Cagar Budaya Banyak Rusak, Revitalisasi Dinilai Mendesak
20 June 2025 |
08:30 WIB
Bangunan cagar budaya tak hanya menyimpan cerita masa lalu, tapi juga mencerminkan kemajuan peradaban. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya pendataan dan pemulihan bangunan bersejarah makin giat dilakukan. Akan tetapi, tak semua bangunan bisa terawat dengan baik. Banyak yang rusak, bahkan terbengkalai.
Arsitek Yori Antar mengatakan, Indonesia memiliki banyak bangunan bersejarah yang mendesak untuk segera direvitalisasi. Meski begitu dalam praktiknya, biaya sering kali menjadi hambatan utama untuk merestorasi atau memfungsikan kembali bangunan tersebut.
Di Jakarta, misalnya, Yori menyoroti sejumlah bangunan yang hingga kini masih terbengkalai. Salah satunya adalah Toko Kompak di Jalan Pasar Baru, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya lewat Kepgub No. 240 Tahun 2022. Sayangnya, bangunan yang dulunya merupakan kediaman Majoor der Chinezen ke-4 Batavia itu dibiarkan kosong dan rusak.
“Bentuk rumah Toko Kompak ini sangat lengkap tapi dalam kondisi menyedihkan. Harusnya spirit melestarikan sejarah itu jangan sampai membuat kita sebagai warga kota kehilangan akar sejarah kita sendiri. Karena semua sudah dihapus,” ujar Yori.
Baca juga: Pengusaha Hashim Djojohadikusumo Jabat Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya
Menurutnya, bangunan-bangunan bersejarah seperti Toko Kompak mencerminkan wajah dari suatu era dan menjadi bagian dari lanskap budaya kota. Akan tetapi, akibat pembangunan yang masif dan kurang terencana, identitas visual dan historis kota makin terkikis.
Sebagai contoh, dia menyebut Pelabuhan Sunda Kelapa yang dulunya menjadi pusat aktivitas bahari kini makin terpinggirkan. Situs sejarah ini tertutup oleh pagar dan peti kemas, sehingga kehilangan daya tariknya sebagai destinasi sejarah.
“Banyak turis yang tertarik menuju ke sana karena memiliki nilai sejarah. Tapi begitu sampai pelabuhan, tidak ketahuan karena isinya pagar semua. Padahal kita bangsa bahari, dan kota tua juga tidak lepas dari hadirnya pelabuhan itu,” katanya.
Yori, yang telah berpengalaman memugar banyak bangunan bersejarah, menjelaskan bahwa ada dua pendekatan utama dalam pelestarian: restorasi dan revitalisasi. Restorasi mengembalikan bentuk asli bangunan, sementara revitalisasi memberi fungsi baru yang relevan bagi masyarakat masa kini.
Menurutnya, memberi fungsi baru pada bangunan justru bisa memperkuat peran sejarah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dia menekankan pentingnya menjadikan ruang-ruang bersejarah bukan hanya sebagai museum, tetapi ruang hidup dan inklusif yang bisa diakses masyarakat luas.
Baginya, merawat bangunan bersejarah bukan soal nostalgia semata, melainkan bagian dari merawat memori kolektif bangsa. Ketika sebuah kota mampu merawat akar sejarahnya, maka masyarakat sebenarnya juga sedang menyiapkan fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan.
“Saat ini saya juga sedang membuat master plan Rumah Sakit Cikini, di mana di sana juga ada bangunan bersejarah milik pelukis Raden Saleh. Nantinya ini akan dijadikan kawasan heritage dan taman yang menjadi wajah baru dari RS Cikini,” kata Yori.
Dalam kunjungan kerjanya ke Yogyakarta pada Maret 2025, Fadli bahkan mengungkap rencana revitalisasi Hotel Tugu. Dibangun pada 1881, hotel ini dinilai memiliki nilai sejarah yang kuat sekaligus lokasi strategis, sehingga bisa menjadi wajah kota dan gerbang budaya Yogyakarta.
“Hotel ini juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting, mulai dari lokasi rapat Indonesia dengan Komisi Tiga Negara (Australia, Belgia, Amerika Serikat) pasca-Agresi Militer Belanda II hingga Serangan Umum 1 Maret 1948,” ujarnya.
Saat ini, kondisi bangunan Hotel Tugu memang terbengkalai. Karena itu, pemerintah bersama keluarga pemilik menyepakati upaya revitalisasi berdasarkan amanat UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Fadli berharap, revitalisasi ini tidak sekadar menjaga keutuhan struktur fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsinya sebagai ruang publik yang produktif. Apalagi, Hotel Tugu merupakan bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta.
Lebuh kanjut dia mengungkap, setidaknya terdapat lebih dari 2.000 koleksi budaya di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X yang meliputi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di antaranya seperti Prambanan, Plaosan, dan Dieng, dengan 372 kegiatan pelestarian yang dilakukan sepanjang 2024.
Beberapa artefak penting yang disorot di antaranya Arca Narasimha dari abad ke-9 M, salah satu arca terbesar dari Dinasti Sanjaya yang menggambarkan inkarnasi Dewa Wisnu dalam bentuk singa-manusia. Ada pula Arca Wamana Triwikrama dari masa awal Kerajaan Mataram Hindu.
"Saat berdiskusi dengan BPK, kami juga membahas tantangan regenerasi SDM, khususnya juru pelihara dan juru pugar, serta pentingnya skema afirmatif dan sertifikasi kompetensi,” tambahnya.
Baca juga: Viral Chairlift di Candi Borobudur, Begini Aturan Penambahan Fasilitas di Situs Cagar Budaya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Arsitek Yori Antar mengatakan, Indonesia memiliki banyak bangunan bersejarah yang mendesak untuk segera direvitalisasi. Meski begitu dalam praktiknya, biaya sering kali menjadi hambatan utama untuk merestorasi atau memfungsikan kembali bangunan tersebut.
Di Jakarta, misalnya, Yori menyoroti sejumlah bangunan yang hingga kini masih terbengkalai. Salah satunya adalah Toko Kompak di Jalan Pasar Baru, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya lewat Kepgub No. 240 Tahun 2022. Sayangnya, bangunan yang dulunya merupakan kediaman Majoor der Chinezen ke-4 Batavia itu dibiarkan kosong dan rusak.
“Bentuk rumah Toko Kompak ini sangat lengkap tapi dalam kondisi menyedihkan. Harusnya spirit melestarikan sejarah itu jangan sampai membuat kita sebagai warga kota kehilangan akar sejarah kita sendiri. Karena semua sudah dihapus,” ujar Yori.
Baca juga: Pengusaha Hashim Djojohadikusumo Jabat Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya
Menurutnya, bangunan-bangunan bersejarah seperti Toko Kompak mencerminkan wajah dari suatu era dan menjadi bagian dari lanskap budaya kota. Akan tetapi, akibat pembangunan yang masif dan kurang terencana, identitas visual dan historis kota makin terkikis.
Sebagai contoh, dia menyebut Pelabuhan Sunda Kelapa yang dulunya menjadi pusat aktivitas bahari kini makin terpinggirkan. Situs sejarah ini tertutup oleh pagar dan peti kemas, sehingga kehilangan daya tariknya sebagai destinasi sejarah.
“Banyak turis yang tertarik menuju ke sana karena memiliki nilai sejarah. Tapi begitu sampai pelabuhan, tidak ketahuan karena isinya pagar semua. Padahal kita bangsa bahari, dan kota tua juga tidak lepas dari hadirnya pelabuhan itu,” katanya.

Suasana Pelabuhan Sunda Kelapa (sumber gambar: Hypeabis.id/ Himawan L Nugraha)
Menurutnya, memberi fungsi baru pada bangunan justru bisa memperkuat peran sejarah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dia menekankan pentingnya menjadikan ruang-ruang bersejarah bukan hanya sebagai museum, tetapi ruang hidup dan inklusif yang bisa diakses masyarakat luas.
Baginya, merawat bangunan bersejarah bukan soal nostalgia semata, melainkan bagian dari merawat memori kolektif bangsa. Ketika sebuah kota mampu merawat akar sejarahnya, maka masyarakat sebenarnya juga sedang menyiapkan fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan.
“Saat ini saya juga sedang membuat master plan Rumah Sakit Cikini, di mana di sana juga ada bangunan bersejarah milik pelukis Raden Saleh. Nantinya ini akan dijadikan kawasan heritage dan taman yang menjadi wajah baru dari RS Cikini,” kata Yori.
Upaya Pemerintah
Pemerintah dalam beberapa waktu terakhir juga terus menggencarkan sejumlah program revitalisasi bangunan bersejarah di berbagai daerah. Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, langkah ini adalah bentuk komitmen untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya agar memberi manfaat luas bagi masyarakat.Dalam kunjungan kerjanya ke Yogyakarta pada Maret 2025, Fadli bahkan mengungkap rencana revitalisasi Hotel Tugu. Dibangun pada 1881, hotel ini dinilai memiliki nilai sejarah yang kuat sekaligus lokasi strategis, sehingga bisa menjadi wajah kota dan gerbang budaya Yogyakarta.
“Hotel ini juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting, mulai dari lokasi rapat Indonesia dengan Komisi Tiga Negara (Australia, Belgia, Amerika Serikat) pasca-Agresi Militer Belanda II hingga Serangan Umum 1 Maret 1948,” ujarnya.
Saat ini, kondisi bangunan Hotel Tugu memang terbengkalai. Karena itu, pemerintah bersama keluarga pemilik menyepakati upaya revitalisasi berdasarkan amanat UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Fadli berharap, revitalisasi ini tidak sekadar menjaga keutuhan struktur fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsinya sebagai ruang publik yang produktif. Apalagi, Hotel Tugu merupakan bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta.
Lebuh kanjut dia mengungkap, setidaknya terdapat lebih dari 2.000 koleksi budaya di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X yang meliputi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di antaranya seperti Prambanan, Plaosan, dan Dieng, dengan 372 kegiatan pelestarian yang dilakukan sepanjang 2024.
Beberapa artefak penting yang disorot di antaranya Arca Narasimha dari abad ke-9 M, salah satu arca terbesar dari Dinasti Sanjaya yang menggambarkan inkarnasi Dewa Wisnu dalam bentuk singa-manusia. Ada pula Arca Wamana Triwikrama dari masa awal Kerajaan Mataram Hindu.
"Saat berdiskusi dengan BPK, kami juga membahas tantangan regenerasi SDM, khususnya juru pelihara dan juru pugar, serta pentingnya skema afirmatif dan sertifikasi kompetensi,” tambahnya.
Baca juga: Viral Chairlift di Candi Borobudur, Begini Aturan Penambahan Fasilitas di Situs Cagar Budaya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.