Wagub Rano Karno Ungkap Arah Pembentukan Jakarta Film Commission
15 June 2025 |
15:08 WIB
Wakil Gubernur Rano Karno akhirnya mengungkap arah dari rencana pembentukan Jakarta Film Commission (JFC), yang digadang-gadang akan menjadi komisi film pertama di Indonesia. Sebelumnya, rencana awal JFC telah diungkapnya saat menghadiri Festival Film Cannes 2025 di Prancis.
Gubernur yang karib disapa Bang Doel ini mengatakan JFC akan dirancang sebagai lembaga yang mendukung industri perfilman nasional. Fungsinya ialah menjadi hub besar berbagai stakeholder ekosistem perfilman.
Dengan demikian, harapannya proses perizinan, promosi potensi daerah sebagai lokasi syuting, perluasan kolaborasi internasional, hingga insentif pajak bisa lebih mudah untuk dieksekusi.
Baca juga: Berpartisipasi di Festival Film Cannes 2025, Jakarta Bersiap Jadi Kota Sinema
“Lembaga ini akan dikelola oleh profesional. Yang pasti juga bukan BUMD. Di semua kota yang memiliki commission, dia memang bukan pemerintah. Bahkan, bisa dibilang keikutsertaan negara kecil,” ungkap Rano Karno.
Rano berharap dengan makin bergairahnya film Indonesia, ekosistem di dalamnya juga dapat lebih terstruktur. Dengan demikian, kemajuan yang didapat bisa lebih berkelanjutan, bukan terjadi karena keberuntungan belaka.
Rano bercerita, ketika sedang menggarap film Si Doel, dia cukup kaget karena syuting di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, bisa lebih murah dibandingkan dengan syuting di Bandara Soekarno-Hatta.
Menurutnya, hal-hal semacam ini perlu mendapat sorotan. Sebab, perizinan lokasi dan pembiayaan juga jadi bagian yang terintegrasi dengan industri perfilman. Dia berharap hal-hal semacam ini tak terjadi lagi ke depan.
“Sekarang nih, kalau mau syuting di Kota Tua, mungkin murah. Tapi, keamanan yang mahal. Artinya, kalau memang kita siap menjadi tuan rumah, kita harus siapkan semua. Inilah kita bentuk Jakarta Film Commission,” imbuhnya.
Rano memang komisi film memang jadi salah satu lembaga yang penting jika suatu wilayah ingin serius mengembangkan industri sinema. Di banyak kota lain, komisi film ini sudah banyak berdiri dan memang terbukti berdampak.
Dirinya lantas mencontohkan Arab Saudi yang juga sangat serius terhadap konsep ini. Mereka membangun banyak pusat-pusat perfilman, seperti super studio. Tentu, tujuannya adalah untuk menarik produksi film global ke sana.
“Sekarang kan memang begitu. Di global, Hollywood bahkan, mereka syuting enggak selalu di Amerika Serikat. Itu pula yang kemarin membuat Presiden Donald Trump marah kan,” jelasnya.
Rano ingin Jakarta dan Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam menggaet investasi di industri film. Sebab, potensi lokasi syuting di dalam negeri sebenarnya sangatlah besar.
Menurutnya, setiap daerah punya latar yang unik untuk menjadi setting sebuah film. Dari suasana pedesaan, pegunungan, perkotaan, hingga gedung-gedung tua.
“Namun, mereka perlu commission. Jakarta akan menjadi hub untuk Indonesia,” tegasnya.
Rano menyebut Jakarta Film Commision merupakan bagian dari langkah besar menciptakan Jakarta Kota Sinema. Sebelumnya, untuk pertama kali, Jakarta juga melebarkan sayap ke kancah global dengan berpartisipasi di Marche du Film di Cannes.
Dirinya hadir langsung dan memimpin delegasi resmi Pemprov DKI Jakarta di Cannes. Baginya, film-film yang muncul di Cannes bukan sekadar pencapaian artistik, melainkan cermin bahwa karya-karya anak bangsa kian diakui secara global.
Dalam ajang tersebut, Pemprov DKI Jakarta turut menjadi penyelenggara forum strategis bertajuk International Co-production and Distribution Opportunity in Indonesia, bersama Jakarta Film Week dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Forum ini berperan sebagai wadah untuk menjajaki peluang kerja sama produksi internasional serta mempromosikan Indonesia sebagai lokasi produksi film yang potensial. Akhir tahun nanti, Jakarta juga akan kembali melanjutkan petualangannya dengan hadir di JAFF Market 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Gubernur yang karib disapa Bang Doel ini mengatakan JFC akan dirancang sebagai lembaga yang mendukung industri perfilman nasional. Fungsinya ialah menjadi hub besar berbagai stakeholder ekosistem perfilman.
Dengan demikian, harapannya proses perizinan, promosi potensi daerah sebagai lokasi syuting, perluasan kolaborasi internasional, hingga insentif pajak bisa lebih mudah untuk dieksekusi.
Baca juga: Berpartisipasi di Festival Film Cannes 2025, Jakarta Bersiap Jadi Kota Sinema
“Lembaga ini akan dikelola oleh profesional. Yang pasti juga bukan BUMD. Di semua kota yang memiliki commission, dia memang bukan pemerintah. Bahkan, bisa dibilang keikutsertaan negara kecil,” ungkap Rano Karno.
Rano berharap dengan makin bergairahnya film Indonesia, ekosistem di dalamnya juga dapat lebih terstruktur. Dengan demikian, kemajuan yang didapat bisa lebih berkelanjutan, bukan terjadi karena keberuntungan belaka.
Rano bercerita, ketika sedang menggarap film Si Doel, dia cukup kaget karena syuting di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, bisa lebih murah dibandingkan dengan syuting di Bandara Soekarno-Hatta.
Menurutnya, hal-hal semacam ini perlu mendapat sorotan. Sebab, perizinan lokasi dan pembiayaan juga jadi bagian yang terintegrasi dengan industri perfilman. Dia berharap hal-hal semacam ini tak terjadi lagi ke depan.
“Sekarang nih, kalau mau syuting di Kota Tua, mungkin murah. Tapi, keamanan yang mahal. Artinya, kalau memang kita siap menjadi tuan rumah, kita harus siapkan semua. Inilah kita bentuk Jakarta Film Commission,” imbuhnya.
Rano memang komisi film memang jadi salah satu lembaga yang penting jika suatu wilayah ingin serius mengembangkan industri sinema. Di banyak kota lain, komisi film ini sudah banyak berdiri dan memang terbukti berdampak.
Dirinya lantas mencontohkan Arab Saudi yang juga sangat serius terhadap konsep ini. Mereka membangun banyak pusat-pusat perfilman, seperti super studio. Tentu, tujuannya adalah untuk menarik produksi film global ke sana.
“Sekarang kan memang begitu. Di global, Hollywood bahkan, mereka syuting enggak selalu di Amerika Serikat. Itu pula yang kemarin membuat Presiden Donald Trump marah kan,” jelasnya.
Rano ingin Jakarta dan Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam menggaet investasi di industri film. Sebab, potensi lokasi syuting di dalam negeri sebenarnya sangatlah besar.
Menurutnya, setiap daerah punya latar yang unik untuk menjadi setting sebuah film. Dari suasana pedesaan, pegunungan, perkotaan, hingga gedung-gedung tua.
“Namun, mereka perlu commission. Jakarta akan menjadi hub untuk Indonesia,” tegasnya.
Rano menyebut Jakarta Film Commision merupakan bagian dari langkah besar menciptakan Jakarta Kota Sinema. Sebelumnya, untuk pertama kali, Jakarta juga melebarkan sayap ke kancah global dengan berpartisipasi di Marche du Film di Cannes.
Dirinya hadir langsung dan memimpin delegasi resmi Pemprov DKI Jakarta di Cannes. Baginya, film-film yang muncul di Cannes bukan sekadar pencapaian artistik, melainkan cermin bahwa karya-karya anak bangsa kian diakui secara global.
Dalam ajang tersebut, Pemprov DKI Jakarta turut menjadi penyelenggara forum strategis bertajuk International Co-production and Distribution Opportunity in Indonesia, bersama Jakarta Film Week dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Forum ini berperan sebagai wadah untuk menjajaki peluang kerja sama produksi internasional serta mempromosikan Indonesia sebagai lokasi produksi film yang potensial. Akhir tahun nanti, Jakarta juga akan kembali melanjutkan petualangannya dengan hadir di JAFF Market 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.