Menengok Eksistensi Tradisi Betawi di Jakarta yang Terus Berubah
23 June 2025 |
17:00 WIB
Nama Pitung kembali menggema di Jakarta. Sosok legendaris Betawi itu, tiga tahun silam, tepatnya pada 22 Juni 2022, diabadikan menjadi nama jalan, menggantikan Jalan Raya Kebayoran Lama di Jakarta Selatan, sebuah langkah untuk mengenalkan pahlawan Betawi itu pada publik.
Sebagai tokoh yang mewakili semangat perlawanan terhadap kolonialisme, Bang Pitung dulunya dikenal luas sebagai jawara Betawi. Namun, di tengah derasnya modernisasi, namanya seolah ikut tenggelam di kalangan generasi muda, sebuah ironi di tanah kelahirannya sendiri.
Tak jauh dari papan jalan yang baru diresmikan itu, berdiri Sanggar Si Pitung, dipimpin oleh H. Bachtiar. Sanggar ini masih berjuang menjaga nyala tradisi Betawi, meski terus berhadapan dengan tantangan pelik untuk bertahan di tengah kota yang makin padat dan menekan.
Baca juga: Rayakan HUT ke-498, Pemprov DKI Jakarta Gandeng 10 Hotel Angkat Seni Budaya dan Kuliner Betawi
Ruang gerak mereka makin sempit, tempat latihan berubah jadi kontrakan, dan panggung kesenian makin jarang digelar. Tradisi seperti lenong, tanjidor, hingga palang pintu, nyaris tak terdengar gaungnya. Budaya Betawi berjuang di tanah kelahirannya sendiri.
"Kesenian Betawi belum punya tempat yang layak di kotanya sendiri. Kita ini cuma jadi penonton. Masa mau nonton lenong harus nunggu hajatan?" papar Bachtiar saat ditemui Hypeabis.id, belum lama ini.
Walakin, semangat Bachtiar belum padam. Menurutnya, ngaji dan silat bukan sekadar aktivitas, tapi bagian dari jati diri. Di Sanggar Si Pitung, silat Cingkrik tetap diajarkan. Pun dengan seni gambang kromong, kasidah, tanjidor, dan lenong—semua terus diwariskan.
"Betawi punya aliran silat paling banyak. Di Tanah Abang ada Sabeni, Rawa Belong ada Cingkrik, Beksi di Tangerang, Gamblong di Joglo. Tapi semua ini jalan sendiri-sendiri. Nggak ada wadah," tambahnya.
Minimnya ruang dan perhatian membuat tradisi ini seperti hidup enggan, mati pun tak rela. Terlebih di era digital, budaya populer jauh lebih menarik bagi generasi muda. Tradisi Betawi kian terdesak di pojok-pojok kota yang terus bergerak cepat.
Apa yang dirasakan Bachtiar juga dialami Madon (Rahmat Fauzi, 42), anggota Sanggar Bang Bens. Walau jarang tampil, mereka tetap konsisten. "Malam Sabtu kami latihan silat, malam Kamis ngaji bareng. Mayoritas anak SD, karena kami juga masuk ke ekskul sekolah," katanya.
Betawi bukan hanya etnis, tapi identitas budaya yang tumbuh dari keragaman. Namun, pelestariannya butuh lebih dari sekadar niat—perlu regulasi yang kuat agar tradisi tak cuma dikenang, tapi juga hidup dan berkembang di akar rumput.
Apalagi dengan berlakunya UU Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, status Jakarta sebagai ibu kota akan segera berakhir. Maka, kota ini perlu mendefinisikan ulang identitasnya, termasuk menjadikan budaya Betawi sebagai pilar kota global di usia ke-500 nanti.
Beky Mardani, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, menekankan pentingnya peran budaya Betawi dalam membentuk karakter warga Jakarta yang multikultural. "Ironis, budaya kota besar seperti Jakarta justru termarjinalkan, kalah oleh tekanan budaya luar," ujarnya.
Salah satu akar persoalan, kata Beky, adalah lemahnya kemauan politik dari pemerintah. Dia mendorong agar Perda No. 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi segera direvisi agar sejalan dengan UU Pemajuan Kebudayaan (UU No. 5 Tahun 2017).
Revisi ini, lanjut Beky, akan membuka jalan bagi sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta dalam pelestarian budaya. "Ekosistemnya harus dibangun. SKPD dan UKPD perlu benar-benar mendukung pelestarian ini," tegasnya.
Baca juga: Festival Bandeng Rawa Belong 2025, Perayaan & Pelestarian Tradisi Betawi
Sebagai kota global, Jakarta juga harus mulai mengintegrasikan budaya Betawi dalam jaringan internasional. Bisa melalui diplomasi budaya, ekonomi kreatif, maupun digitalisasi warisan. Tujuannya: menjadikan Betawi sebagai wajah budaya yang hidup dan relevan.
Beky berharap, pelestarian ini juga memberi ruang bagi para seniman Betawi untuk mengekspresikan ide kreatifnya. "Dan tentu, pelajaran muatan lokal harus memastikan anak-anak Jakarta mengenal budaya Betawi sejak sekolah," tutupnya.
Sebagai tokoh yang mewakili semangat perlawanan terhadap kolonialisme, Bang Pitung dulunya dikenal luas sebagai jawara Betawi. Namun, di tengah derasnya modernisasi, namanya seolah ikut tenggelam di kalangan generasi muda, sebuah ironi di tanah kelahirannya sendiri.
Tak jauh dari papan jalan yang baru diresmikan itu, berdiri Sanggar Si Pitung, dipimpin oleh H. Bachtiar. Sanggar ini masih berjuang menjaga nyala tradisi Betawi, meski terus berhadapan dengan tantangan pelik untuk bertahan di tengah kota yang makin padat dan menekan.
Baca juga: Rayakan HUT ke-498, Pemprov DKI Jakarta Gandeng 10 Hotel Angkat Seni Budaya dan Kuliner Betawi
Ruang gerak mereka makin sempit, tempat latihan berubah jadi kontrakan, dan panggung kesenian makin jarang digelar. Tradisi seperti lenong, tanjidor, hingga palang pintu, nyaris tak terdengar gaungnya. Budaya Betawi berjuang di tanah kelahirannya sendiri.
"Kesenian Betawi belum punya tempat yang layak di kotanya sendiri. Kita ini cuma jadi penonton. Masa mau nonton lenong harus nunggu hajatan?" papar Bachtiar saat ditemui Hypeabis.id, belum lama ini.

H. Bachtiar mempraktikkan salah satu jurus silat cingkrik, di sanggarnya (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Walakin, semangat Bachtiar belum padam. Menurutnya, ngaji dan silat bukan sekadar aktivitas, tapi bagian dari jati diri. Di Sanggar Si Pitung, silat Cingkrik tetap diajarkan. Pun dengan seni gambang kromong, kasidah, tanjidor, dan lenong—semua terus diwariskan.
"Betawi punya aliran silat paling banyak. Di Tanah Abang ada Sabeni, Rawa Belong ada Cingkrik, Beksi di Tangerang, Gamblong di Joglo. Tapi semua ini jalan sendiri-sendiri. Nggak ada wadah," tambahnya.
Minimnya ruang dan perhatian membuat tradisi ini seperti hidup enggan, mati pun tak rela. Terlebih di era digital, budaya populer jauh lebih menarik bagi generasi muda. Tradisi Betawi kian terdesak di pojok-pojok kota yang terus bergerak cepat.
Apa yang dirasakan Bachtiar juga dialami Madon (Rahmat Fauzi, 42), anggota Sanggar Bang Bens. Walau jarang tampil, mereka tetap konsisten. "Malam Sabtu kami latihan silat, malam Kamis ngaji bareng. Mayoritas anak SD, karena kami juga masuk ke ekskul sekolah," katanya.
Butuh Payung Regulasi
Betawi bukan hanya etnis, tapi identitas budaya yang tumbuh dari keragaman. Namun, pelestariannya butuh lebih dari sekadar niat—perlu regulasi yang kuat agar tradisi tak cuma dikenang, tapi juga hidup dan berkembang di akar rumput.Apalagi dengan berlakunya UU Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, status Jakarta sebagai ibu kota akan segera berakhir. Maka, kota ini perlu mendefinisikan ulang identitasnya, termasuk menjadikan budaya Betawi sebagai pilar kota global di usia ke-500 nanti.
Beky Mardani, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, menekankan pentingnya peran budaya Betawi dalam membentuk karakter warga Jakarta yang multikultural. "Ironis, budaya kota besar seperti Jakarta justru termarjinalkan, kalah oleh tekanan budaya luar," ujarnya.

Perajin membawa ondel-ondel di Kramat Pulo, Jakarta, Rabu (28/52025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Revisi ini, lanjut Beky, akan membuka jalan bagi sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta dalam pelestarian budaya. "Ekosistemnya harus dibangun. SKPD dan UKPD perlu benar-benar mendukung pelestarian ini," tegasnya.
Baca juga: Festival Bandeng Rawa Belong 2025, Perayaan & Pelestarian Tradisi Betawi
Sebagai kota global, Jakarta juga harus mulai mengintegrasikan budaya Betawi dalam jaringan internasional. Bisa melalui diplomasi budaya, ekonomi kreatif, maupun digitalisasi warisan. Tujuannya: menjadikan Betawi sebagai wajah budaya yang hidup dan relevan.
Beky berharap, pelestarian ini juga memberi ruang bagi para seniman Betawi untuk mengekspresikan ide kreatifnya. "Dan tentu, pelajaran muatan lokal harus memastikan anak-anak Jakarta mengenal budaya Betawi sejak sekolah," tutupnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.