Pemberdayaan Barista dengan Kebutuhan Khusus ala Treestori Coffee
27 May 2025 |
20:41 WIB
Jumlah penderita autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) di Indonesia masih tinggi dan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data terbaru, jumlah penderita autisme mencapai 2,4 juta pada 2024, meningkat cukup signifikan dari 2020 yang hanya sekitar 1,2 juta.
Tantangan utama bagi penyandang autisme ini bukan hanya mengenai terapi dan pendidikan tetapi juga akses terhadap pekerjaan yang layak terutama setelah memasuki usia produktif.
Memang, sudah cukup banyak perusahaan atau pelaku usaha yang memberdayakan kelompok disabilitas fisik, tetapi masih sedikit ruang yang benar-benar inklusif bagi penyandang disabilitas intelektual seperti autisme untuk bisa berkembang di dunia kerja. Banyak perusahaan yang belum siap, baik dari sisi infrastruktur maupun mindset, dalam menerima pekerja dari kelompok ini.
Keresahan ini pula yang dirasakan oleh Christiana Henrietta terhadap masa depan adiknya, Jean, yang merupakan penyandang tunagrahita. Setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, Christina merasa jalan Jane terasa buntu. “Dimasukkan kuliah enggak mungkin. Keterampilan juga buat apa kalau tidak diberdayakan? Kami ingin dia bisa mandiri,” ujar Christina.
Baca juga: Mengupayakan Dunia Kerja yang Lebih Inklusif, Autisme Tak Jadi Hambatan
Dari obrolan santai bersama teman-temanya, dia pun memutuskan membangun bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga bermakna sosial.
Berkat kecintaan bersama terhadap kopi, Christina bersama kedua temannya Thao Ziang dan Adriana Affanda Timur memutuskan untuk mendirikan Treestori Coffee, gerai kopi yang lebih dari 80 persen pekerjanya adalah penyandang disabilitas. Kini, mereka memberdayakan lebih dari 40 anak dengan berbagai kebutuhan khusus mulai dari autisme, down syndrome, ADHD, hingga tunagrahita.
Akan tetapi, membimbing mereka bukan perkara mudah. “Tantangan utamanya bukan hanya mengajarkan mereka, tapi juga mengedukasi masyarakat,” jelas Thao Ziang.
Sebab, banyak masyarakat yang masih menganggap disabilitas hanya dengan keterbatasan fisik. Padahal, mayoritas yang bekerja di Treestori mengalami disabilitas intelektual yang secara fisik tampak “normal,” tapi membutuhkan pendekatan khusus dalam pelatihan.
“Anak-anak ini butuh waktu lebih lama, jadi kami beri pengertian sejak awal ke pelanggan,” katanya. Karena itulah, edukasi menjadi bagian dari pelayanan. Namun Treestori tidak ingin dipandang sebagai “tempat kasihan".
Mereka membuktikan bahwa bisnis bisa berjalan beriringan dengan misi sosial asal dikelola secara profesional. Mereka menyiapkan pelatihan, SOP, hingga modul pembelajaran bagi anak-anak agar dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan ritme dan kemampuan mereka.
Untuk melatih para pekerja autism tersebut, Treestori Coffee menggandeng seorang head trainer sekaligus advisor kopi yang berfokus pada anak-anak disabilitas Frans Satriawan.
Diakui olehnya bahwa dalam mendidik anak-anak yang memiliki kekhususan ini, tantangannya cukup berlapis mulai dari kemampuan motorik, komunikasi, kognitif, hingga keterampilan sosial.
Menurut Frans, setiap anak dengan autisme memiliki spektrum yang berbeda, ada yang memiliki tantangan komunikasi, keterbatasan motorik, hingga kesulitan dalam berinteraksi sosial. Akan tetapi, bukan berarti mereka tidak bisa bekerja. Justru dibalik semua kekurangannya, terdapat kelebihan yang tidak dimiliki semua orang, terutama dalam hal presisi dan konsistensi.
"Anak-anak ini sangat fokus dan tidak bosan mengerjakan hal yang berulang. Mereka juga jujur, dan ngga neko-neko. Kalau sudah hafal, mereka bisa takar kopi sampai ke desimalnya dengan tepat. Mereka juga punya semangat tinggi, nggak gampang capek,” ujarnya.
Dalam pelatihan barista Treestori Coffee, setiap anak dikenalkan berbagai tahapan kerja di coffee shop. Mulai dari membersihkan meja, mengambil pesanan, hingga meracik espresso dan menyajikan ke pelanggan.
“Anak-anak dengan spektrum autisme tertentu, ada yang sangat piawai secara kognitif. Mereka bisa meracik kopi, menuang susu, hingga menakar gula aren. Kita harus bisa memahami sehingga mereka dapat memaksimalkan kemampuanya ketika ditempatkan pada posisi yang sesuai,” jelas Frans.
Kini, lebih dari 45 anak berkebutuhan khusus telah dilatih. Dengan pendekatan semi privat dan sesi yang berulang, pelatihan ini melibatkan lebih dari 20 relawan dan pelatih. Para barista muda tersebut ada yang melanjutkan bekerja di Treestori, tetapi tidak sedikit pula yang memulai bisnis kopi rumahan.
Selain melatih di Treestori Coffee, Frans juga melatih barista disabilitas ini di gerai kopi lainnya. Bahkan diakui olehnya bahwa kedai kopi tersebut mengalami peningkatan omzet hingga berkali lipat dengan keputusannya dalam memberdayakan disabilitas.
Kini, kedai-kedai kecil hingga coffee shop besar mulai terbuka terhadap para penyandang disabilitas. Frans berharap semangat ini menular. “Kami memulai dari nol, khususnya untuk disabilitas intelektual dan developmental. Semoga makin banyak yang ikut,” katanya.
Baca juga: Dubai Jadi Kota Pertama di Kawasan Timur yang Raih Sertifikasi Destinasi Autisme
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tantangan utama bagi penyandang autisme ini bukan hanya mengenai terapi dan pendidikan tetapi juga akses terhadap pekerjaan yang layak terutama setelah memasuki usia produktif.
Memang, sudah cukup banyak perusahaan atau pelaku usaha yang memberdayakan kelompok disabilitas fisik, tetapi masih sedikit ruang yang benar-benar inklusif bagi penyandang disabilitas intelektual seperti autisme untuk bisa berkembang di dunia kerja. Banyak perusahaan yang belum siap, baik dari sisi infrastruktur maupun mindset, dalam menerima pekerja dari kelompok ini.
Keresahan ini pula yang dirasakan oleh Christiana Henrietta terhadap masa depan adiknya, Jean, yang merupakan penyandang tunagrahita. Setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, Christina merasa jalan Jane terasa buntu. “Dimasukkan kuliah enggak mungkin. Keterampilan juga buat apa kalau tidak diberdayakan? Kami ingin dia bisa mandiri,” ujar Christina.
Baca juga: Mengupayakan Dunia Kerja yang Lebih Inklusif, Autisme Tak Jadi Hambatan
Dari obrolan santai bersama teman-temanya, dia pun memutuskan membangun bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga bermakna sosial.
Berkat kecintaan bersama terhadap kopi, Christina bersama kedua temannya Thao Ziang dan Adriana Affanda Timur memutuskan untuk mendirikan Treestori Coffee, gerai kopi yang lebih dari 80 persen pekerjanya adalah penyandang disabilitas. Kini, mereka memberdayakan lebih dari 40 anak dengan berbagai kebutuhan khusus mulai dari autisme, down syndrome, ADHD, hingga tunagrahita.
Akan tetapi, membimbing mereka bukan perkara mudah. “Tantangan utamanya bukan hanya mengajarkan mereka, tapi juga mengedukasi masyarakat,” jelas Thao Ziang.
Sebab, banyak masyarakat yang masih menganggap disabilitas hanya dengan keterbatasan fisik. Padahal, mayoritas yang bekerja di Treestori mengalami disabilitas intelektual yang secara fisik tampak “normal,” tapi membutuhkan pendekatan khusus dalam pelatihan.
“Anak-anak ini butuh waktu lebih lama, jadi kami beri pengertian sejak awal ke pelanggan,” katanya. Karena itulah, edukasi menjadi bagian dari pelayanan. Namun Treestori tidak ingin dipandang sebagai “tempat kasihan".
Mereka membuktikan bahwa bisnis bisa berjalan beriringan dengan misi sosial asal dikelola secara profesional. Mereka menyiapkan pelatihan, SOP, hingga modul pembelajaran bagi anak-anak agar dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan ritme dan kemampuan mereka.
Untuk melatih para pekerja autism tersebut, Treestori Coffee menggandeng seorang head trainer sekaligus advisor kopi yang berfokus pada anak-anak disabilitas Frans Satriawan.
Diakui olehnya bahwa dalam mendidik anak-anak yang memiliki kekhususan ini, tantangannya cukup berlapis mulai dari kemampuan motorik, komunikasi, kognitif, hingga keterampilan sosial.
Menurut Frans, setiap anak dengan autisme memiliki spektrum yang berbeda, ada yang memiliki tantangan komunikasi, keterbatasan motorik, hingga kesulitan dalam berinteraksi sosial. Akan tetapi, bukan berarti mereka tidak bisa bekerja. Justru dibalik semua kekurangannya, terdapat kelebihan yang tidak dimiliki semua orang, terutama dalam hal presisi dan konsistensi.
"Anak-anak ini sangat fokus dan tidak bosan mengerjakan hal yang berulang. Mereka juga jujur, dan ngga neko-neko. Kalau sudah hafal, mereka bisa takar kopi sampai ke desimalnya dengan tepat. Mereka juga punya semangat tinggi, nggak gampang capek,” ujarnya.
Dalam pelatihan barista Treestori Coffee, setiap anak dikenalkan berbagai tahapan kerja di coffee shop. Mulai dari membersihkan meja, mengambil pesanan, hingga meracik espresso dan menyajikan ke pelanggan.
“Anak-anak dengan spektrum autisme tertentu, ada yang sangat piawai secara kognitif. Mereka bisa meracik kopi, menuang susu, hingga menakar gula aren. Kita harus bisa memahami sehingga mereka dapat memaksimalkan kemampuanya ketika ditempatkan pada posisi yang sesuai,” jelas Frans.
Kini, lebih dari 45 anak berkebutuhan khusus telah dilatih. Dengan pendekatan semi privat dan sesi yang berulang, pelatihan ini melibatkan lebih dari 20 relawan dan pelatih. Para barista muda tersebut ada yang melanjutkan bekerja di Treestori, tetapi tidak sedikit pula yang memulai bisnis kopi rumahan.
Selain melatih di Treestori Coffee, Frans juga melatih barista disabilitas ini di gerai kopi lainnya. Bahkan diakui olehnya bahwa kedai kopi tersebut mengalami peningkatan omzet hingga berkali lipat dengan keputusannya dalam memberdayakan disabilitas.
Kini, kedai-kedai kecil hingga coffee shop besar mulai terbuka terhadap para penyandang disabilitas. Frans berharap semangat ini menular. “Kami memulai dari nol, khususnya untuk disabilitas intelektual dan developmental. Semoga makin banyak yang ikut,” katanya.
Baca juga: Dubai Jadi Kota Pertama di Kawasan Timur yang Raih Sertifikasi Destinasi Autisme
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.