Charis Baitanu, Ketua Perkumpulan Bakti Tunas Negeri (BTN) Labuan Bajo memberikan pemaparan singkat tentang program komunitas asuhannya di hadap jajaran direksi ADSP Ferry Indonesia dan awak media di Labuan Bajo, Sabtu (22/5/2025). (Foto: dok. ASDP)

Menyemai Asa di Dasar Laut Waecicu Labuan Bajo

02 June 2025   |   17:00 WIB
Image
Fajar Sidik Hypeabis.id

Suhu di sekitar Pantai Waecicu, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 24 Mei 2025 menjelang sore itu masih terasa terik. Namun, kanvas raksasa yang terpantul memesona di permukaan laut yang tenang, justru mampu menghadirkan panorama yang sejuk dan menenangkan. 

Pulau-pulau kecil di kejauhan menambah suasana makin eksotis. Di tengah keindahan senja itu, kesibukan terlihat di area balkon Plataran Komodo. Di sanalah Charis Baitanu, Ketua Perkumpulan Bakti Tunas Negeri (BTN) Labuan Bajo, bersama para pegiat komunitasnya terlihat sibuk bersiap-siap. 

Di atas meja-meja yang diletakkan menghadap laut, sejumlah kerangka besi berbentuk jaring laba-laba, atau yang disebutnya sebagai spiderweb, tertata rapi. Ini adalah media tanam terumbu karang yang akan menjadi sarana pengembangbiakan bibit-bibit biota laut tersebut. 

Jari-jemarinya memeriksa satu per satu kerangka tersebut dengan telaten, memastikan semuanya dalam kondisi rapi. Raut wajahnya pun memancarkan ekspresi harapan yang begitu besar akan terjaganya ekosistem bawah laut di kampung halamannya itu. 

Baca juga: Cek 4 Alasan Mengapa Labuan Bajo Wajib Jadi Tujuan Destinasi saat Melancong

Dukungan sekecil apapun untuk gerakan penyelamatan terumbu karang di Labuan Bajo ini adalah bahan bakar semangatnya. "Dukungan ini sangat berarti bagi kami," ujarnya saat penanaman terumbu karang bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) di kawasan Pantai Waecicu, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Baginya, semakin banyak pihak yang tergerak untuk berpartisipasi menjaga alam bawah laut Labuan Bajo, akan menjadi energi penyemangat bagi komunitasnya untuk terus bergerak dalam merehabilitasi ekosistem laut yang terus mereka perjuangkan.

Suasana semakin hidup dengan adanya seremoni kecil dan sambutan para pihak yang mendukung aksi komunitasnya itu. Charis pun aktif memandu partisipan yang hadir untuk mengikatkan bibit-bibit terumbu karang jenis Acropora pada media tanam spiderweb yang telah disiapkan. 

Suaranya yang tenang dan jelas memberikan instruksi. Jemarinya dengan telaten menunjukkan cara mengikat yang benar agar bibit karang tidak terlepas, tapi juga tidak rusak. Tentu saja, proses merangkai bibit Acropora itu butuh ketelitian. Setiap fragmen karang yang terikat sangat berarti bagi rehabilitasi alam bawah laut Labuan Bajo yang telah banyak dilirik turis dari berbagai penjuru dunia.

Dalam kata sambutan singkatnya, dia menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya mungkin terlihat kecil. Namun, dengan optimisme bahwa setiap bibit karang yang ditanam adalah investasi besar bagi masa depan ekosistem laut di Labuan Bajo. 

Charis bersama komunitasnya yang fokus pada pelestarian lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat pesisir, telah lama aktif dalam melakukan aksi pelestiran lingkungan pesisir, mulai dari membersihkan sampah, hingga penanaman terumbu karang.

“Kami menggandeng berbagai kalangan untuk turut berpartisipasi dalam gerakan rehabilitasi terumbu karang di Labuan Bajo. Kami pun melakukannya secara menyeluruh, mulai dari menanam, melakukan kontrol setiap 3-6 bulan untuk melihat proses perkembangannya, hingga membuat laporan hasil kegiatannya,” katanya.

Turut menimpali, Andi Kevin, penggerak komunitasnya di lapangan melihat bahwa ekosistem bawah laut merupakan warisan penting yang harus dijaga kelestariannya, termasuk terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan dan berbagai biota laut lainnya. 

Hingga saat ini, 300 lebih unit spiderweb terumbu karang telah ditebar di sejumlah titik dasar laut Labuan Bajo dengan menggandeng berbagai pihak. Metode spiderweb, berupa besi yang dirangkai seperti jaring laba-laba sebagai media tanam bibit terumbu karang itu disebut memiliki sejumlah kelebihan.

"Spiderweb adalah media yang terbuat dari besi yang dibentuk jaring laba-laba, kemudian ditempelkan pasir, resin, dan katalis untuk perekatnya. Lalu, potongan bibit terumbu karang diikat pada bagian jaring besi tersebut," jelas Kevin.

Pada awalnya, komunitas BTN melakukan kajian dasar untuk melihat kedalaman dan arusnya, serta jenis ikan apa saja yang hidup di sekitarnya. Penanaman terumbu karang juga harus dipastikan posisinya, dan terus dievaluasi perkembangannya.

Sebelum menemukan sistem jaring laba-laba, pihaknya pernah mengujicobakan penanaman terumbu karang dengan cara rock pile, yakni metode restorasi terumbu karang yang menggunakan tumpukan batuan sebagai media untuk menempelkan potongan karang yang akan ditransplantasikan. “Penanaman lewat rock pile itu harus angkut batu dari gunung, kurang efisien," katanya.

Setelah beberapa kali uji coba, menurutnya, pertumbuhan paling bagus adalah dengan cara spiderweb karena didukung pola arus cukup kencang yang turut membawa sedimen dasar laut. "Jadi saat terjadi upwelling, pengiriman plankton dari arus dasar itu akan merangsang pertumbuhan yang lebih cepat,” jelasnya.

“Penanaman terumbu karang ini sama pentingnya seperti mangrove. Jadi kami mengajak semua pihak untuk memberikan perhatian. Mudah-mudahan ke depan bisa dikembangkan lagi. Manfaatnya, bukan hanya untuk pelestarian ekosistem laut, tapi juga menambah daya tarik wisata,” tegas Kevin.

Kegelisahan komunitas pesisir Labuan Bajo ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, lebih dari 84 persen terumbu karang di dunia saat ini mengalami stres parah akibat peningkatan suhu panas laut yang mencetak rekor sejak awal 2023.

Terumbu karang, yang sering dijuluki sebagai ‘hutan hujan lautan’, menghadapi ancaman serius. Laporan terbaru dari International Coral Reef Initiative (ICRI) dan NOAA’s Coral Reef Watch, menunjukkan bahwa peningkatan suhu laut telah memicu peristiwa pemutihan karang secara besar-besaran. 

Sebagai informasi, ICRI adalah kemitraan global yang berupaya melestarikan terumbu karang dan ekosistem terkaitnya. Sedangkan NOAA’s Coral Reef Watch merupakan program yang dirancang untuk memprediksi, mengamati, dan memperingatkan komunitas di dunia tentang ancaman terhadap terumbu karang.

Sejak Januari 2023 hingga Maret 2025, tercatat 84 persen terumbu karang di 82 negara telah terdampak pemutihan akibat peningkatan suhu laut yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini menandai adanya percepatan krisis iklim yang mengancam ekosistem laut.

Pada 2024, rekor suhu terpanas global mencapai 1,5 derajat Celcius di atas rata-rata pra-industri, yang berdampak langsung pada penghangatan laut dan memicu pemutihan karang yang meluas. 

Wilayah-wilayah yang terdampak parah meliputi Florida, Karibia, Brasil, Meksiko, Australia, Laut Merah, hingga cekungan Samudra Hindia, termasuk Indonesia. Diproyeksikan bahwa terumbu karang di Indonesia dapat mengalami pemutihan yang lebih luas pada 2044 jika tidak ada tindakan signifikan.

Padahal, terumbu karang memainkan peran krusial dalam kelestarian ekosistem bawah laut. Meskipun hanya menutupi sekitar 1 persen dasar laut di bumi, terumbu karang menjadi rumah bagi sekitar 25 persen dari seluruh biota laut. 

Terumbu karang menyediakan tempat berlindung, berkembang biak, dan mencari makan bagi ribuan spesies ikan, moluska, dan organisme laut lainnya.

Baca juga: Cek Harga Sewa Kapal Pinisi dan Fasilitas Mewahnya Untuk Berlayar di Labuan Bajo

 

Jajaran direksi dan komisaris ASDP Ferry Indonesia dipandu merangkai bibit terumbu karang pada spiderweb. (foto: dok. ASDP)

Jajaran direksi dan komisaris ASDP Ferry Indonesia dipandu merangkai bibit terumbu karang pada spiderweb. (foto: dok. ASDP)


Gayung Bersambut 

Bak gayung bersambut. gerakan komunitas pesisir Labuan Bajo itu pun mendapatkan banyak dukungan dunia usaha. ASDP Indonesia Ferry misalnya, kembali memberikan bantuan 30 unit media tanam terumbu karang melalui Perkumpulan BTN untuk dilepas di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Pada kesempatan itu, Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo menyampaikan bahwa saat ini semua pihak masih bisa melihat dan menikmati ‘serpihan surga’ dari Tuhan yang terhampar di pesisir Labuan Rajo.

“Ini adalah salah satu ciptaan mahakarya Tuhan yang harus kita syukuri dan jaga. Di satu sisi bahwa ASDP merupakan komunitas perairan, bukan hanya di sungai dan danau, tapi juga ada lingkungan lautnya. Tentu ASDP juga harus bertanggung jawab atas keberlangsungan ekosistem yang ada di laut,” ungkapnya di hadapan penggerak komunitas BTN dan awak media.

Heru melihat bahwa Labuan Rajo menjadi daya tarik para wisatawan, bukan hanya karena komodonya, tetapi salah satu magnet utamanya adalah ekosistem bawah lautnya seperti terumbu karang, rumah bagi berbagai macam fauna dan aneka biota laut.

“Tentunya ini harus kita jaga, dan ASDP berkomitmen turut memelihara ekosistem laut melalui program TJSL, yaitu pemberian bantuan penanaman terumbu karang melalui Perkumpulan Bakti Tunas Negeri. Kegiatan itu menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjalankan bisnis berkelanjutan,” tuturnya.

Heru berharap komunitas BTN dapat membantu untuk melestarikan dan merawat bibit terumbu karang, bukan hanya menanamnya. Kadang-kadang merawat itu agak sulit.

“Sebagai BUMN yang beroperasi di sektor transportasi penyeberangan, ASDP tidak hanya fokus pada aspek ekonomi dan layanan publik, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga keseimbangan alam, terutama di wilayah pesisir yang menjadi titik vital operasional kami,” ujarnya.

Baca juga: Trafik Arus Balik Lebaran 2025 Meningkat Signifikan, ASDP Optimalkan Layanan

Terumbu karang mendapat perhatian lantaran memegang peranan penting sebagai rumah bagi ribuan spesies laut, penyangga ekosistem dasar laut, dan penyedia sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir. Untuk itu, pemulihan ekosistem bawah laut harus menjadi agenda bersama secara berkelanjutan dengan melibatkan perusahaan, komunitas, dan masyarakat.

Menurutnya, Labuan Bajo, sebagai salah satu gerbang wisata bahari kelas dunia, memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa besarnya. Namun, tekanan pariwisata dan aktivitas manusia telah berdampak pada ekosistem laut.

"Dengan bantuan media tanam ini, ASDP berharap dapat mempercepat proses rehabilitasi terumbu karang sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya konservasi laut, sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), di antaranya tentang Penanganan Perubahan Iklim dan Ekosistem Lautan.”

Melalui inisiatif itu, ASDP berupaya mendorong kesadaran kolektif bahwa menjaga laut bukan semata-mata tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tapi tanggung jawab bersama. "Apa yang kita lakukan hari ini mungkin kecil, tapi jika terus dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak, dampaknya akan luar biasa,” tegas Heru.

ASDP optimistis bahwa kolaborasi dengan komunitas lingkungan seperti Bakti Tunas Negeri dapat menjadi model sinergi yang berdampak. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk terus memperluas kontribusinya dalam mendukung kelestarian lingkungan di berbagai wilayah operasional, termasuk wilayah-wilayah terpencil di Nusantara.

“Kami juga mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan komitmennya yang selama ini telah menjaga, merawat, kemudian mengembangkan terumbu karang kita. Sehingga ekosistem di bawah laut Labuan Bajo menjadi terjaga.“

Baca juga: Kurangi Sampah Plastik di Lautan, ASDP Letakkan Mesin ini di Berbagai Pelabuhan

Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin menambahkan bahwa program penanaman terumbu karang bersama Bakti Tunas Negeri telah dilaksanakan sejak 2022. Harapannya, menurut Shelvy, terumbu karang ini nantinya akan berkembang biak secara sempurna sehingga bisa memberikan dukungan yang lebih baik untuk alam bawah lautnya, dan juga turut menambah daya tarik pariwisatanya.

“Kami telah menanam 80 unit bibit terumbu karang spiderweb di Pantai Waecicu. Kenapa sih kami memilih program ini? Jadi ini adalah merupakan program Community Development TJSL yang sesuai dengan arahan pemegang saham ASDP, di mana fokusnya pada tiga sektor, yakni lingkungan, pendidikan, dan wirausaha,” sebutnya.

Sebelumnya, ASDP juga berkontribusi dalam penanaman mangrove sebanyak 5.000 pohon di Tangerang dan Lombok Timur. Program itu disebut berkontribusi pada penyerapan emisi karbon sebesar 1.116 ton karbon dioksida ekuivalen, serta membantu pemulihan ekosistem pesisir sebagai habitat alami berbagai jenis flora dan fauna. Semua itu, sebagai wujud nyata kontribusi ASDP untuk lingkungan dan masyarakat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Pusat Data Microsoft Hadir di Indonesia, Dorong Talenta Digital dan Inovasi Lokal

BERIKUTNYA

Teknologi AI & Digital Jadi Jurus Jitu Bantu Kurangi Beban Layanan Penyakit Kardiovaskular

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga