Rekomendasi 5 Agenda Pameran Seni Akhir Pekan 31 Mei-1 Juni 2025 di Jakarta
30 May 2025 |
22:30 WIB
Ada banyak pameran dan agenda seni yang digelar pada akhir pekan ini di Jakarta. Sejumlah seteleng ini tentu bisa menjadi tujuan destinasi wisata Genhype untuk menikmati waktu luang, seraya melihat karya seni dari sejumlah seniman dari Tanah Air dan luar negeri.
Pada akhir pekan tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2025, ini sejumlah galeri seni juga membuka ekshibisi yang dapat dinikmati publik baik secara gratis atau berbayar. Kalian tentu dapat mengunjunginya untuk menyegarkan pikiran dan menambah pengetahuan baru.
Dihimpun dari berbagai sumber resmi, berikut pameran yang dapat dikunjungi seraya menikmati momen akhir pekan di Jakarta bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Baca juga: 7 Acara Seru di Jakarta untuk Nikmati Long Weekend Pekan Ini
The Sea is Barely Wrinkled merupakan pameran tunggal dari seniman asal Jepang, Kei Imazu, yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Memadukan teknik tradisional dan teknologi digital, Imazu mengeksplorasi interaksi dinamis antara narasi sejarah dan visi terhadap masa depan.
Secara umum, pameran ini menelusuri 'peta waktu' yang menghubungkan masa lalu kolonial Indonesia, tantangan ekologi saat ini, dan mitologi lokal. Salah satunya hasil riset Kei Imazu terhadap Sunda Kelapa, dan tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1962, serta mitos Nyi Roro Kidul.
Ada juga pameran Pointing to the Synchronous Windows, yang menampilkan sejumlah karya seniman seperti Ed Ruscha, Affandi, Ay Tjoe Christine, Yayoi Kusama, hingga Lucio Fontana. Untuk menikmati pameran, kalian bisa membeli tiket masuknya mulai dari harga Rp70.000-Rp90.000/orang.
Secara umum, pameran ini mengeksplorasi tema ingatan dan transformasi lewat media arang dan pastel di atas kanvas, serta kertas. Iwan juga menggunakan teknik penghapusan dan penggambaran ulang untuk menciptakan lapisan-lapisan gambar yang mencerminkan proses mengingat dan melupakan.
Jika Genhype tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang karya-karya Iwan Effendi atau ingin mengunjungi pameran Once Was, kalian dapat mengunjungi Ara Contemporary di Jalan Tulodong Bawah I No. 16, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Merupakan pameran bersama dari 3 perupa Tanah Air, yakni seniman M.S Alwi, Kuncir Sathya Viku, dan Khadir Supartini. Pameran Subliminal Maya: In Flux and Forms of Being, berlangsung pada 29 Mei sampai 29 Juni 2025, di Ruci Art Gallery, Jakarta.
Secara umum, pameran ini mencoba menjelajahi batas antara sejarah, spiritualitas, dan imajinasi dalam berbagai perspektif karya, baik 2 atau 3 dimensi. Semuanya merefleksikan pergulatan identitas dan ingatan kolektif di tengah arus modernisasi yang semakin cair.
Tajuk Subliminal Maya merupakan petunjuk implisit pada realitas berlapis, di mana permukaan yang kasat mata, yakni karya seni fisik, mengisyaratkan kebenaran atau ilusi yang lebih dalam, yang seringkali tersembunyi, seolah bisikan dari alam bawah sadar.
Tema Vox Populi, Fox They adalah 'plesetan' dari adagium 'vox populi vox dei', yang berarti "suara rakyat adalah suara Tuhan". Gema adagium ini merupakan mantra suci demokrasi untuk menunjukkan bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di negara demokrasi.
Salah satu benang merah dari pameran ini, saat senarai karya dalam pameran ini yang mencoba menggambarkan kegagalan reformasi Indonesia. Sebab, setelah 27 tahun berjalan, 6 tuntutan dari gerakan tersebut seolah berjalan di tempat, atau justru kembali ke masa sebelumnya.
A Fold in Time merupakan pameran bersama yang dihelat oleh ISA Art Gallery dengan menghadirkan senarai karya dari para perupa perempuan kontemporer. Seteleng ini dimeriahkan oleh para perupa dari dalam dan luar negeri, yang berlangsung hingga 20 Juni 2025.
Dikuratori James Luigi Tana, pameran ini berkolaborasi dengan Galeri MONO8 (Manila) dan Richard Koh Fine Art (Singapura). Secara umum pameran ini menghadirkan kekuatan, kreativitas, dan keberagaman perempuan dalam seni kontemporer.
Lain dari itu, seteleng ini juga menjadi upaya untuk menjalin dialog antar seniman yang berpartisipasi. Salah satunya lewat ungkapan idiomatik "lipatan waktu" untuk dapat dipahami sebagai momen penting dalam merefleksikan karya yang dihadirkan.
Baca juga: Cek Lineup & Jadwal Lengkap BNI Java Jazz Festival 2025 Day 1
Pada akhir pekan tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2025, ini sejumlah galeri seni juga membuka ekshibisi yang dapat dinikmati publik baik secara gratis atau berbayar. Kalian tentu dapat mengunjunginya untuk menyegarkan pikiran dan menambah pengetahuan baru.
Dihimpun dari berbagai sumber resmi, berikut pameran yang dapat dikunjungi seraya menikmati momen akhir pekan di Jakarta bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Baca juga: 7 Acara Seru di Jakarta untuk Nikmati Long Weekend Pekan Ini
1. The Sea is Barely Wrinkled, Museum MACAN
The Sea is Barely Wrinkled merupakan pameran tunggal dari seniman asal Jepang, Kei Imazu, yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Memadukan teknik tradisional dan teknologi digital, Imazu mengeksplorasi interaksi dinamis antara narasi sejarah dan visi terhadap masa depan.
Secara umum, pameran ini menelusuri 'peta waktu' yang menghubungkan masa lalu kolonial Indonesia, tantangan ekologi saat ini, dan mitologi lokal. Salah satunya hasil riset Kei Imazu terhadap Sunda Kelapa, dan tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1962, serta mitos Nyi Roro Kidul.
Ada juga pameran Pointing to the Synchronous Windows, yang menampilkan sejumlah karya seniman seperti Ed Ruscha, Affandi, Ay Tjoe Christine, Yayoi Kusama, hingga Lucio Fontana. Untuk menikmati pameran, kalian bisa membeli tiket masuknya mulai dari harga Rp70.000-Rp90.000/orang.
2. Once Was, Ara Contemporary
Pameran Once Was, melanjutkan praktik seni Iwan, yang berlatar belakang sebagai dalang teater boneka. Uniknya, dalam pameran ini dia menggabungkan prinsip-prinsip inti dan resonansi emosional dari seni boneka, yang selama ini jarang disadari publik.Secara umum, pameran ini mengeksplorasi tema ingatan dan transformasi lewat media arang dan pastel di atas kanvas, serta kertas. Iwan juga menggunakan teknik penghapusan dan penggambaran ulang untuk menciptakan lapisan-lapisan gambar yang mencerminkan proses mengingat dan melupakan.
Jika Genhype tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang karya-karya Iwan Effendi atau ingin mengunjungi pameran Once Was, kalian dapat mengunjungi Ara Contemporary di Jalan Tulodong Bawah I No. 16, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
3. Subliminal Maya: In Flux and Forms of Being, Ruci Art Gallery
Merupakan pameran bersama dari 3 perupa Tanah Air, yakni seniman M.S Alwi, Kuncir Sathya Viku, dan Khadir Supartini. Pameran Subliminal Maya: In Flux and Forms of Being, berlangsung pada 29 Mei sampai 29 Juni 2025, di Ruci Art Gallery, Jakarta.
Secara umum, pameran ini mencoba menjelajahi batas antara sejarah, spiritualitas, dan imajinasi dalam berbagai perspektif karya, baik 2 atau 3 dimensi. Semuanya merefleksikan pergulatan identitas dan ingatan kolektif di tengah arus modernisasi yang semakin cair.
Tajuk Subliminal Maya merupakan petunjuk implisit pada realitas berlapis, di mana permukaan yang kasat mata, yakni karya seni fisik, mengisyaratkan kebenaran atau ilusi yang lebih dalam, yang seringkali tersembunyi, seolah bisikan dari alam bawah sadar.
4. Vox Populi, Fox They, mataWaktu
Merupakan pameran grafis hasil kolaborasi antara FSRD Universitas Tarumanagara, Grafisosial dan Yayasan Riset Visual mataWaktu untuk merespon kondisi Indonesia termutakhir. Pameran ini menampilkan 26 poster grafis, 1 foto, 1 puisi, dan 1 mural uang dipacak pada tembok mini Tabir MataWaktu.Tema Vox Populi, Fox They adalah 'plesetan' dari adagium 'vox populi vox dei', yang berarti "suara rakyat adalah suara Tuhan". Gema adagium ini merupakan mantra suci demokrasi untuk menunjukkan bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di negara demokrasi.
Salah satu benang merah dari pameran ini, saat senarai karya dalam pameran ini yang mencoba menggambarkan kegagalan reformasi Indonesia. Sebab, setelah 27 tahun berjalan, 6 tuntutan dari gerakan tersebut seolah berjalan di tempat, atau justru kembali ke masa sebelumnya.
5. A Fold in Time, ISA Art Gallery
A Fold in Time merupakan pameran bersama yang dihelat oleh ISA Art Gallery dengan menghadirkan senarai karya dari para perupa perempuan kontemporer. Seteleng ini dimeriahkan oleh para perupa dari dalam dan luar negeri, yang berlangsung hingga 20 Juni 2025.
Dikuratori James Luigi Tana, pameran ini berkolaborasi dengan Galeri MONO8 (Manila) dan Richard Koh Fine Art (Singapura). Secara umum pameran ini menghadirkan kekuatan, kreativitas, dan keberagaman perempuan dalam seni kontemporer.
Lain dari itu, seteleng ini juga menjadi upaya untuk menjalin dialog antar seniman yang berpartisipasi. Salah satunya lewat ungkapan idiomatik "lipatan waktu" untuk dapat dipahami sebagai momen penting dalam merefleksikan karya yang dihadirkan.
Baca juga: Cek Lineup & Jadwal Lengkap BNI Java Jazz Festival 2025 Day 1
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.