Ilustrasi AI (Sumber gambar: Freepik/Rawpixel)

Mayoritas Masyarakat Indonesia Tak Masalah dengan Konten Digital Buatan AI 

31 May 2025   |   14:30 WIB

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sudah menjadi bagian sehari-hari masyarakat modern saat ini. Banyak alat dan platform teknologi tersebut telah digunakan untuk membantu aktivitas. Bahkan konten digital berbasis AI juga sudah banyak bertebaran dan jadi konsumsi publik. 

Hal ini tercermin dalam hasil survei terbaru berjudul Generative AI in Media: Consumer Sentiment Across Hong Kong, Indonesia and Singapore yang dikeluarkan oleh YouGov. Laporan itu menyatakan bahwa masyarakat Indonesia termasuk yang paling optimistis terhadap peran AI dalam kehidupan sehari-hari. 

Sebanyak 36 persen responden Indonesia menyatakan sikap positif terhadap meningkatnya peran kecerdasan buatan. Menariknya, angka ini lebih tinggi dari rata-rata 17 negara lain yang diikutsertakan dalam survei serupa secara global, yang hanya sebesar 24 persen. 

Meskipun begitu, sebesar 34 persen responden dalam negeri juga mengaku tetap berhati-hati terhadap peran teknologi mutakhir itu dalam kehidupan mereka. Angkanya pun lebih tinggi ketimbang dua negara yang disurvei, yakni Hong Kong sebesar 11 persen dan Singapura dengan 27 persen. Ini menunjukkan warganet tetap kritis dengan perkembangan AI yang masif. 

General Manager YouGov Indonesia, Edward Hutasoit, mengatakan bahwa survei tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia optimistis menyangkut teknologi AI dan penerapannya ke berbagai bidang. 

Baca juga: Fitur & Tools AI Baru yang Diumumkan di Google I/O 2025

Dia menambahkan, warga +62 juga termasuk paling nyaman dengan berbagai konten digital yang dihasilkan AI. Sebanyak 58 persen responden Indonesia tak masalah dengan gambar yang dibuat menggunakan tools terkait. Bahkan, sebanyak 56 persen responden juga mengaku nyaman dengan konten video berbasis AI. Persentase tersebut secara keseluruhan lebih tinggi ketimbang warga Singapura dan Hong Kong. 

Kenyamanan itu juga mencakup ke berbagai konten digital sehari-hari lainnya. Termasuk unggahan media sosial (54 persen), artikel atau blog (51 persen), email/newsletter (44 persen). Tak hanya itu, mayoritas warganet juga bersedia berinteraksi dengan influencer digital berbasis AI. 

Level keterbukaan tersebut didukung dengan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap berita buatan AI. 7 dari 10 orang Indonesia menyatakan mereka mempercayai berita yang dihasilkan AI sama atau bahkan lebih besar ketimbang berita buatan manusia. 

Kendati demikian, 77 persen responden menegaskan pentingnya transparansi. Utamanya dalam penyebutan atau pencantuman informasi secara jelas, jika konten tersebut dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan. 

Soal aturan mengenai kehadiran teknologi AI, 54 persen responden Ibu Pertiwi merasa regulasi saat ini sudah cukup, sementara sisanya menyebut perlunya pengawasan yang lebih ketat. Hal ini terkait dengan sejumlah kekhawatiran yang muncul menyoal pemanfaatan dan implementasinya. 

Sebab, hampir separuh konsumen dalam negeri mengkhawatirkan hilangnya sentuhan manusia dalam konten yang dibuat oleh AI. Selain itu, mereka juga khawatir soal privasi dan penggunaan data, serta adanya risiko misinformasi termasuk deepfake. 

“Seiring AI makin membentuk masa depan komunikasi digital, memahami perbedaan tingkat kenyamanan dan ekspektasi konsumen di setiap negara jadi kian penting. Di Indonesia, keseimbangan manfaat teknologi dan keterbukaan informasi akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik,” kata Edward. 

Baca juga: Kurikulum AI & Coding Segera Rampung, Jadi Mata Pelajaran Pilihan di Sekolah

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

SEBELUMNYA

Hari Tanpa Tembakau Sedunia Soroti Bahaya Rokok dan Vape

BERIKUTNYA

Daftar Harga Tiket Konser BLACKPINK Tur DEADLINE di Indonesia 1-2 November

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: