Menangkap Esensi Bumi dan Kehidupan Sehari-hari di Pameran Re-earth Generation
16 June 2025 |
06:35 WIB
Pameran seni Re-earth Generation yang digelar oleh Komunitas SAMBAL(Solidaritas Anak Muda Berbasis Akhlak dan Loyalitas) di 75 Gallery, Mampang, Jakarta Selatan, menampilkan berbagai karya lintas generasi dari bentuk lukisan sampai fotografi.
"Di sini pengunjung akan menemukan karya seni dari seniman termuda berusia 3 tahun sampai seniman tertua berusia 83 tahun, yang merupakan anggota komunitas kami," kata Korie Soenarko yang juga akrab disapa Oie, saat ditemui di 75 Gallery, Minggu (15/6/2025).
Deretan karya seni yang dipamerkan dikurasi dengan cermat oleh YH Suseno, seorang kurator seni rupa yang dikenal akan pendekatannya yang peka terhadap ekspresi kontemporer. Pameran ini menjadi refleksi visual tentang generasi masa kini yang mencoba menyambung kembali hubungan dengan alam, bumi, dan dirinya sendiri.
Baca juga: Pameran Re-Earth Generation, Seni Visual untuk Terhubung Kembali dengan Alam
Beberapa di antaranya termasuk karya dari Bambang Sudyanto, seorang pelukis senior dan Michelle Rezky seorang wanita muda yang karya fotografinya menangkap keindahan dari hal-hal sederhana dalam keseharian di kota metropolitan
Keduanya, meskipun berasal dari latar belakang dan generasi berbeda, memiliki kesamaan dalam pendekatan artistiknya. Mereka mengamati alam dan lingkungan sekitarnya dengan peka, lalu menuangkan pengamatan itu dalam bentuk visual yang penuh makna.
Bambang Sudyanto yang kini telah memasuki usia pensiun, justru makin aktif berkarya bersama Komunitas Sambal. Dalam pameran ini, dia menampilkan beberapa lukisan yang pada umumnya menggambarkan keindahan alam dan keterikatannya dengan manusia, serta makhluk hidup lainnya.
Beberapa karyanya berjudul, Hijaunya Desa Penglipuran Bali dan Tanah Lot Bali, yang menyajikan potret bangunan tradisional Bali dan masyarakat adat yang masih menjunjung tinggi tradisi.
Selain itu, terdapat sebuah lukisan berjudul Bebas Polusi yang menggambarkan sungai kecil di tengah hutan. Lanskap alam yang digambarkan tampak segar dan asri, merepresentasikan lingkungan yang bersih dan bebas dari pencemaran.
"Lukisannya semua memperlihatkan keindahan alam yang berdampingan dengan manusia dan spesies lainnya, dengan pendekatan ekspresionis," katanya.
Beda dari gaya lukisannya yang lain, karya berjudul The Struggle of Fisherman, tampak mencuri perhatian. Potret tersebut memperlihatkan kapal nelayan yang terombang-ambing di tengah badai. Karya ini dikerjakan dengan sapuan-sapuan tangan untuk menciptakan tekstur yang kuat dan emosional, menunjukkan kebebasan dan spontanitas dalam proses kreatifnya.
“Ini proses lebih cepat dari karya-karya lainnya, buatnya pun enggak pakai kuas tapi pakai tangan langsung,” ungkap Bambang,
Meski karya-karyanya tampak kompleks dan penuh perenungan, proses pengerjaannya relatif singkat rata-rata sekitar dua minggu per lukisan. Akan tetapi, makna yang terkandung di dalamnya mendalam dan relevan dengan tema besar pameran ini.
Di sisi lain ada, Michelle Michelle Rezky yang menemukan keindahan dari hal-hal kecil di lingkungan sekitarnya yang sering terlewat, melalui karya fotografinya. Potret-potret tersebut diberinya judul Unsaid by the Earth.
"Apa yang tidak bisa dikatakan oleh bumi, tapi diperlihatkan melalui bingkai-bingkai senyap, kami mengingatkan untuk melihat, merasakan, dan mengingat," berikut bunyi narasinya.
Inspirasi karyanya berangkat dari pengalaman liburannya ke tempat-tempat indah di berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia, di mana Michelle mencoba menangkap momen tersebut lewat lensanya. Meskipun tidak menggunakan peralatan profesional, foto-foto yang dia tampilkan memiliki kekuatan visual dan naratif yang kuat.
“Aku belum pernah pakai gear untuk memotret, ini pun hanya pakai iPhone,” ujarnya.
Karyanya berfokus pada hal-hal biasa yang sering kita jumpai, tetapi sering luput dari perhatian. Michelle menyebutnya sebagai bentuk capturing daily things, yakni menangkap momen-momen biasa yang ternyata memiliki nilai estetika dan emosional.
“Aku memotret sesuatu yang mungkin kelihatan orang-orang ordinary atau biasa saja dan sering ditemukan di keseharian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa banyak fotonya terlihat seperti diambil dari atas, padahal sebenarnya hanya ilusi perspektif dari sudut pengambilan yang unik. “Itu sebenarnya enggak ada yang dari atas, hanya persepsi aja dari bawah,” katanya.
Menurutnya, keindahan bisa muncul dari angle tertentu atau pendekatan yang tidak biasa. Dalam proses pengambilan gambarnya, dia melakukan semuanya secara mandiri, mengandalkan kepekaan terhadap momen dan cahaya.
Karya-karya Bambang dan Michelle mencerminkan kekayaan perspektif dalam memaknai bumi dan kehidupan. Dari lukisan ekspresionis yang menggugah hingga foto-foto yang menangkap keindahan keseharian, keduanya menjadi contoh nyata bahwa seni mampu menyatukan generasi dalam sebuah misi untuk peduli lingkungan.
Adapun, pameran Re-earth Generation berlangsung mulai Minggu 15 sampai 24 Juni 2025 di 75 Gallery, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis alias tidak dikenai biaya tiket masuk.
Baca juga: Nindityo Adipurnomo & Imam Cahyo Duet dalam Pameran Staging Desire di Salihara
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
"Di sini pengunjung akan menemukan karya seni dari seniman termuda berusia 3 tahun sampai seniman tertua berusia 83 tahun, yang merupakan anggota komunitas kami," kata Korie Soenarko yang juga akrab disapa Oie, saat ditemui di 75 Gallery, Minggu (15/6/2025).
Deretan karya seni yang dipamerkan dikurasi dengan cermat oleh YH Suseno, seorang kurator seni rupa yang dikenal akan pendekatannya yang peka terhadap ekspresi kontemporer. Pameran ini menjadi refleksi visual tentang generasi masa kini yang mencoba menyambung kembali hubungan dengan alam, bumi, dan dirinya sendiri.
Baca juga: Pameran Re-Earth Generation, Seni Visual untuk Terhubung Kembali dengan Alam
Beberapa di antaranya termasuk karya dari Bambang Sudyanto, seorang pelukis senior dan Michelle Rezky seorang wanita muda yang karya fotografinya menangkap keindahan dari hal-hal sederhana dalam keseharian di kota metropolitan
Keduanya, meskipun berasal dari latar belakang dan generasi berbeda, memiliki kesamaan dalam pendekatan artistiknya. Mereka mengamati alam dan lingkungan sekitarnya dengan peka, lalu menuangkan pengamatan itu dalam bentuk visual yang penuh makna.

Lukisan Bambang Sudyanto (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Beberapa karyanya berjudul, Hijaunya Desa Penglipuran Bali dan Tanah Lot Bali, yang menyajikan potret bangunan tradisional Bali dan masyarakat adat yang masih menjunjung tinggi tradisi.
Selain itu, terdapat sebuah lukisan berjudul Bebas Polusi yang menggambarkan sungai kecil di tengah hutan. Lanskap alam yang digambarkan tampak segar dan asri, merepresentasikan lingkungan yang bersih dan bebas dari pencemaran.
"Lukisannya semua memperlihatkan keindahan alam yang berdampingan dengan manusia dan spesies lainnya, dengan pendekatan ekspresionis," katanya.
Beda dari gaya lukisannya yang lain, karya berjudul The Struggle of Fisherman, tampak mencuri perhatian. Potret tersebut memperlihatkan kapal nelayan yang terombang-ambing di tengah badai. Karya ini dikerjakan dengan sapuan-sapuan tangan untuk menciptakan tekstur yang kuat dan emosional, menunjukkan kebebasan dan spontanitas dalam proses kreatifnya.
“Ini proses lebih cepat dari karya-karya lainnya, buatnya pun enggak pakai kuas tapi pakai tangan langsung,” ungkap Bambang,
Meski karya-karyanya tampak kompleks dan penuh perenungan, proses pengerjaannya relatif singkat rata-rata sekitar dua minggu per lukisan. Akan tetapi, makna yang terkandung di dalamnya mendalam dan relevan dengan tema besar pameran ini.

Michelle Rezky dan karya fotografinya (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
"Apa yang tidak bisa dikatakan oleh bumi, tapi diperlihatkan melalui bingkai-bingkai senyap, kami mengingatkan untuk melihat, merasakan, dan mengingat," berikut bunyi narasinya.
Inspirasi karyanya berangkat dari pengalaman liburannya ke tempat-tempat indah di berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia, di mana Michelle mencoba menangkap momen tersebut lewat lensanya. Meskipun tidak menggunakan peralatan profesional, foto-foto yang dia tampilkan memiliki kekuatan visual dan naratif yang kuat.
“Aku belum pernah pakai gear untuk memotret, ini pun hanya pakai iPhone,” ujarnya.
Karyanya berfokus pada hal-hal biasa yang sering kita jumpai, tetapi sering luput dari perhatian. Michelle menyebutnya sebagai bentuk capturing daily things, yakni menangkap momen-momen biasa yang ternyata memiliki nilai estetika dan emosional.
“Aku memotret sesuatu yang mungkin kelihatan orang-orang ordinary atau biasa saja dan sering ditemukan di keseharian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa banyak fotonya terlihat seperti diambil dari atas, padahal sebenarnya hanya ilusi perspektif dari sudut pengambilan yang unik. “Itu sebenarnya enggak ada yang dari atas, hanya persepsi aja dari bawah,” katanya.
Menurutnya, keindahan bisa muncul dari angle tertentu atau pendekatan yang tidak biasa. Dalam proses pengambilan gambarnya, dia melakukan semuanya secara mandiri, mengandalkan kepekaan terhadap momen dan cahaya.
Karya-karya Bambang dan Michelle mencerminkan kekayaan perspektif dalam memaknai bumi dan kehidupan. Dari lukisan ekspresionis yang menggugah hingga foto-foto yang menangkap keindahan keseharian, keduanya menjadi contoh nyata bahwa seni mampu menyatukan generasi dalam sebuah misi untuk peduli lingkungan.
Adapun, pameran Re-earth Generation berlangsung mulai Minggu 15 sampai 24 Juni 2025 di 75 Gallery, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis alias tidak dikenai biaya tiket masuk.
Baca juga: Nindityo Adipurnomo & Imam Cahyo Duet dalam Pameran Staging Desire di Salihara
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.