Geopolitik Panas, Cek Cara Bijak Investasi Emas
23 June 2025 |
18:30 WIB
Ketegangan geopolitik global yang terus meningkat telah menciptakan ketidakpastian besar di pasar keuangan internasional. Kini, konflik bersenjata antara Israel dan Iran serta efek domino dari kebijakan proteksionisme ekonomi Amerika Serikat membuat masyarakat dunia khawatir dalam perekonomian.
Dalam situasi penuh turbulensi ini, para investor global makin melirik emas sebagai aset pelindung nilai atau safe haven. Instrumen investasi seperti saham dan obligasi dari negara berkembang yang sebelumnya menjanjikan imbal hasil tinggi mulai ditinggalkan sementara. Banyak dana dialihkan ke instrumen yang dinilai lebih stabil dan tahan guncangan. Salah satunya adalah emas.
Baca juga: 5 Strategi Investasi Usia Muda ala Miliarder Sulianto Indria Putra
Menurut Perencana Keuangan Maryadi Santana, dalam situasi yang tidak pasti seperti sekarang ini, masyarakat cenderung menghindari keputusan besar atau spekulatif dalam berinvestasi. “Tidak pasti, banyak ketakutan, dan orang tidak berani untuk mengambil keputusan atau memilih instrumen investasi yang lebih berisiko,” ungkapnya.
Oleh karena itu, emas menjadi instrumen yang paling dilirik. Hal ini karena emas dinilai memiliki keunggulan sebagai aset nyata yang bisa dipegang, dibawa, dijual kapan saja dan di mana saja. “Orang akan mencari sesuatu yang dianggap bisa lebih aman, atau paling tidak ada bentuknya, bisa dipegang, bisa dibawa, bisa laku di mana pun,” jelas Maryadi. Dengan terbatasnya pilihan akibat situasi global dan ketidakpastian di Amerika Serikat, emas dinilai makin relevan.
Harga emas yang terus mengalami kenaikan juga menjadi bukti meningkatnya permintaan. Sementara, kata Maryadi, suplainya tidak terlalu bertambah banyak. Inilah yang mendorong harga emas terus naik belakangan waktu.
Memang, emas dipandang lebih stabil dibandingkan aset lain karena tidak terlalu terpengaruh oleh kebijakan pemerintah atau fluktuasi mata uang. Meski begitu, Maryadi menekankan bahwa keputusan untuk berinvestasi emas tidak bisa sembarangan. Dia menganjurkan untuk terlebih dahulu memahami tujuan keuangan masing-masing.
Menurutnya, keputusan untuk membeli emas sebaiknya bukan hanya karena tren harga yang sedang naik, tetapi harus selaras dengan tujuan jangka panjang.
Bagi investor yang sudah memiliki emas dalam portofolionya, disarankan untuk mengevaluasi komposisinya secara keseluruhan. “Coba dihitung lagi, komposisi emas ini terhadap keseluruhan aset sudah seberapa banyak? Apakah perlu ditambah atau tidak?” katanya. Dia mengingatkan, jika proporsi emas terlalu besar, ini justru bisa saja malah membebani diversifikasi portofolio.
Terkait bentuk investasi, saat ini emas fisik dan emas digital masih menjadi pilihan utama di Indonesia. Sebab, memang produk seperti reksa dana emas dan ETF emas belum tersedia secara luas. Untuk investor dengan dana terbatas, emas digital dianggap lebih terjangkau karena bisa dibeli secara bertahap.
Soal proporsi ideal investasi emas, Maryadi menekankan bahwa setiap individu akan memiliki angka yang berbeda. “Satu orang bisa 10 persen, yang lain bisa 20 persen, atau mungkin ada yang cukup 1 persen saja,” jelasnya. Hal ini bergantung pada total nilai aset yang dimiliki dan tujuan keuangan masing-masing.
Investor jangka pendek disebut akan cenderung lebih agresif dalam melihat peluang dari kenaikan harga emas saat ini. Namun, mereka tetap diminta untuk berhitung cermat. “Apakah dengan membeli lebih banyak lagi keuntungannya bisa bertambah atau menjadikan harga averaging-nya jadi lebih tinggi yang akhirnya akan mengurangi keuntungan di masa depan?” ujarnya.
Sebaliknya, investor jangka panjang disarankan untuk melihat apakah bobot emas dalam portofolio mereka sudah cukup. Jika kondisi geopolitik berkepanjangan, penambahan bobot bisa dipertimbangkan. Namun tetap berdasarkan perencanaan yang menyeluruh.
Maryadi juga mengingatkan bahwa emas tidak bebas risiko. Risiko kehilangan untuk emas fisik, hingga risiko likuiditas karena perbedaan harga beli dan jual yang signifikan juga bisa menghantui.
Meski agaknya investor berbondong-bondong lari ke emas, Perencana Keuangan Ruisa Khoiriyah menegaskan investor perlu berhitung cermat sebelum ambil keputusan. Memang, emas memang kerap menjadi tempat pelarian modal dalam situasi tidak menentu.
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap kali muncul krisis global baik itu pandemi, konflik bersenjata, hingga ketegangan suku bunga di Amerika Serikat, harga emas selalu mengalami lonjakan karena investor lebih memilih untuk mengamankan nilai aset mereka.
Dalam kasus serangan mendadak Israel ke Iran beberapa waktu lalu, investor langsung bereaksi dengan keluar dari pasar saham dan obligasi negara berkembang, lalu memarkir dananya di emas. “Tentu emas dianggap stabil sebagai hedging atau alat pelindung nilai,” kata Ruisa.
Meski demikian, harga emas global tidak selalu menanjak tanpa jeda. Pergerakannya tetap naik turun, sangat sensitif terhadap sentimen pasar.
Ketika ketegangan mereda atau risiko pasar dianggap menurun, investor biasanya mulai melepas emas dan kembali memburu aset-aset berisiko yang menawarkan yield lebih tinggi. Oleh karena itu, Ruisa menilai emas bukanlah instrumen investasi utama yang selalu menguntungkan dalam setiap fase ekonomi.
Dari sisi karakteristik, emas memang tidak memberikan imbal hasil langsung seperti dividen saham atau bunga obligasi. Namun, kestabilannya dalam menghadapi tekanan inflasi dan nilai tukar menjadikannya menarik sebagai alat diversifikasi yang perlu dipertimbangkan.
"Sementara harga emas itu relatif lebih stabil. Kalaupun turun, juga tidak banyak dalam jangka pendek. Tidak sefluktuatif saham,” jelas Ruisa. Karena itu, dia menyarankan agar emas dijadikan sebagai pelengkap dalam portofolio investasi, bukan sebagai instrumen utama.
Terkait alokasi, Ruisa menekankan pentingnya memahami tujuan keuangan pribadi sebelum memutuskan porsi investasi emas. Proporsi ideal akan sangat tergantung pada profil risiko dan strategi keuangan masing-masing.
"Kalau misalnya tujuannya adalah untuk mengakumulasi kapital, itu lebih cocok memang dengan instrumen yang memiliki potensi return tinggi,” katanya. Menurut pandangan Ruisa, emas lebih cocok sebagai hedging, bukan untuk mengejar keuntungan secara agresif. Dalam banyak kasus, Ruisa menilai porsi emas sekitar 20-30 persen dari total portofolio dinilai sudah cukup sehat.
Baca juga: Rupiah Melemah, Ini 4 Instrumen Investasi yang Bisa Jadi Pilihan
Dia juga mengingatkan bahwa emas sebaiknya bukan digunakan sebagai spekulasi jangka pendek saja, tapi untuk investasi jangka panjang. Sebab, dalam jangka panjang, emas terbukti cukup tangguh dalam melawan inflasi. Hal ini membuatnya tetap relevan untuk dimiliki sebagai bagian dari perencanaan keuangan. Apalagi dengan proyeksi bahwa kebijakan suku bunga global ke depan akan cenderung melonggar akibat perlambatan ekonomi.
Menurutnya, sentimen ini akan menguntungkan harga emas. “Namun, investor tetap perlu waspada karena beberapa analis global memperkirakan bahwa tren bullish harga emas bisa saja mulai berakhir, dan ada kemungkinan koreksi menuju level US$2.500 per troy ounce,” imbuhnya.
Namun yang paling penting, sebelum mengalokasikan dana ke emas atau aset investasi lainnya, investor perlu memastikan bahwa dana darurat mereka sudah aman. “Pastikan dana darurat sudah aman dulu. Jangan sampai turbulensi pasar yang makin tajam belakangan ini berdampak pada kebutuhan keuangan yang sudah dekat,” ujarnya.
Dalam situasi penuh turbulensi ini, para investor global makin melirik emas sebagai aset pelindung nilai atau safe haven. Instrumen investasi seperti saham dan obligasi dari negara berkembang yang sebelumnya menjanjikan imbal hasil tinggi mulai ditinggalkan sementara. Banyak dana dialihkan ke instrumen yang dinilai lebih stabil dan tahan guncangan. Salah satunya adalah emas.
Baca juga: 5 Strategi Investasi Usia Muda ala Miliarder Sulianto Indria Putra
Menurut Perencana Keuangan Maryadi Santana, dalam situasi yang tidak pasti seperti sekarang ini, masyarakat cenderung menghindari keputusan besar atau spekulatif dalam berinvestasi. “Tidak pasti, banyak ketakutan, dan orang tidak berani untuk mengambil keputusan atau memilih instrumen investasi yang lebih berisiko,” ungkapnya.
Oleh karena itu, emas menjadi instrumen yang paling dilirik. Hal ini karena emas dinilai memiliki keunggulan sebagai aset nyata yang bisa dipegang, dibawa, dijual kapan saja dan di mana saja. “Orang akan mencari sesuatu yang dianggap bisa lebih aman, atau paling tidak ada bentuknya, bisa dipegang, bisa dibawa, bisa laku di mana pun,” jelas Maryadi. Dengan terbatasnya pilihan akibat situasi global dan ketidakpastian di Amerika Serikat, emas dinilai makin relevan.
Harga emas yang terus mengalami kenaikan juga menjadi bukti meningkatnya permintaan. Sementara, kata Maryadi, suplainya tidak terlalu bertambah banyak. Inilah yang mendorong harga emas terus naik belakangan waktu.
Memang, emas dipandang lebih stabil dibandingkan aset lain karena tidak terlalu terpengaruh oleh kebijakan pemerintah atau fluktuasi mata uang. Meski begitu, Maryadi menekankan bahwa keputusan untuk berinvestasi emas tidak bisa sembarangan. Dia menganjurkan untuk terlebih dahulu memahami tujuan keuangan masing-masing.
Menurutnya, keputusan untuk membeli emas sebaiknya bukan hanya karena tren harga yang sedang naik, tetapi harus selaras dengan tujuan jangka panjang.
Bagi investor yang sudah memiliki emas dalam portofolionya, disarankan untuk mengevaluasi komposisinya secara keseluruhan. “Coba dihitung lagi, komposisi emas ini terhadap keseluruhan aset sudah seberapa banyak? Apakah perlu ditambah atau tidak?” katanya. Dia mengingatkan, jika proporsi emas terlalu besar, ini justru bisa saja malah membebani diversifikasi portofolio.
Terkait bentuk investasi, saat ini emas fisik dan emas digital masih menjadi pilihan utama di Indonesia. Sebab, memang produk seperti reksa dana emas dan ETF emas belum tersedia secara luas. Untuk investor dengan dana terbatas, emas digital dianggap lebih terjangkau karena bisa dibeli secara bertahap.
Soal proporsi ideal investasi emas, Maryadi menekankan bahwa setiap individu akan memiliki angka yang berbeda. “Satu orang bisa 10 persen, yang lain bisa 20 persen, atau mungkin ada yang cukup 1 persen saja,” jelasnya. Hal ini bergantung pada total nilai aset yang dimiliki dan tujuan keuangan masing-masing.
Investor jangka pendek disebut akan cenderung lebih agresif dalam melihat peluang dari kenaikan harga emas saat ini. Namun, mereka tetap diminta untuk berhitung cermat. “Apakah dengan membeli lebih banyak lagi keuntungannya bisa bertambah atau menjadikan harga averaging-nya jadi lebih tinggi yang akhirnya akan mengurangi keuntungan di masa depan?” ujarnya.
Sebaliknya, investor jangka panjang disarankan untuk melihat apakah bobot emas dalam portofolio mereka sudah cukup. Jika kondisi geopolitik berkepanjangan, penambahan bobot bisa dipertimbangkan. Namun tetap berdasarkan perencanaan yang menyeluruh.
Maryadi juga mengingatkan bahwa emas tidak bebas risiko. Risiko kehilangan untuk emas fisik, hingga risiko likuiditas karena perbedaan harga beli dan jual yang signifikan juga bisa menghantui.
Perlu Perhitungan

Ilustrasi emas (Sumber gambar: Pexels)
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap kali muncul krisis global baik itu pandemi, konflik bersenjata, hingga ketegangan suku bunga di Amerika Serikat, harga emas selalu mengalami lonjakan karena investor lebih memilih untuk mengamankan nilai aset mereka.
Dalam kasus serangan mendadak Israel ke Iran beberapa waktu lalu, investor langsung bereaksi dengan keluar dari pasar saham dan obligasi negara berkembang, lalu memarkir dananya di emas. “Tentu emas dianggap stabil sebagai hedging atau alat pelindung nilai,” kata Ruisa.
Meski demikian, harga emas global tidak selalu menanjak tanpa jeda. Pergerakannya tetap naik turun, sangat sensitif terhadap sentimen pasar.
Ketika ketegangan mereda atau risiko pasar dianggap menurun, investor biasanya mulai melepas emas dan kembali memburu aset-aset berisiko yang menawarkan yield lebih tinggi. Oleh karena itu, Ruisa menilai emas bukanlah instrumen investasi utama yang selalu menguntungkan dalam setiap fase ekonomi.
Dari sisi karakteristik, emas memang tidak memberikan imbal hasil langsung seperti dividen saham atau bunga obligasi. Namun, kestabilannya dalam menghadapi tekanan inflasi dan nilai tukar menjadikannya menarik sebagai alat diversifikasi yang perlu dipertimbangkan.
"Sementara harga emas itu relatif lebih stabil. Kalaupun turun, juga tidak banyak dalam jangka pendek. Tidak sefluktuatif saham,” jelas Ruisa. Karena itu, dia menyarankan agar emas dijadikan sebagai pelengkap dalam portofolio investasi, bukan sebagai instrumen utama.
Terkait alokasi, Ruisa menekankan pentingnya memahami tujuan keuangan pribadi sebelum memutuskan porsi investasi emas. Proporsi ideal akan sangat tergantung pada profil risiko dan strategi keuangan masing-masing.
"Kalau misalnya tujuannya adalah untuk mengakumulasi kapital, itu lebih cocok memang dengan instrumen yang memiliki potensi return tinggi,” katanya. Menurut pandangan Ruisa, emas lebih cocok sebagai hedging, bukan untuk mengejar keuntungan secara agresif. Dalam banyak kasus, Ruisa menilai porsi emas sekitar 20-30 persen dari total portofolio dinilai sudah cukup sehat.
Baca juga: Rupiah Melemah, Ini 4 Instrumen Investasi yang Bisa Jadi Pilihan
Dia juga mengingatkan bahwa emas sebaiknya bukan digunakan sebagai spekulasi jangka pendek saja, tapi untuk investasi jangka panjang. Sebab, dalam jangka panjang, emas terbukti cukup tangguh dalam melawan inflasi. Hal ini membuatnya tetap relevan untuk dimiliki sebagai bagian dari perencanaan keuangan. Apalagi dengan proyeksi bahwa kebijakan suku bunga global ke depan akan cenderung melonggar akibat perlambatan ekonomi.
Menurutnya, sentimen ini akan menguntungkan harga emas. “Namun, investor tetap perlu waspada karena beberapa analis global memperkirakan bahwa tren bullish harga emas bisa saja mulai berakhir, dan ada kemungkinan koreksi menuju level US$2.500 per troy ounce,” imbuhnya.
Namun yang paling penting, sebelum mengalokasikan dana ke emas atau aset investasi lainnya, investor perlu memastikan bahwa dana darurat mereka sudah aman. “Pastikan dana darurat sudah aman dulu. Jangan sampai turbulensi pasar yang makin tajam belakangan ini berdampak pada kebutuhan keuangan yang sudah dekat,” ujarnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.