Kolesterol Mulai Menyerang Generasi Muda, Waspadai Penyakit Jantung dan Stroke
27 May 2025 |
18:45 WIB
Gaya hidup masyarakat urban yang serba praktis membawa konsekuensi tersendiri bagi kesehatan, salah satunya terkait kolesterol. Bahkan kolesterol yang dulu identik dengan orang bertubuh gemuk dan berusia lanjut, kini juga mulai menyerang generasi muda dan mereka yang bertubuh ideal.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dislipidemia atau ketidakseimbangan kadar lipid (kolesterol) lemak dalam darah makin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan remaja.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa prevalensi kolesterol total tinggi pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun mencapai 7,8 persen.
Angka ini menjadi alarm dini bahwa masalah kolesterol bukan lagi menyerang kelompok lansia. Risiko ini bahkan meningkat seiring bertambahnya usia, dan berpotensi berkembang menjadi penyakit kardiovaskular serius.
Baca juga: 6 Cara Alami Menurunkan Kolesterol Tanpa Obat, Bikin Lebih Sehat
Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kemenkes tahun 2018, prevalensi penyakit jantung di Indonesia mencapai 1,5 persen pada penduduk semua usia. Hal tersebut berarti bahwa di antara 100 orang penduduk semua usia, sebanyak 1,5-nya menderita penyakit jantung.
Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia berdasarkan estimasi jumlah pada jenis kelamin, yakni sekitar 352.618 orang laki-laki dan 442.674 pada perempuan. Berdasarkan usia, prevalensi tertinggi yaitu pada populasi usia 65—74 tahun (3,6 persen) yang berarti bahwa di antara 100 orang, sebanyak 3,6-nya menderita PJK.
Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Siloam Hospitals Lippo Village menjelaskan dislipidemia sebagai sebuah kondisi medis ketika kadar lemak dalam darah termasuk kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida tidak berada dalam batas normal.
Kelebihan LDL dan trigliserida atau kekurangan HDL dapat menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah, yang lama-kelamaan memicu penyumbatan aliran darah ke jantung dan otak.
“Dislipidemia adalah pemicu utama dari penyakit jantung koroner dan strok. Ini sering kali tak bergejala, sehingga disebut sebagai ‘silent threat’. Banyak pasien yang baru menyadari ketika sudah terkena komplikasi serius,” ujarnya dalam Kalbe Academia for Media.
Menurut dr. Nico, pola hidup sedentari seperti terlalu banyak duduk di depan komputer, jarang bergerak, dan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh menjadi penyebab utama meningkatnya kadar kolesterol jahat dalam tubuh.
"Bahkan anak muda pun sudah banyak yang mengalami ini. Apalagi jika ditambah dengan kebiasaan merokok, stres berlebih, kurang tidur, dan melewatkan sarapan," tambahnya.
Dia menekankan bahwa pencegahan bisa dilakukan sejak dini dengan menerapkan gaya hidup sehat, termasuk rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, menghindari makanan olahan tinggi lemak, dan berhenti merokok. Untuk mereka yang berisiko tinggi, pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala sangat dianjurkan.
“Dalam beberapa kasus, terapi obat seperti statin memang diperlukan. Obat juga tidak bisa dipilih sembarangan. Setiap orang memiliki target penurunan kolesterol berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, dan kadar kolesterol awal,” jelasnya.
Dia juga membantah mitos bahwa orang kurus pasti aman dari kolesterol tinggi. Tidak sedikit pasien dengan tubuh ideal dan rajin olahraga, yang memiliki LDL tinggi. Faktor genetik, metabolisme tubuh, dan pola makan memiliki peran besar dalam hal tersebut.
Group Marketing Head PT Kalbe Farma Tbk, apt. Maria Stefanie mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kolesterol, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan penyakit jantung, kebiasaan merokok, atau pola makan tinggi lemak.
“Kami ingin mendorong masyarakat untuk lebih mengenal kondisi kesehatannya, agar tidak menunggu gejala muncul baru bertindak. Kolesterol tinggi bisa dicegah dan dikendalikan jika terdeteksi sejak awal,” ujarnya.
Skrining sebaiknya dilakukan mulai usia 20 tahun dan dapat diulang secara berkala tergantung hasil pemeriksaan dan gaya hidup masing-masing.
Baca juga: Catat, Segini Kadar Kolesterol Normal Pria dan Wanita Berdasarkan Usia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dislipidemia atau ketidakseimbangan kadar lipid (kolesterol) lemak dalam darah makin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan remaja.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa prevalensi kolesterol total tinggi pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun mencapai 7,8 persen.
Angka ini menjadi alarm dini bahwa masalah kolesterol bukan lagi menyerang kelompok lansia. Risiko ini bahkan meningkat seiring bertambahnya usia, dan berpotensi berkembang menjadi penyakit kardiovaskular serius.
Baca juga: 6 Cara Alami Menurunkan Kolesterol Tanpa Obat, Bikin Lebih Sehat
Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kemenkes tahun 2018, prevalensi penyakit jantung di Indonesia mencapai 1,5 persen pada penduduk semua usia. Hal tersebut berarti bahwa di antara 100 orang penduduk semua usia, sebanyak 1,5-nya menderita penyakit jantung.
Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia berdasarkan estimasi jumlah pada jenis kelamin, yakni sekitar 352.618 orang laki-laki dan 442.674 pada perempuan. Berdasarkan usia, prevalensi tertinggi yaitu pada populasi usia 65—74 tahun (3,6 persen) yang berarti bahwa di antara 100 orang, sebanyak 3,6-nya menderita PJK.
Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Siloam Hospitals Lippo Village menjelaskan dislipidemia sebagai sebuah kondisi medis ketika kadar lemak dalam darah termasuk kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida tidak berada dalam batas normal.
Kelebihan LDL dan trigliserida atau kekurangan HDL dapat menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah, yang lama-kelamaan memicu penyumbatan aliran darah ke jantung dan otak.
“Dislipidemia adalah pemicu utama dari penyakit jantung koroner dan strok. Ini sering kali tak bergejala, sehingga disebut sebagai ‘silent threat’. Banyak pasien yang baru menyadari ketika sudah terkena komplikasi serius,” ujarnya dalam Kalbe Academia for Media.
Menurut dr. Nico, pola hidup sedentari seperti terlalu banyak duduk di depan komputer, jarang bergerak, dan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh menjadi penyebab utama meningkatnya kadar kolesterol jahat dalam tubuh.
"Bahkan anak muda pun sudah banyak yang mengalami ini. Apalagi jika ditambah dengan kebiasaan merokok, stres berlebih, kurang tidur, dan melewatkan sarapan," tambahnya.
Dia menekankan bahwa pencegahan bisa dilakukan sejak dini dengan menerapkan gaya hidup sehat, termasuk rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, menghindari makanan olahan tinggi lemak, dan berhenti merokok. Untuk mereka yang berisiko tinggi, pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala sangat dianjurkan.
“Dalam beberapa kasus, terapi obat seperti statin memang diperlukan. Obat juga tidak bisa dipilih sembarangan. Setiap orang memiliki target penurunan kolesterol berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, dan kadar kolesterol awal,” jelasnya.
Dia juga membantah mitos bahwa orang kurus pasti aman dari kolesterol tinggi. Tidak sedikit pasien dengan tubuh ideal dan rajin olahraga, yang memiliki LDL tinggi. Faktor genetik, metabolisme tubuh, dan pola makan memiliki peran besar dalam hal tersebut.
Group Marketing Head PT Kalbe Farma Tbk, apt. Maria Stefanie mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kolesterol, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan penyakit jantung, kebiasaan merokok, atau pola makan tinggi lemak.
“Kami ingin mendorong masyarakat untuk lebih mengenal kondisi kesehatannya, agar tidak menunggu gejala muncul baru bertindak. Kolesterol tinggi bisa dicegah dan dikendalikan jika terdeteksi sejak awal,” ujarnya.
Skrining sebaiknya dilakukan mulai usia 20 tahun dan dapat diulang secara berkala tergantung hasil pemeriksaan dan gaya hidup masing-masing.
Baca juga: Catat, Segini Kadar Kolesterol Normal Pria dan Wanita Berdasarkan Usia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.