Ilustrasi tiroid (Sumber gambar: Athena Sandrini/Pexels)

Begini Perbedaan Gejala dan Ciri-ciri Kasus Hipertiroid & Hipotiroid

01 June 2025   |   10:26 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Gangguan tiroid masih menjadi masalah kesehatan yang sering kali luput dari perhatian. Padahal, penyakit ini memiliki dampak serius jika tidak dideteksi dan ditangani secara tepat. Jika terlambat penanganan, gangguan tiroid bisa menyebabkan penyakit yang parah. 

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa gangguan tiroid kerap tidak terdeteksi dan berujung pada  komplikasi serius.

“Gangguan tiroid kerap tidak terdeteksi hingga menimbulkan dampak yang serius. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi langkah krusial untuk mencegah komplikasi dan memastikan penanganan yang tepat sejak dini,” ujarnya. 

Baca juga: Cek Pentingnya Deteksi Dini Tiroid pada Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir 

Untuk mendukung hal tersebut, Dante menyebut Kementerian Kesehatan bersama berbagai pihak telah mengupayakan perluasan akses layanan kesehatan primer, salah satunya melalui penyediaan alat pemeriksaan hormon TSH di berbagai Puskesmas di seluruh Indonesia.

Upaya ini merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor guna memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer agar dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan melakukan skrining gangguan tiroid secara lebih efektif.

Data epidemiologis dari Mercks menunjukkan bahwa gangguan tiroid memiliki prevalensi yang cukup tinggi di kawasan Asia Pasifik. Angkanya mencapai sekitar 11 persen populasi dewasa menderita hipotiroidisme, jauh di atas angka prevalensi global yang berkisar 2-4  persen.

Hal ini mengindikasikan perlunya edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat terkait pentingnya deteksi dini dan pengelolaan gangguan tiroid. Program edukasi dan skrining berkelanjutan harus menjadi prioritas untuk meminimalkan dampak buruk gangguan ini terhadap kualitas hidup masyarakat.

Sebagaimana diketahui, gangguan tiroid adalah kondisi yang terjadi ketika kelenjar tiroid yang terletak di bagian depan leher mengalami masalah dalam memproduksi hormon tiroid.

Fungsi kelenjar tiroid ini adalah memproduksi hormon yang mengatur metabolisme tubuh. Secara umum, gangguan tiroid terbagi menjadi hipotiroid atau produksi hormone tiroid yang terlalu sedikit, dan hipertiroid atau produksi hormon tiroid yang terlalu banyak.
 

Kasus Hipertiroid Lebih Umum Ditemukan 

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, RS Pondok Indah Puri Indah M. Ikhsan Mokoagow, jenis gangguan tiroid yang paling sering ditemukan adalah hipertiroid, bukan hipotiroid. 

“Hipertiroid jauh lebih banyak, prevalensinya lebih tinggi. Bukan hanya di Indonesia, memang prevalensinya umumnya lebih tinggi hipertiroid,” katanya.

Lebih jelasnya, hipertiroid adalah kondisi di mana kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan yang bisa mempercepat metabolisme tubuh. Gangguan tiroid diketahui lebih sering dialami oleh wanita dibandingkan pria. Hal ini berkaitan dengan faktor autoimun yang secara alami lebih banyak menyerang wanita, serta pengaruh hormonal.

“Autoimun sendiri juga lebih sering pada wanita. Selain itu, secara hormonal wanita juga berkaitan dengan kadar hormon tiroid dan sistem imun. Makanya, kita temukan autoimun lebih banyak pada perempuan,” tambah Ikhsan.

Selain itu, gangguan tiroid juga berhubungan erat dengan gangguan menstruasi, terutama pada wanita usia produktif antara 20 hingga 50 tahun. Pada kelompok usia ini, risiko hipertiroid dan munculnya nodul tiroid cukup tinggi, yang memerlukan perhatian serius.

Gejala hipertiroid biasanya lebih nyata dan mudah dikenali, seperti detak jantung yang berdebar-debar, penurunan berat badan meski nafsu makan tetap atau bahkan meningkat, berkeringat berlebihan, serta kesulitan tidur dan rasa gelisah.

Sementara itu, hipotiroid cenderung menunjukkan gejala yang lebih halus dan sering dianggap remeh, seperti mudah lelah, rasa dingin yang berlebihan, kulit kering, serta kenaikan berat badan.“Gejala hipotiroid ini sering dianggap bukan masalah serius, padahal sebenarnya membutuhkan penanganan,” tegas Ikhsan.

Salah satu mitos yang perlu diluruskan adalah tentang kenaikan berat badan setelah pengobatan hipertiroid. Banyak yang mengira kenaikan berat badan adalah efek samping obat. Padahal hal ini merupakan tanda keberhasilan pengobatan karena metabolisme tubuh kembali normal.

Sebaliknya, pada hipotiroid, kenaikan berat badan bisa dikendalikan dengan terapi hormon pengganti, “Berat badan naik itu konsekuensi keberhasilan pengobatan, bukan efek samping,” katanya.

Meskipun gangguan tiroid sulit dicegah sepenuhnya karena faktor genetik yang tidak dapat diubah, pola hidup sehat, asupan iodium yang cukup melalui garam beryodium, serta deteksi dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi yang lebih serius.

“Kalau sudah punya genetik, kita tidak bisa menghindari. Tapi kalau tidak, pola hidup sehat dan skrining rutin adalah kuncinya,” imbuhnya.

Sayangnya, pemeriksaan tiroid belum banyak mendapat perhatian di Indonesia. Padahal skrining sangat penting terutama untuk kelompok berisiko seperti wanita, mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan tiroid, wanita yang berencana hamil, serta pasien dengan penyakit autoimun.

Ketua dan pendiri Pita Tosca Astriani Dwi Aryaningtyas memberikan sudut pandang dari sisi pasien. Pita Tosca sendiri merupakan organisasi pendukung pasien tiroid terus menggalakkan edukasi dan advokasi untuk meningkatkan kesadaran serta akses terhadap layanan kesehatan yang tepat bagi pasien tiroid.

Dia menjelaskan, sebagai pejuang tiroid, memiliki gejala klinis dan faktor risiko gangguan tiroid itu dapat menurunkan kualitas hidup individu. “Gangguan tiroid tergolong penyakit tidak menular yang kadang memiliki gejala klinis tidak nampak atau invisible illness," katanya.

Bagi Astriani, kelenjar tiroid memang berukuran kecil, tetapi fungsinya besar dalam mengatur metabolisme tubuh. Astriani menambahkan sudah waktunya pemerintah dan banyak pihak pemerhati gangguan tiroid memiliki gerakan untuk mendukung adanya peningkatan kualitas hidup pejuang tiroid.

Baca juga: Kenali Yuk Bedanya 2 Penyakit Kelenjar Tiroid Ini

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Mercusuar Baru Wisata Bahari Nusantara

BERIKUTNYA

Inovasi Teknologi sampai Layanan Berkelanjutan Jadi Kunci Utama Kesehatan Ibu dan Anak

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga