menerpa bangunan pencakar langit, dengan kendaraan mengular di bawahnya.
"Dengan semakin banyaknya masyarakat yang datang ke Jakarta saya memang bisa mengerti. Sebab, selama mereka masih mau bekerja, mereka bakal dapat uang. Tapi kalau di desa, meskipun suasananya indah, untuk mencari uang susah banget," katanya.
Secara keseluruhan, pameran ini berhasil menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana yang kuat untuk menghargai dan merayakan kota. Ekshibisi ini juga meninggalkan kesan mendalam, bahwa Jakarta sebagai kota panci lebur masih tetap relevan jika disesuaikan dengan semangat zaman, di tengah gempuran arus modernisasi.
Baca juga: Cek 5 Agenda Pameran Seni Juni 2025 di Jakarta, Cocok untuk Melepas Penat
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Bangku-bangku plastik di belakang mereka penuh tamu. Ada yang mengintip, bergosip, hingga adegan komikal lain antar ibu dan anak. Suasana semarak menyeruak. Bahkan, momen itu juga ditangkap oleh kamera dari tamu lain yang ingin mengabadikan peristiwa sakral tersebut.
Baca juga: Ketika Seni dan Science Jalan Beriringan Lewat Buku dan Pameran 39 is 0
Perupa Aries Tanjung melukiskan situasi tersebut dalam karya berjudul Mantan Kondangan Nganten. Lukisan menggunakan media akrilik di atas kanvas berukuran 100x70 cm itu secara gamblang menangkap momen canggung yang kerap ditemui antara mantan dan pacar saat hajatan tiba.
Karya bertarikh 2024 itu menjadi salah satu lukisan yang dipamerkan di Institut Français Indonesia (IFI) Wijaya, Jakarta Selatan. Karya ini ditampilkan dalam pameran seni rupa Jakarta On Fire. Ekshibisi ini dibuka pada Selasa (24/6/2025) dan akan berlangsung hingga 5 Juli 2025.
"Ini memang humor yang sengaja saya selipkan. Misalnya dalam acara mantenan [di Betawi], ada mantan yang datang kondangan, sehingga pengantinnya mengalah. Tapi karena tempatnya sempit, dia terpaksa harus duduk di lantai," kata Aries.

Lukisan Mantan Kondangan Nganten karya Aries Tanjung, dalam pameran Jakarta On Fire di Institut Français Indonesia (IFI) Wijaya, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Citraan mengenai tradisi Betawi yang mulai luntur juga dilukiskan Aries dalam karya Cokek Membara (akrilik di atas kanvas, 115x80 cm, 2024). Lewat karya tersebut, sang perupa mengimak penari perempuan yang menyampirkan cukin—selendang panjang yang dipakai penari wanita—untuk menggaet pasangannya agar ikut ngibing.
Ada pula lukisan teranyarnya yang bertajuk Urban Sensation (akrilik di atas kanvas, 100x100 cm, 2025). Dalam karya ini, Aries menggambarkan kelimun figur manusia hingga binatang yang berbondong-bondong menuju Monumen Selamat Datang, laiknya laron yang menyerbu cahaya lampu.
"Binatang ini juga menjadi metafora, di mana banyak manusia yang datang ke Jakarta, tapi wujud aslinya atau kelakuannya mirip binatang. Ini banyak kita jumpai di ibukota," imbuhnya.
Panci Lebur
Kurator sekaligus seniman Jan Praba mengatakan, pameran Jakarta On Fire memang ingin menggambarkan bagaimana Jakarta menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Dari pasar tradisional yang penuh warna hingga gedung pencakar langit beserta masyarakat di dalamnya, kota ini hidup dalam wajah kompleks.Salah satu karyanya bertajuk Pokoke Protes (akrilik di atas kanvas, 100x150 cm, 2025). Dalam lukisan ini, kartunis itu menggambarkan ribuan demonstran yang melakukan aksi tapi tidak tahu apa yang mereka aspirasikan. Ada juga karya bertajuk Ondel-Ondel Pegang Jago (2023) dan Korupsi Budaya (2024).
"Para seniman dalam pameran ini juga menyikapi Jakarta dengan sudut pandang berbeda. Total ada 14 karya yang dihadirkan, di mana setiap narasinya hadir dengan pendekatan yang unik," imbuhnya.
Berbeda dengan Jan Praba dan Aries Tanjung, Yohana Mulyo justru menghadirkan lukisan lanskap yang mengimak bukit atau lembah yang hijau. Alumni jurusan Grafik Komunikasi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta itu memang sengaja menjadikan pemandangan sebagai inspirasinya.

Lukisan berjudul Akhir Pekan Warga Jakarta, karya Yohama Mulyo, dalam pameran Jakarta On Fire di Institut Français Indonesia (IFI) Wijaya, Jakarta Selatan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Namun, sisi lain atau keindahan dari Jakarta juga ditangkap Yohana dalam lukisan bertajuk Sunrise di Jakarta (akrilik di atas kanvas, 70x90 cm, 2025). Dalam kanvasnya, perupa berusia 52 tahun itu melukiskan cahaya matahari terbit yang menerpa bangunan pencakar langit, dengan kendaraan mengular di bawahnya.
"Dengan semakin banyaknya masyarakat yang datang ke Jakarta saya memang bisa mengerti. Sebab, selama mereka masih mau bekerja, mereka bakal dapat uang. Tapi kalau di desa, meskipun suasananya indah, untuk mencari uang susah banget," katanya.
Secara keseluruhan, pameran ini berhasil menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana yang kuat untuk menghargai dan merayakan kota. Ekshibisi ini juga meninggalkan kesan mendalam, bahwa Jakarta sebagai kota panci lebur masih tetap relevan jika disesuaikan dengan semangat zaman, di tengah gempuran arus modernisasi.
Baca juga: Cek 5 Agenda Pameran Seni Juni 2025 di Jakarta, Cocok untuk Melepas Penat
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.