Mengenal Lebih Dekat 5 Program Menarik dari ARTJOG 2025 di Yogyakarta
24 June 2025 |
11:55 WIB
Festival seni kontemporer ARTJOG akhirnya kembali digelar di Jogja National Museum, Yogyakarta. Mengusung tema besar Motif: Amalan, hajatan seni rupa tahunan ini sudah bisa dikunjungi publik mulai 20 Juni 2025 lalu dan akan berakhir pada 31 Agustus 2025 mendatang.
Motif: Amalan merupakan rangkuman dari tema trilogi Motif yang telah dirancang bersama kurator Hendro Wiyanto sejak 2023 lalu. Melalui tema ini, pameran akan mencoba menyoroti bentuk dari praktik seni yang bertindak secara etis dan sosial dalam menciptakan kebaikan bersama.
Baca juga: Reza Rahadian Siapkan Pameran Instalasi Seni bertajuk Eudaimonia di ArtJog 2025
“Tema Motif: Amalan sendiri bermaksud untuk membaca ulang praktik artistik dan fungsi dari karya seni, selain memuat nilai estetika. Sementara, ketika fungsi seni dipertanyakan, ia justru terlanjur dibayangkan sebagai tindakan," ungkap Hendro Wiyanto, kurator ARTJOG.
Menurutnya, meskipun bentuk amalan seni tidak dapat dilihat secara gamblang, sesungguhnya para seniman senantiasa berupaya menciptakan kebaikan bersama lewat karya-karya mereka. Sebab, pihaknya meyakini karya seni bukan imajinasi kosong, melainkan sebuah keyakinan estetika dari sebuah tindakan yang bisa menjadi landasan atas segala keputusan.
"Meskipun amalan karya seni tidak terlihat persis, namun imajinasi dari itu [seni] akan mendorong sebuah adanya tindakan yang nyata. Kita masih percaya bahwa seni akan tetap ada, untuk menginspirasi kita semua, bahkan melakukan kritik terhadap apapun yang tidak sesuai dengan cita-cita lama tentang kebaikan dan keadilan bersama”, jelasnya.
Sebagai salah satu perhelatan seni rupa kontemporer berskala akbar, kehadiran ARTJOG setiap tahunnya memang selalu ditunggu masyarakat, tidak hanya oleh para pegiat seni, tetapi juga publik dalam lingkup lokal maupun internasional.
Pertama kali lahir dengan nama Jogja Art Fair atau JAF pada 2008, dan menjadi ARTJOG pada 2010, perhelatan ini konsisten berevolusi dari segi gagasan maupun bentuknya hingga saat ini. Festival ini juga terus mengangkat tema-tema yang kontemplatif terhadap kondisi seni kekinian.
Lantas, apa saja hal menarik dari ARTJOG 2025? Berikut adalah ulasannya:
Pada program utama, Artjog tahun ini menampilkan karya dari dua seniman komisi, yakni Anusapati dari Yogyakarta dan kelompok REcycle-EXPerience dari Bandung. Dalam pameran ini, keduanya akan merespons tema Motif: Amalan.
Anusapati menciptakan instalasi berjudul POHON | KAYU, yang menyuarakan dampak eksploitasi lingkungan, khususnya pada hutan dan tambang. Dia menghidupkan kembali relasi manusia dengan alam lewat material utama berupa kayu mati yang disusun sedemikian rupa di ruang pamer.
Instalasi ini diperkaya oleh elemen bunyi yang dirancang Tony Maryana, seniman suara, untuk memperluas dimensi pengalaman penonton. Saat memasuki ruang pamer, bebunyian yang muncul akan membantu menciptakan pengalaman kognitif dan persepsi baru di karya ini.
Untuk pertama kalinya, ARTJOG menghadirkan Spotlight, sebuah program lintas disiplin yang mempertemukan seni rupa dan seni pertunjukan. Dalam edisi perdana, Reza Rahadian menampilkan karya instalasi bertajuk Eudaimonia. Karya ini merupakan refleksi dua dekade perjalanan kariernya di dunia seni peran.
Eudaimonia dirancang bersama para kolaborator ternama seperti Garin Nugroho, Siko Setyanto, Aditya Surya Taruna, Andra Matin, dan Davy Linggar. Melalui pendekatan filosofis yang mengangkat pencarian makna dan keseimbangan hidup, proyek ini merayakan semangat berproses dan pencapaian bermakna.
Tiga kolektif seni dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam proyek partisipatif ini. Mereka adalah Murakabi Movement (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), dan DEVFTO Printmaking Institute (Bali). Murakabi mengajak pengunjung merenungi keterkaitan antara manusia dan lingkungan dalam aktivitas harian melalui karya berjudul Tanah Air βeta. Karya ini memanfaatkan bahan trasah batu sebagai simbol siklus ekologis berkelanjutan.
Sementara itu, ruangrupa mengubah ruangnya menjadi taman belajar kolektif. Konsepnya merujuk semangat Perguruan Taman Siswa dengan pendekatan yang kolaboratif dan terbuka. Lalu, DEVFTO di program ini tidak hanya menampilkan karya cetak grafis hasil kolaborasi dengan berbagai seniman, tetapi juga menyelenggarakan lokakarya teknik cetak yang memberi ruang eksplorasi bagi publik dan seniman muda.
Sebagai bagian dari komitmen inklusivitas, ARTJOG memperluas ruang bagi seniman difabel melalui kerja sama dengan Open Arms program dari Selasar Sunaryo Art Space. Inisiatif Love ARTJOG tahun ini mencakup mini residensi di studio para seniman, mengajak peserta untuk membangun jejaring dan menciptakan berbagi praktik seni. Selain residensi, program ini juga mendorong keterlibatan langsung dalam pendampingan dan penyelenggaraan acara.
Selain menyaring penampil dari proses panggilan terbuka bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, Performa ARTJOG juga mengundang Bottlesmoker dan Rumah Atsiri Indonesia untuk menghadirkan pertunjukan tematik berbasis eksplorasi bunyi.
Program ini turut menghadirkan karya kolaboratif bersama sejumlah mitra, seperti Garasi Performance Institute yang menggandeng Ishvara Devati dan Lembana Artgroecosystem, serta Liquid Architecture yang membawa Tralala Blip, grup musisi difabel asal Australia. Penampilan lainnya datang dari Ko Shin Moon dan Rouge melalui kerja sama dengan IFI Yogyakarta. Seluruh pertunjukan akan berlangsung rutin setiap minggu selama penyelenggaraan ARTJOG.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Motif: Amalan merupakan rangkuman dari tema trilogi Motif yang telah dirancang bersama kurator Hendro Wiyanto sejak 2023 lalu. Melalui tema ini, pameran akan mencoba menyoroti bentuk dari praktik seni yang bertindak secara etis dan sosial dalam menciptakan kebaikan bersama.
Baca juga: Reza Rahadian Siapkan Pameran Instalasi Seni bertajuk Eudaimonia di ArtJog 2025
“Tema Motif: Amalan sendiri bermaksud untuk membaca ulang praktik artistik dan fungsi dari karya seni, selain memuat nilai estetika. Sementara, ketika fungsi seni dipertanyakan, ia justru terlanjur dibayangkan sebagai tindakan," ungkap Hendro Wiyanto, kurator ARTJOG.
Menurutnya, meskipun bentuk amalan seni tidak dapat dilihat secara gamblang, sesungguhnya para seniman senantiasa berupaya menciptakan kebaikan bersama lewat karya-karya mereka. Sebab, pihaknya meyakini karya seni bukan imajinasi kosong, melainkan sebuah keyakinan estetika dari sebuah tindakan yang bisa menjadi landasan atas segala keputusan.
"Meskipun amalan karya seni tidak terlihat persis, namun imajinasi dari itu [seni] akan mendorong sebuah adanya tindakan yang nyata. Kita masih percaya bahwa seni akan tetap ada, untuk menginspirasi kita semua, bahkan melakukan kritik terhadap apapun yang tidak sesuai dengan cita-cita lama tentang kebaikan dan keadilan bersama”, jelasnya.
Sebagai salah satu perhelatan seni rupa kontemporer berskala akbar, kehadiran ARTJOG setiap tahunnya memang selalu ditunggu masyarakat, tidak hanya oleh para pegiat seni, tetapi juga publik dalam lingkup lokal maupun internasional.
Pertama kali lahir dengan nama Jogja Art Fair atau JAF pada 2008, dan menjadi ARTJOG pada 2010, perhelatan ini konsisten berevolusi dari segi gagasan maupun bentuknya hingga saat ini. Festival ini juga terus mengangkat tema-tema yang kontemplatif terhadap kondisi seni kekinian.
Lantas, apa saja hal menarik dari ARTJOG 2025? Berikut adalah ulasannya:
1. Pameran Utama

ARTJOG 2025 (Sumber gamber: ARTJOG)
Pada program utama, Artjog tahun ini menampilkan karya dari dua seniman komisi, yakni Anusapati dari Yogyakarta dan kelompok REcycle-EXPerience dari Bandung. Dalam pameran ini, keduanya akan merespons tema Motif: Amalan.
Anusapati menciptakan instalasi berjudul POHON | KAYU, yang menyuarakan dampak eksploitasi lingkungan, khususnya pada hutan dan tambang. Dia menghidupkan kembali relasi manusia dengan alam lewat material utama berupa kayu mati yang disusun sedemikian rupa di ruang pamer.
Instalasi ini diperkaya oleh elemen bunyi yang dirancang Tony Maryana, seniman suara, untuk memperluas dimensi pengalaman penonton. Saat memasuki ruang pamer, bebunyian yang muncul akan membantu menciptakan pengalaman kognitif dan persepsi baru di karya ini.
2. Program Spotlight
Untuk pertama kalinya, ARTJOG menghadirkan Spotlight, sebuah program lintas disiplin yang mempertemukan seni rupa dan seni pertunjukan. Dalam edisi perdana, Reza Rahadian menampilkan karya instalasi bertajuk Eudaimonia. Karya ini merupakan refleksi dua dekade perjalanan kariernya di dunia seni peran. Eudaimonia dirancang bersama para kolaborator ternama seperti Garin Nugroho, Siko Setyanto, Aditya Surya Taruna, Andra Matin, dan Davy Linggar. Melalui pendekatan filosofis yang mengangkat pencarian makna dan keseimbangan hidup, proyek ini merayakan semangat berproses dan pencapaian bermakna.
3. Special Project

ARTJOG 2025 (Sumber gamber: ARTJOG)
Tiga kolektif seni dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam proyek partisipatif ini. Mereka adalah Murakabi Movement (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), dan DEVFTO Printmaking Institute (Bali). Murakabi mengajak pengunjung merenungi keterkaitan antara manusia dan lingkungan dalam aktivitas harian melalui karya berjudul Tanah Air βeta. Karya ini memanfaatkan bahan trasah batu sebagai simbol siklus ekologis berkelanjutan.
Sementara itu, ruangrupa mengubah ruangnya menjadi taman belajar kolektif. Konsepnya merujuk semangat Perguruan Taman Siswa dengan pendekatan yang kolaboratif dan terbuka. Lalu, DEVFTO di program ini tidak hanya menampilkan karya cetak grafis hasil kolaborasi dengan berbagai seniman, tetapi juga menyelenggarakan lokakarya teknik cetak yang memberi ruang eksplorasi bagi publik dan seniman muda.
4. Love ARTJOG
Sebagai bagian dari komitmen inklusivitas, ARTJOG memperluas ruang bagi seniman difabel melalui kerja sama dengan Open Arms program dari Selasar Sunaryo Art Space. Inisiatif Love ARTJOG tahun ini mencakup mini residensi di studio para seniman, mengajak peserta untuk membangun jejaring dan menciptakan berbagi praktik seni. Selain residensi, program ini juga mendorong keterlibatan langsung dalam pendampingan dan penyelenggaraan acara.
5. Performa ARTJOG
Selain menyaring penampil dari proses panggilan terbuka bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, Performa ARTJOG juga mengundang Bottlesmoker dan Rumah Atsiri Indonesia untuk menghadirkan pertunjukan tematik berbasis eksplorasi bunyi. Program ini turut menghadirkan karya kolaboratif bersama sejumlah mitra, seperti Garasi Performance Institute yang menggandeng Ishvara Devati dan Lembana Artgroecosystem, serta Liquid Architecture yang membawa Tralala Blip, grup musisi difabel asal Australia. Penampilan lainnya datang dari Ko Shin Moon dan Rouge melalui kerja sama dengan IFI Yogyakarta. Seluruh pertunjukan akan berlangsung rutin setiap minggu selama penyelenggaraan ARTJOG.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.