Candi Borobudur (Sumber foto: canva)

Mendorong Candi Jadi Simbol Budaya, Bukan Sekadar Objek Wisata

08 June 2025   |   16:57 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Di balik kesunyian dinding batu dan relief yang telah menua, sejumlah candi di Nusantara menyimpan lebih dari sekadar artefak sejarah. Mereka adalah penanda peradaban, jejak ketekunan manusia membangun sesuatu yang melampaui generasinya.

Namun, di tengah pusaran zaman yang serba cepat seperti budaya instan, pariwisata massal, dan perubahan iklim, eksistensi candi-candi tersebut kian terdesak. Alih-alih menjadi ruang refleksi kolektif, tak sedikit yang tergelincir menjadi sekadar latar foto atau obyek eksotik semata.

Baca juga: Viral Chairlift di Candi Borobudur, Begini Aturan Penambahan Fasilitas di Situs Cagar Budaya


Dari Layar Lebar hingga Lantai Festival
Upaya menghidupkan kembali makna candi dalam lanskap budaya modern mulai dilakukan, salah satunya lewat pendekatan budaya populer. Borobudur, misalnya, menjadi latar dalam film aksi Java Heat. Sementara itu, Prambanan muncul dalam film Beyond Skyline yang memadukan latar sejarah dengan narasi futuristik.


Tak hanya film, panggung-panggung musik turut meramaikan. Prambanan Jazz Festival menjadi contoh kolaborasi antara seni kontemporer dan warisan tradisi, menunjukkan bahwa candi bukan hanya situs diam, tetapi ruang hidup yang bisa berdialog dengan zaman.


Belajar dari Angkor Wat
Kamboja menawarkan contoh konkret lewat Angkor Wat. Situs ini tidak hanya dipromosikan sebagai destinasi wisata, tetapi dikembangkan sebagai pusat identitas nasional. Film Tomb Raider (2001) yang menampilkan reruntuhan Ta Prohm bahkan menjadi titik balik besar dalam citra Angkor di mata dunia.


Sejak saat itu, Angkor tak henti dirawat lewat festival, video musik, hingga diplomasi budaya. Hasilnya, sebelum pandemi, Angkor menarik lebih dari 2,2 juta wisatawan asing setiap tahun.


Candi Sebagai Identitas, Bukan Sekadar Tujuan Wisata
Narasi semacam itu belum terbentuk kuat di Indonesia. Borobudur dan Prambanan memang dikenal, tetapi kerap hanya sebagai obyek wisata, belum sebagai simbol budaya yang hadir di kurikulum, seni, media, atau industri kreatif secara konsisten. Candi-candi lain di luar Jawa bahkan nyaris tak terdengar. Sebut saja Muaro Jambi, Muara Takus, dan Bahal. peninggalan peradaban Melayu kuno yang berdiri dalam senyap, minim narasi dan promosi.


Di sekolah, nama-nama itu barangkali disebut, tetapi hanya sebagai data, bukan kisah yang menggugah imajinasi atau menumbuhkan kebanggaan.

Budaya Pop dan Konservasi Bermakna
Pengalaman negara-negara lain membuktikan bahwa budaya populer, bila dikelola serius, bisa menjadi alat konservasi sekaligus strategi branding nasional. Bagan di Myanmar, Ajanta dan Ellora di India, hingga Chichen Itza di Meksiko telah menjelma menjadi simbol kebudayaan dunia berkat kombinasi narasi kuat, promosi modern, dan pengelolaan berkelanjutan.

Maka, menghidupkan kembali candi berarti pula menghidupkan nilai-nilai yang dikandungnya, kesatuan manusia dan alam, ketekunan, dan visi lintas generasi.


Menuju Regenerasi Makna
Kini saatnya konservasi tidak lagi sekadar menjaga bentuk fisik, tetapi juga menyematkan makna baru dalam konteks kekinian. Butuh sinergi antara industri kreatif, teknologi digital, festival budaya, dan pendidikan publik.

Butuh keberanian untuk menempatkan candi bukan sebagai simbol masa lalu, melainkan fondasi masa depan. Sebab warisan sejati bukan yang ditinggalkan dalam batu, tetapi yang terus hidup dalam imajinasi dan laku generasi hari ini.

Baca juga: Wisata Candi Jadi Daya Pikat Untuk Mendatangkan Turis dari India

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Waspadai Efek Daging Berlebih, Ini Cara Jaga Tubuh Usai Iduladha

BERIKUTNYA

Slim Toast, Pilihan Sarapan Sehat yang Makin Diminati Generasi Muda

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga