Sempat 'Mati Suri', Balai Pustaka Siap Ramaikan Lagi Dunia Sastra Indonesia
02 June 2025 |
14:47 WIB
Balai Pustaka merupakan penerbit tertua dan bersejarah di Indonesia. Penerbit milik negara yang berusia lebih dari satu abad ini telah merilis buku-buku sastra Indonesia klasik sejak era kolonial Belanda. Setelah sempat 'mati suri', Balai Pustaka kini siap meramaikan lagi dunia sastra Indonesia.
Baca juga: Rayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer, Puluhan Perupa Gelar Pameran di Balai Budaya Jakarta
Festival literasi Parade Masa yang digelar sejak awal Mei 2025 menjadi titik balik dari perjalanan Balai Pustaka. Setelah 'tidur' cukup lama, penerbit yang telah berdiri sejak 1917 itu akhirnya kembali membuka pintu mereka, dan mengajak publik untuk mengenal lebih dalam, khususnya terhadap buku-buku sastra Indonesia klasik yang pernah diterbitkannya.
Baca juga: Berburu Buku Bacaan Sastra Indonesia Klasik Terbitan Balai Pustaka di Parade Masa
Baca juga: Berburu Buku Bacaan Sastra Indonesia Klasik Terbitan Balai Pustaka di Parade Masa
Bukan sekadar acara, Parade Masa merupakan titik awal dari komitmen baru Balai Pustaka untuk kembali aktif dan berkontribusi pada perkembangan khazanah sastra Indonesia. Balai Pustaka akan hadir sebagai penerbit yang relevan dan mengikuti perkembangan zaman khususnya bagi anak muda.
General Manager Balai Pustaka Iqbal Bakhri Siagian mengatakan selama beberapa tahun terakhir, Balai Pustaka (BP) terkesan 'mati suri' lantaran lebih fokus pada pengembangan bisnis secara B2B, bukan menyasar konsumen individu secara langsung. Selama ini, Balai Pustaka lebih banyak mengerjakan proyek penerbitan buku dari perusahaan maupun instansi pemerintah.
Tak hanya penerbitan buku, Balai Pustaka juga menyediakan layanan jasa lain seperti percetakan, manajemen literasi, desain grafis, e-book, buku audio, termasuk bekerja sama dengan sejumlah rumah produksi untuk menggarap sinetron, film atau animasi yang biasanya mengangkat beberapa buku klasik terbitan BP.
"Jadi memang bisnis-bisnis yang saya rasa untuk keberlanjutannya itu masih belum menjanjikan. Mungkin dalam tiga, empat atau lima tahun menjanjikan ya. Cuma saya rasa enggak ada salahnya untuk kita kembali seperti Balai Pustaka zaman dulu, untuk mulai masuk ke ranah-ranah retail," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Gedung Balai Pustaka, Jakarta, baru-baru ini.
Setelah bertahun-tahun berjalan dengan model bisnis seperti itu, BP kini akan lebih menyasar konsumen individu secara langsung. Iqbal mengatakan BP kini tengah gencar menerbitkan ulang buku-buku sastra Indonesia klasik dengan sampul baru yang lebih kekinian.
Tak hanya menerbitkan ulang, mereka juga berencana untuk membuat sejumlah program aktivasi yang membuat publik khususnya generasi muda, bisa mengenal lebih mendalam karya-karya terbitan BP.
Salah satunya mengadakan roadshow ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan buku-buku sastra Indonesia klasik dengan konsep dan cara yang lebih menyenangkan, sehingga bisa relevan dengan mereka.
"Jadi saya mau ada gebrakan yang memang publik tau [bukunya] bukan cuma dijual, tapi tau pesannya apa. Dulu itu secara historis kenapa buku ini ada. Karena kan yang kita tau mungkin secara di permukaan Balai Pustaka dulu ada karena propaganda zaman Belanda dan segala macam. Nah mungkin publik atau generasi muda sekarang perlu tau itu sih," ungkapnya.
Tantangan Internal
Meski demikian, Iqbal juga menyampaikan bahwa dalam prosesnya, pihaknya masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyaknya arsip buku yang telah ada sejak zaman dulu menjadi tantangan tersendiri bagi internal untuk melakukan pendataang ulang. Hal itu dilakukan untuk mendata sekaligus mengklasifikasi karya-karya klasik bersejarah dari para penulis.
Selain itu, masih banyak juga buku-buku berbahasa Belanda yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Termasuk, sulitnya untuk tetap berkomunikasi dengan pihak ahli waris para penulis yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa diantaranya telah meninggal dunia.
"Misalnya kita enggak mungkin tiba-tiba bikin film tanpa izin sama ahli waris. Karena kan pemilik hak ciptanya mereka, kita hanya memegang hak cipta aja. Jadi tetap komunikasi dengan ahli waris maupun penulis itu penting," ucapnya.
Iqbal juga tidak memungkiri bahwa BP saat ini sudah ketinggalan langkah dengan penerbit-penerbit lain di Indonesia, yang konsisten menerbitkan karya-karya berkualitas hingga punya pembaca yang loyal. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tantangan untuk membiasakan diri pada model bisnis yang baru.
Baca juga: Rayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer, Puluhan Perupa Gelar Pameran di Balai Budaya Jakarta
Termasuk, tantangan dari segi anggaran. Dia mengungkap acapkali beberapa konsep roadmap dari sejumlah tim belum bisa terwujud lantaran keterbatasan anggaran, mulai dari bujet proses penerbitan, percetakan hingga promosi.
"Jadi saya rasa tantangan-tantangan itu yang perlu kita lewati tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Itu yang sekarang dari sisi manajerial lagi coba kami rancang," katanya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.