Ilustrasi buku (sumber gambar: Unsplash/Susan Q Yin)

Sulit Mengglobal, Sastra Indonesia Terkendala Penerjemahan dan Promosi

16 June 2025   |   15:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Indonesia memiliki kekayaan sastra baik di ranah tadisi dan kontemporer yang potensial untuk dikenalkan ke kancah global. Namun, minimnya penerjemah sastra dan agen promotor menjadi salah satu kendala utama sastra Indonesia untuk mendunia.

Padahal, penerjemahan ke berbagai bahasa asing sangat penting untuk melambungkan karya sastra Indonesia di peta dunia. Peran agen sastra pun diperlukan untuk mencari naskah-naskah potensial dan membangun jejaring internasional yang strategis.

Baca juga: Sempat 'Mati Suri', Balai Pustaka Siap Ramaikan Lagi Dunia Sastra Indonesia

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melalui program Laboratorium Penerjemah Sastra dan Laboratorium Promotor Sastra, ingin memperkuat ekosistem sastra di Tanah Air. Program ini diharapkan dapat melahirkan bibit-bibit penerjemah dan agen sastra yang dapat bersaing di tingkat dunia.

Menurut Fadli, dunia sastra dan industri perbukuan Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil di kancah global. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah belum optimalnya konektivitas antara ekosistem sastra dan perbukuan nasional dengan jejaring internasional.

"Ini merupakan salah satu tantangan yang harus segera kita jawab. Program ini sangat penting sebagai wadah bagi pemula, pelaku industri, termasuk editor dan pegiat literasi, untuk mempromosikan karya-karya kita di tingkat internasional," ujarnya dalam diskusi Sastra Mendunia: Peran Penerjemah dan Promotor dalam Internasionalisasi Sastra Indonesia, di Jakarta, belum lama ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Budaya.Maju (@pusbangfilm)



Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengatakan penguatan ekosistem sastra memang diperlukan. Terlebih, dunia sastra Indonesia kini ‘sangat hidup’ lewat munculnya penulis-penulis muda dengan karya yang tidak bisa diremehkan.

Selain itu, iklim kreatif ini juga berjalan beriringan dengan tumbuhnya industri perfilman. Dari sana, karya sastra juga diharapkan dapat diadaptasi ke medium lain seperti film, drama musikal, hingga pertunjukan teater, sebagai bentuk pemanfaatan yang lebih luas di dalam lanskap kebudayaan nasional.

“Walaupun belum mencakup semuanya, langkah ini menunjukkan semangat kita untuk menguatkan ekosistem sastra, yang sejatinya sudah punya sejarah panjang dan kuat di Indonesia," katanya.


Ujung Tombak 

Pendaftaran program Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra dibuka pada 26 Mei hingga 15 Juni 2025, untuk Penerjemah Sastra; dan 26 Mei hingga 16 Juni 2025, untuk Promotor Sastra. Program ini akan berlangsung pada Juli hingga September 2025, secara luring dan daring.

Manajer Program Laboratorium Penerjemah Sastra, Dhianita Kusuma Pertiwi, mengatakan peserta program akan mendapatkan materi dari mentor luar negeri. “Materinya bukan cuma soal teknis, tapi juga soft skill seperti komunikasi dan manajemen produktivitas,” katanya.

Menurut Dhianita, penerjemahan memang memungkinkan karya sastra melampaui batas negara dan budaya. Di Indonesia, sudah ada sejumlah inisiatif seperti yang dilakukan Yayasan Lontar dan Komite Buku Nasional. Namun, fokus pengembangan SDM dinilai sebagai aspek yang mendesak.

"Barangkali yang perlu ditekankan saat ini adalah penumbuhan talenta penerjemah muda untuk dilatih lebih lanjut," imbuhnya.
 


Sementara itu, Manajer Program Laboratorium Promotor Sastra, Yani Kurniawan, mengatakan profesi agen sastra masih sangat minim di Indonesia, bahkan bisa dihitung jari. Padahal, peran agen tak kalah penting dari penerjemah dalam memperkenalkan karya sastra ke luar negeri.

Novel Harry Potter karya J.K. Rowling, misalnya, tak akan bisa diterjemahkan ke lebih dari 80 bahasa tanpa peran agen sastra. “Agen sastra bertugas mempromosikan, mengedukasi, dan mencari naskah potensial. Peran mereka sangat krusial,” katanya.

Penulis Eka Kurniawan, yang novelnya telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa, mengatakan peluang sastra Indonesia untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris cukup besar. Namun, sasaran penerjemahan sebaiknya juga diperluas ke bahasa lain seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol.

“Buku terjemahan di Amerika dan Inggris itu hanya sekitar 3 persen dari total pasar. Sementara di Eropa bisa mencapai 40–50 persen, jadi ada peluang besar untuk mencari pangsa pasar di sana,” ujarnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Sony Siapkan Penerus PS5, PlayStation 6 Diperkirakan Rilis 2027

BERIKUTNYA

Kreator Muda Jadi Kunci Promosi UMKM dan Pariwisata Lokal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga