Kurikulum AI & Coding Segera Rampung, Jadi Mata Pelajaran Pilihan di Sekolah
09 May 2025 |
14:03 WIB
Kurikulum pembelajaran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan koding (coding) untuk sekolah dasar akan segera terbit dalam peraturan menteri. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. Meski demikian, mata pelajaran AI dan koding masih bersifat pilihan, bukan wajib.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengatakan bahwa naskah akademik untuk kurikulum AI dan koding saat ini sudah rampung disusun. Termasuk, sudah diatur juga terkait capaian pembelajaran dari dua mata pelajaran tersebut. Nantinya, pelaksanaan kurikulum AI dan coding akan tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Dasar dan Menengah.
"Sekarang sedang dalam proses untuk penerbitan peraturan menterinya. Jadi sekarang rancangan peraturan menteri tentang pembelajaran koding dan AI itu masih dalam proses harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan kementerian terkait yang lainnya," katanya saat ditemui awak media di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, baru-baru ini.
Mu'ti juga menegaskan bahwa mata pelajaran koding dan AI yang rencananya diterapkan pada tahun ajaran 2025/2025 masih bersifat pilihan, bukan mata pelajaran wajib bagi siswa. "Tapi saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa untuk tahun 2025-2026, AI dan koding ini masih menjadi mata pelajaran pilihan bukan mata pelajaran yang wajib," terangnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Sekjen PP Muhammadiyah itu menuturkan AI memiliki kelebihan yang bisa digunakan oleh guru untuk mendukung metode pembelajaran yang lebih kreatif dan menarik, sementara bagi siswa dapat mempercepat proses akses pembelajaran dibandingkan dengan metode konvensional.
Penerapan AI dan Coding
Kendati begitu, menurutnya, agar tetap mendukung upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa, penerapan mata pelajaran koding dan AI tetapharus dibarengi dengan cara-cara belajar organik, seperti membaca buku untuk melatih daya pikir dan kritis serta meningkatkan kemampuan literasi siswa.
"Dengan mendorong murid-murid untuk membaca buku-buku teks, baik teks yang tertulis maupun yang dengan sajian-sajian elektronik, atau bentuk-bentuk pembelajaran yang mengkontektualisasikan materi-materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari," jelasnya.
"Misalnya mengajarkan matematika dengan mengenalkan berbagai benda yang ada di sekitar murid, dan kemudian dijelaskan bagaimana hubungan benda-benda itu dengan ilmu-ilmu atau rumus-rumus dan teori di dalam matematika," imbuhnya.
Mu'ti menambahkan di samping kelebihannya untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah, teknologi AI juga memiliki kelemahan untuk digunakan dalam proses belajar di sekolah. Pertama, bisa jadi informasi yang diperoleh dari AI belum tentu benar, sehingga memang penggunaannya tetap perlu dipandu oleh para guru yang memahami materi pelajaran siswa.
"Kemudian yang kedua adalah bagaimana penggunaan AI dan gawai ini tetap disinkronkan dengan dorongan untuk mereka membaca, dorongan untuk mereka bisa melakukan aktivitas-aktivitas pembelajaran ang tidak sepenuhnya bergantung atau hanya menggunakan gawai dan AI itu sendiri," tambah dia.
Rencana memasukkan koding dan AI dalam kurikulum sekolah dasar mulai tahun ajaran 2025-2026 disampaikan oleh Mendikdasmen Abdul Mu'ti pada awal tahun ini. Program ini dibuat guna memberikan keterampilan penguasaan teknologi digital yang berkembang pesat, sehingga dapat memperkuat keterampilan kolaborasi, kreativitas, dan literasi digital.
Mu'ti menjelaskan memasukkan bidang coding dan AI ke dalam kurikulum pendidikan dasar merupakan bagian dari program digitalisasi pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Selain itu, kedua bidang itu dinilai sebagai keterampilan yang berkaitan dengan tuntutan dalam banyak hal menyangkut perkembangan dunia digital pada masa sekarang dan mendatang.
Tak hanya itu, coding dan AI juga dianggap dapat melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan dirinya, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Termasuk, bisa memberikan siswa bekal keterampilan yang bisa dikembangkan di luar dunia akademik ataupun di dunia kerja pada masa mendatang.
Dia juga menuturkan bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan internal kementerian, sudah banyak sekolah di Indonesia yang mengajarkan coding dan AI. Bahkan, kedua bidang itu sudah diajarkan sejak kelas 1 sekolah dasar (SD).
Berdasarkan pengamatan Kemendikdasmen, sejumlah sekolah saat ini mengajarkan coding dengan beberapa sistem, seperti pengajaran coding dalam sistem online atau internet based coding, lalu ada juga sistem coding tanpa internet yakni unplugged. Termasuk, mengembangkannya dengan cara seperti permainan-permainan, sesuai dengan prinsip-prinsip dalam coding.
"Sementara di kami itu kami rencanakan mulai kelas 4 SD secepat-cepatnya atau kelas 5 SD, yang skemanya bisa menjadi bagian dari mata pelajaran keterampilan atau mata pelajaran teknologi informatika [TI]. Sekali lagi, ini merupakan mata pelajaran pilihan, bukan mata pelajaran wajib," terang Mu'ti.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.